Sabtu, 11 April 2026
- Advertisement -

Curigai Investor

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Pengamat perkotaan Mardianto Manan angkat bicara soal polemik pasar induk ini. Kepada Riau Pos ia mengatakan tentang adanya kecurigaan atau dugaan investor pembangunan pasar induk bodong.

“Dicurigai investor tersebut bodong atau bahasa sininya icak-icak. Dicurigai ya. Bukan menuduh. Maka dari itu pemerintah harus meninjau ulang. Jangan seperti pembangunan Kaca Mayang dulu. Investor dari luar negeri Singapura ternyata bodong,” ungkap Mardianto, Senin (24/2).

Ia menjelaskan, investor seharusnya sudah berpikir tentang pembangunan pasar induk secepatnya karena masa kontrak yang teramat panjang. Sampai 30 tahun.

“Masa sampai sekarang tak selesai. Misal dari amdal yang di dalamnya ada drainase, lintasan jalan, rekayasa lalu lintas, parkir, tinja, pintu masuk, pintu keluar dan lainnya. Artinya nafsu besar tapi tenaga kurang,” ujarnya.

Baca Juga:  PSMTI Riau Vaksinasi Anak di MP

Menurutnya, ketika diberi pendelegasian atau wewenang oleh pemko untuk mengerjakan pasar induk, investor tak sanggup mengerjakan. Ia memberi contoh drainase yang diminta oleh warga sekitar tak bisa dibangun investor. Belum lagi masalah pembuangan limbah di mana lokasi pasar induk dikepung perumahan warga.

“Dengan demikian kita jadi ragu-ragu. Ini investasi atau barang yang sudah basi? Rasanya kalau dia investor yang serius apalagi mengeluarkan biaya yang begitu banyak, masa kontrak sekian puluh tahun dibiarkan terbengkalai,” ucap Mardianto.

Ia berharap investor pasar induk benar-benar perusahaan yang profesional. “Sebab investor yang menanamkan pasti orang berinvestasi. Kebetulan bidangnya pasar induk. Itu BOT (building operate transfer) dalam waktu 30 tahun. Ketika sudah masuk ke tahun 31 diserahkan kepada pemerintah atau ditransfer,” sebutnya.

Baca Juga:  Petugas Gelar Patroli dan Hunting

Dia menilai, lokasi pembangunan pasar induk cenderung datar. Tak ada naik turun bukit.

“Jika flat begitu dan terjadi hujan, maka akan tergenang. Bisa mengganggu pada pasar. Apalagi jika pasar menimbun. Di saat itulah limbah mengalir ke perumahan sekitar. Maka dari itu masyarakat demo karena gamang,” ungkapnya.

Ia menyarankan agar pemko harus memanggil ulang investor untuk mencari kepastian. “You siap atau tidak?” katanya.(s)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Pengamat perkotaan Mardianto Manan angkat bicara soal polemik pasar induk ini. Kepada Riau Pos ia mengatakan tentang adanya kecurigaan atau dugaan investor pembangunan pasar induk bodong.

“Dicurigai investor tersebut bodong atau bahasa sininya icak-icak. Dicurigai ya. Bukan menuduh. Maka dari itu pemerintah harus meninjau ulang. Jangan seperti pembangunan Kaca Mayang dulu. Investor dari luar negeri Singapura ternyata bodong,” ungkap Mardianto, Senin (24/2).

Ia menjelaskan, investor seharusnya sudah berpikir tentang pembangunan pasar induk secepatnya karena masa kontrak yang teramat panjang. Sampai 30 tahun.

“Masa sampai sekarang tak selesai. Misal dari amdal yang di dalamnya ada drainase, lintasan jalan, rekayasa lalu lintas, parkir, tinja, pintu masuk, pintu keluar dan lainnya. Artinya nafsu besar tapi tenaga kurang,” ujarnya.

Baca Juga:  M Job Ditunjuk Jadi Ketua Pansel Calon Dirut BRK Syariah

Menurutnya, ketika diberi pendelegasian atau wewenang oleh pemko untuk mengerjakan pasar induk, investor tak sanggup mengerjakan. Ia memberi contoh drainase yang diminta oleh warga sekitar tak bisa dibangun investor. Belum lagi masalah pembuangan limbah di mana lokasi pasar induk dikepung perumahan warga.

- Advertisement -

“Dengan demikian kita jadi ragu-ragu. Ini investasi atau barang yang sudah basi? Rasanya kalau dia investor yang serius apalagi mengeluarkan biaya yang begitu banyak, masa kontrak sekian puluh tahun dibiarkan terbengkalai,” ucap Mardianto.

Ia berharap investor pasar induk benar-benar perusahaan yang profesional. “Sebab investor yang menanamkan pasti orang berinvestasi. Kebetulan bidangnya pasar induk. Itu BOT (building operate transfer) dalam waktu 30 tahun. Ketika sudah masuk ke tahun 31 diserahkan kepada pemerintah atau ditransfer,” sebutnya.

- Advertisement -
Baca Juga:  Dua Tahun Reog Singo Mbalelo, Berbagi Bersama Anak Yatim

Dia menilai, lokasi pembangunan pasar induk cenderung datar. Tak ada naik turun bukit.

“Jika flat begitu dan terjadi hujan, maka akan tergenang. Bisa mengganggu pada pasar. Apalagi jika pasar menimbun. Di saat itulah limbah mengalir ke perumahan sekitar. Maka dari itu masyarakat demo karena gamang,” ungkapnya.

Ia menyarankan agar pemko harus memanggil ulang investor untuk mencari kepastian. “You siap atau tidak?” katanya.(s)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Karbit Kelepus

Bona Malwal (2)

Pasangan Manipulatif

Ditabrak dari Belakang

Tinggal Lengkuas

Tetap Ingin Bercerai

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Pengamat perkotaan Mardianto Manan angkat bicara soal polemik pasar induk ini. Kepada Riau Pos ia mengatakan tentang adanya kecurigaan atau dugaan investor pembangunan pasar induk bodong.

“Dicurigai investor tersebut bodong atau bahasa sininya icak-icak. Dicurigai ya. Bukan menuduh. Maka dari itu pemerintah harus meninjau ulang. Jangan seperti pembangunan Kaca Mayang dulu. Investor dari luar negeri Singapura ternyata bodong,” ungkap Mardianto, Senin (24/2).

Ia menjelaskan, investor seharusnya sudah berpikir tentang pembangunan pasar induk secepatnya karena masa kontrak yang teramat panjang. Sampai 30 tahun.

“Masa sampai sekarang tak selesai. Misal dari amdal yang di dalamnya ada drainase, lintasan jalan, rekayasa lalu lintas, parkir, tinja, pintu masuk, pintu keluar dan lainnya. Artinya nafsu besar tapi tenaga kurang,” ujarnya.

Baca Juga:  Dua Tahun Reog Singo Mbalelo, Berbagi Bersama Anak Yatim

Menurutnya, ketika diberi pendelegasian atau wewenang oleh pemko untuk mengerjakan pasar induk, investor tak sanggup mengerjakan. Ia memberi contoh drainase yang diminta oleh warga sekitar tak bisa dibangun investor. Belum lagi masalah pembuangan limbah di mana lokasi pasar induk dikepung perumahan warga.

“Dengan demikian kita jadi ragu-ragu. Ini investasi atau barang yang sudah basi? Rasanya kalau dia investor yang serius apalagi mengeluarkan biaya yang begitu banyak, masa kontrak sekian puluh tahun dibiarkan terbengkalai,” ucap Mardianto.

Ia berharap investor pasar induk benar-benar perusahaan yang profesional. “Sebab investor yang menanamkan pasti orang berinvestasi. Kebetulan bidangnya pasar induk. Itu BOT (building operate transfer) dalam waktu 30 tahun. Ketika sudah masuk ke tahun 31 diserahkan kepada pemerintah atau ditransfer,” sebutnya.

Baca Juga:  Sepekan, Penambahan Kasus Covid-19 Nihil

Dia menilai, lokasi pembangunan pasar induk cenderung datar. Tak ada naik turun bukit.

“Jika flat begitu dan terjadi hujan, maka akan tergenang. Bisa mengganggu pada pasar. Apalagi jika pasar menimbun. Di saat itulah limbah mengalir ke perumahan sekitar. Maka dari itu masyarakat demo karena gamang,” ungkapnya.

Ia menyarankan agar pemko harus memanggil ulang investor untuk mencari kepastian. “You siap atau tidak?” katanya.(s)

Terbaru

Terpopuler

Karbit Kelepus

Bona Malwal (2)

Pasangan Manipulatif

Ditabrak dari Belakang

Tinggal Lengkuas

Tetap Ingin Bercerai

Trending Tags

Rubrik dicari