Senin, 1 Desember 2025
spot_img

KPAI: Tidak Mungkin PJJ Sampai Lulus

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta agar pemerintah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Menurutnya, berbagai masalah seharusnya sudah dapat teratasi, sebab PJJ telah berjalan lebih dari 10 bulan.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti menuturkan, pemerintah seharusnya memiliki alternatif lain selain PJJ. Sebab, tidak mungkin para pelajar terus menjalankan PJJ sampai mereka lulus sekolah.

Sebenarnya kalau sudah 10 bulan lebih, kita sudah berpikir bagaimana mengatasi permasalahan ini. Kan tidak melulu bahwa pembelajaran ini terus PJJ sampai lulus, sampai berapa tahun kita memberikan PJJ ini,” kata dia dalam siaran YouTube Pendidikan VOX Point, Senin (4/1).

Baca Juga:  GP Ansor Rohil Tunda Dua Agenda Besar

Menurut Retno, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus lebih serius untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM). “Kami minta ada pemetaan daerah, ada berapa sekolah yang siap, mana yang tidak siap,” ucapnya.

Hingga saat ini pemerintah masih belum mempublikasikan jumlah sekolah di daerah mana saja yang sudah siap PTM. Padahal, menurut Retno, pemetaan ini salah satu indikator penting dalam pelaksanaan pembukaan sekolah.

Begitu pula dengan anggaran yang dikhususkan untuk menunjang PTM di sekolah untuk pengadaan prasarana protokol kesehatan. “Anggaran yang disiapkan tentu harusnya tidak kecil dalam menyiapkan infrastruktur dan protokol kesehatan. Jangan juga kemudian masih memanfaatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS),” tandas dia.

Baca Juga:  Di Jogja, Angka Pernikahan Dini Tinggi, Akibat Kehamilan di Luar Nikah

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: E Sulaiman

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta agar pemerintah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Menurutnya, berbagai masalah seharusnya sudah dapat teratasi, sebab PJJ telah berjalan lebih dari 10 bulan.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti menuturkan, pemerintah seharusnya memiliki alternatif lain selain PJJ. Sebab, tidak mungkin para pelajar terus menjalankan PJJ sampai mereka lulus sekolah.

Sebenarnya kalau sudah 10 bulan lebih, kita sudah berpikir bagaimana mengatasi permasalahan ini. Kan tidak melulu bahwa pembelajaran ini terus PJJ sampai lulus, sampai berapa tahun kita memberikan PJJ ini,” kata dia dalam siaran YouTube Pendidikan VOX Point, Senin (4/1).

Baca Juga:  Ini yang Harus Dilakukan Perguruan Tinggi Dalam Era New Normal

Menurut Retno, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus lebih serius untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM). “Kami minta ada pemetaan daerah, ada berapa sekolah yang siap, mana yang tidak siap,” ucapnya.

Hingga saat ini pemerintah masih belum mempublikasikan jumlah sekolah di daerah mana saja yang sudah siap PTM. Padahal, menurut Retno, pemetaan ini salah satu indikator penting dalam pelaksanaan pembukaan sekolah.

- Advertisement -

Begitu pula dengan anggaran yang dikhususkan untuk menunjang PTM di sekolah untuk pengadaan prasarana protokol kesehatan. “Anggaran yang disiapkan tentu harusnya tidak kecil dalam menyiapkan infrastruktur dan protokol kesehatan. Jangan juga kemudian masih memanfaatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS),” tandas dia.

Baca Juga:  Dispar Beberkan Agenda Budaya Kuansing 2022

 

- Advertisement -

Sumber: Jawapos.com

Editor: E Sulaiman

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta agar pemerintah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Menurutnya, berbagai masalah seharusnya sudah dapat teratasi, sebab PJJ telah berjalan lebih dari 10 bulan.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti menuturkan, pemerintah seharusnya memiliki alternatif lain selain PJJ. Sebab, tidak mungkin para pelajar terus menjalankan PJJ sampai mereka lulus sekolah.

Sebenarnya kalau sudah 10 bulan lebih, kita sudah berpikir bagaimana mengatasi permasalahan ini. Kan tidak melulu bahwa pembelajaran ini terus PJJ sampai lulus, sampai berapa tahun kita memberikan PJJ ini,” kata dia dalam siaran YouTube Pendidikan VOX Point, Senin (4/1).

Baca Juga:  Pelaku Usaha Tak Sediakan Tong Sampah, Disanksi

Menurut Retno, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus lebih serius untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM). “Kami minta ada pemetaan daerah, ada berapa sekolah yang siap, mana yang tidak siap,” ucapnya.

Hingga saat ini pemerintah masih belum mempublikasikan jumlah sekolah di daerah mana saja yang sudah siap PTM. Padahal, menurut Retno, pemetaan ini salah satu indikator penting dalam pelaksanaan pembukaan sekolah.

Begitu pula dengan anggaran yang dikhususkan untuk menunjang PTM di sekolah untuk pengadaan prasarana protokol kesehatan. “Anggaran yang disiapkan tentu harusnya tidak kecil dalam menyiapkan infrastruktur dan protokol kesehatan. Jangan juga kemudian masih memanfaatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS),” tandas dia.

Baca Juga:  Dispar Beberkan Agenda Budaya Kuansing 2022

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: E Sulaiman

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari