Rabu, 19 Juni 2024

Upaya Menyelamatkan Kota dari Pencemaran Air

Kota Pekanbaru menjadi pilot project pembangunan Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik-Terpadu (SPALD-T). Menggunakan dana APBN, proyek ini dinamakan Metropolitan Sanitation Management Investment Project (MSMIP).

(RIAUPOS.CO) – PENCAPAIAN terbesar Romawi kuno bukan keajaiban bangunannya, bukan raihan kemenangan dalam perang, bukan panjang jalannya. Tapi pencapaian terbesar Romawai menurut sejumlah sejarawan adalah sanitasi dan penyediaan air bersihnya. Ketersediaan air bersih yang menjadi kebutuhan dasar sebuah peradaban menjadi masalah utama sejumlah kota besar, termasuk di Indonesia. Sebuah peradaban tidak akan tumbuh besar dan bertahan tanpa air bersih dan sanitasi yang baik.

- Advertisement -

Lawan utama tersedianya air bersih ini adalah buruknya sanitasi sebuah pemukiman padat seperti di perkotaan.  Masalahnya selalu umum, air tanah tercemar oleh berbagai limbah. Mulai dari rembesan kotoran dari septic tank hingga sisa-sisa air cuci piring, atau biasa disebut air limbah domestik, yang langsung dibuang ke selokan. Kondisi ini menjadi bom waktu bagi Kota seperti Pekanbaru yang kini sudah berpenduduk 1,1 juta jiwa.

Maka beberapa tahun silam, Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru mengusulkan pembangunan SPALD-T (Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik-Terpadu). Karena sudah bisa dipastikan, pencemaran air tanah erat kaitannya dengan air limbah domestik. Tidak hanya air permukaan seperti parit dan sungai, tapi juga air tanah. Di kawasan padat penduduk perkotaan, 70 persen air tanahnya sudah  tercemar berat bakteri tinja yang berasal dari septic tank.

Hal ini menimbulkan berbagai penyakit yang sadar tidak sadar sudah dialami warga kota bertahun-tahun terakhir ini. Seperti penyakit diare hingga kematian karena meminum air yang sudah terkontaminasi bakteri. SPAD-T ini merupakan proyek ambisius Pemko Pekanbaru yang membonceng anggaran dari APBN. Proyek ini bernama Metropolitan Sanitation Management Investment Project (MSMIP).

- Advertisement -

MSMIP yang pada akhirnya mengerjakan SPALD-T, akan mengantarkan Pekanbaru sejajar dengan pengelolaan sanitasi kota metropolitan dunia lainnya seperti London, New York dan bahkan Roma. Namun Pekanbaru tertinggal berabad-abad, terutama dari Kota Roma yang sudah membangun sitem sanitasinya bahkan sebelum penanggalan masehi dimulai.

SPALD-T ini akan bermuara pada satu  Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang kini sedang dibangun di Kelurahan Bambu Kuning, kawasan Tenayan Raya. Sebagai perbandingan, Kota New York, Amerika Serikat yang dihuni 8,8 juta jiwa memiliki 17 IPAL. Pekanbaru, baru akan mulai dibangun, dan direncakan baru akan beroperasi pada Januari 2023 mendatang.

Baca Juga:  RSUD Arifin Achmad Pastikan Layanan Pasien Kanker Berlaku Sama

Bila proyek ini selesai, maka drainase dan parit-parit di wilayah Kota Pekanbaru secara bertahap akan bersih. Tidak akan ditemukan lagi septic tank penuh atau meledak, hingga aktivitas penyedotan tinja akan jarang ditemui. Secara perlahan, air permukaan dan air tanah kembali bersih dari kontaminasi berbagai limbah yang sudah berpuluh tahun menggerogoti Kota Pekanbaru.

Pembangunan yang saat ini sedang perjalan, fokus pada beberapa kecamatan padat penduduk. Proyek ratusan miliar ini dibagi pada empat kegiatan. Pertama, Pembangunan Pipa Limbah Area Selatan atau disebut SC-1, yang meliputi Kecamatan Sukajadi. Wilayah kerjanya, seperti banyak dikeluhkan warga akhir-akhir ini, meliputi Jalan Mangga untuk pekerjaan open trench dan pengeboran di Jalan Durian, Dagang, Nanas dan Jalan Ababil.

Kegiatan di seluruh SC-1 dikerjakan perusahaan BUMN PT WIKA. Seperti dilaporkan Satker Pelaksanaan Prasarana Permukiman Provinsi Riau, kegiatan SC-1 ini sudah hampir selesai. Progresnya sudah mencapai 90 persen. Sejumlah bekas proyek penggalian juga sudah ditutup hingga hanya menyisakan pintu manhole.

Lalu kegiatan SC-2 di Kecamatan Pekanbaru Kota dan Kecamatan Sukajadi yang dikerjakan perusahaan BUMN lainnya, PT Hutama Karya. Wilayah kerja satu ini termasuk Jalan Cempaka, Jalan Lily 3, Jalan Rajawali, Jalan Ahmad Yani dan Jalan Cik Ditiro untuk pengerjaan tipe Open trench.

Lalu di Jalan Melur dan Jalan Cempaka dengan tipe pengerjaan Pipa Jacking, pengeboran di Jalan Ahmad Yani, Jalan Teratai dan Jalan Rajawali. Proyek pertama SC-2 ini dikerjakan mulai 20 September lalu dan diperkirakan pengerjaan proyek terakhir akan selesai pada tanggal 13 November 2021. Sesi ini pengerjaannya diklaim sudah mencapai sekitar 83 persen.

Kemudian kegiatan ketiga adalah Pekanbaru Sewerage and Transfer System Package atau disingkat NC. Proyek ini akan dikerjakan di wilayah Kecamatan Limapuluh dan Kecamatan Senapelan. Pembangunan pada kegiatan satu ini fokus pada pekerjaan jalur pipa dan juga stasiun pemompa limbah dengan teknik open trench, Bor dan juga jacking. Panjang pipa yang akan disambungkan pada kegiatan sesi ini mencapai 12.451 meter.

Baca Juga:  Gepeng Masih Berkeliaran

Wilayah kerja NC ini termasuk Jalan Sumber Sari, Jalan Juanda, Sudirman dan Tanjung Datuk. Lalu Jalan Melur, Seroja, Melati, Kenangan, M Yamin, Teratai, Alimudinsyah, Bangka, Leimena, Samratulani dan juga Jalan Ahmad Yani. Kegiatan dimulai mulai 27 September untuk Jalan  Ahmad Yani dan diperkirakan baru selesai pada 26 Novemer dengan pengerjaan paling akhir di Jalan Tanjung Datuk.

Kegiatan terakhir dari proyek ini adalah Pekanbaru Waste Water Tretment Plant (WWTP) atau IPAL. Kegiatan IPAL dengan kode B1 dalam pengerjaannya ini akan menggunakan teknologi Fixed Bed Biofilm Activated Sludge (FBAS). Sistem pengumpulan limbahnya, dari rumah ke rumah, mengandalkan gaya gravitasi yang akan menyalurkan limbah menuju rumah pompa dan selanjutnya dipompa menuju lokasi IPAL.

Pembangunan fisik fasilitas IPAL ini ditargetkan selesai pada awal Agustus 2022 dan mulai akan diujicoba pada akhir bulan tersebut dengan target oeprasional penuh mulai Januari 2023. Lokasinya berada di Kelurahan Bambu Kuning, Kecamatan Tenayan Raya.

Ketua Satker Pelaksanaan Prasarana Permukiman Provinsi Riau Yenni Muliadi menyebutkan, proyek tahun jamak tersebut merupakan proyek untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat metropolitan Pekanbaru. Fasilitas tersebut akan membuat Pekanbaru naik kelas pada bidang pengelolaan limbah dan pengaturan sanitasi yang akan lebih ramah lingkungan. Pada akhirnya, warga Kota akan menikmati hidup yang lebih sehat.

"Oleh karena itu, kami mohon dukungan dan masukan positif dari masyarakat, media dan stakeholder terkait lainnya untuk kelancaran dan kesuksesan pelaksanaannya. Ini agar pekerja ini dapat berjalan dengan baik, memenuhi target, selesai tepat waktu dan tepat mutu serta tepat sasaran,’’ ungkap Yenni saat menggelar pertemuan bersama sejumlah awal media di Pekanbaru pada Sabtu (26/9).

Yenni berharap, SPALD-T dengan satu IPAL ini dapat tersambung ke 10 ribu rumah di Kota Pekanbaru. Tahap awal ini, karena SPALD-T ini mengandalkan pengalirannya lewat gaya gravitasi, maka dirinya berherap minimal tersambung untuk 3 ribu rumah. Bila kurang dari jumlah itu, alirannya tidak efektif. "Saluran ini hanya menggunakan satu pompa, itu pada kegiatan NC. Ini merupakan pemikiran jangka panjang. Dengan minimnya pompa, mengandalkan gravitasi, maka biaya operasinyapun jauh lebih murah.***

Laporan HENDRAWAN KARIMAN, PEKANBARU

 

Kota Pekanbaru menjadi pilot project pembangunan Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik-Terpadu (SPALD-T). Menggunakan dana APBN, proyek ini dinamakan Metropolitan Sanitation Management Investment Project (MSMIP).

(RIAUPOS.CO) – PENCAPAIAN terbesar Romawi kuno bukan keajaiban bangunannya, bukan raihan kemenangan dalam perang, bukan panjang jalannya. Tapi pencapaian terbesar Romawai menurut sejumlah sejarawan adalah sanitasi dan penyediaan air bersihnya. Ketersediaan air bersih yang menjadi kebutuhan dasar sebuah peradaban menjadi masalah utama sejumlah kota besar, termasuk di Indonesia. Sebuah peradaban tidak akan tumbuh besar dan bertahan tanpa air bersih dan sanitasi yang baik.

Lawan utama tersedianya air bersih ini adalah buruknya sanitasi sebuah pemukiman padat seperti di perkotaan.  Masalahnya selalu umum, air tanah tercemar oleh berbagai limbah. Mulai dari rembesan kotoran dari septic tank hingga sisa-sisa air cuci piring, atau biasa disebut air limbah domestik, yang langsung dibuang ke selokan. Kondisi ini menjadi bom waktu bagi Kota seperti Pekanbaru yang kini sudah berpenduduk 1,1 juta jiwa.

Maka beberapa tahun silam, Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru mengusulkan pembangunan SPALD-T (Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik-Terpadu). Karena sudah bisa dipastikan, pencemaran air tanah erat kaitannya dengan air limbah domestik. Tidak hanya air permukaan seperti parit dan sungai, tapi juga air tanah. Di kawasan padat penduduk perkotaan, 70 persen air tanahnya sudah  tercemar berat bakteri tinja yang berasal dari septic tank.

Hal ini menimbulkan berbagai penyakit yang sadar tidak sadar sudah dialami warga kota bertahun-tahun terakhir ini. Seperti penyakit diare hingga kematian karena meminum air yang sudah terkontaminasi bakteri. SPAD-T ini merupakan proyek ambisius Pemko Pekanbaru yang membonceng anggaran dari APBN. Proyek ini bernama Metropolitan Sanitation Management Investment Project (MSMIP).

MSMIP yang pada akhirnya mengerjakan SPALD-T, akan mengantarkan Pekanbaru sejajar dengan pengelolaan sanitasi kota metropolitan dunia lainnya seperti London, New York dan bahkan Roma. Namun Pekanbaru tertinggal berabad-abad, terutama dari Kota Roma yang sudah membangun sitem sanitasinya bahkan sebelum penanggalan masehi dimulai.

SPALD-T ini akan bermuara pada satu  Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang kini sedang dibangun di Kelurahan Bambu Kuning, kawasan Tenayan Raya. Sebagai perbandingan, Kota New York, Amerika Serikat yang dihuni 8,8 juta jiwa memiliki 17 IPAL. Pekanbaru, baru akan mulai dibangun, dan direncakan baru akan beroperasi pada Januari 2023 mendatang.

Baca Juga:  Agung Nugroho Kecewa kepada Pemko Pekanbaru

Bila proyek ini selesai, maka drainase dan parit-parit di wilayah Kota Pekanbaru secara bertahap akan bersih. Tidak akan ditemukan lagi septic tank penuh atau meledak, hingga aktivitas penyedotan tinja akan jarang ditemui. Secara perlahan, air permukaan dan air tanah kembali bersih dari kontaminasi berbagai limbah yang sudah berpuluh tahun menggerogoti Kota Pekanbaru.

Pembangunan yang saat ini sedang perjalan, fokus pada beberapa kecamatan padat penduduk. Proyek ratusan miliar ini dibagi pada empat kegiatan. Pertama, Pembangunan Pipa Limbah Area Selatan atau disebut SC-1, yang meliputi Kecamatan Sukajadi. Wilayah kerjanya, seperti banyak dikeluhkan warga akhir-akhir ini, meliputi Jalan Mangga untuk pekerjaan open trench dan pengeboran di Jalan Durian, Dagang, Nanas dan Jalan Ababil.

Kegiatan di seluruh SC-1 dikerjakan perusahaan BUMN PT WIKA. Seperti dilaporkan Satker Pelaksanaan Prasarana Permukiman Provinsi Riau, kegiatan SC-1 ini sudah hampir selesai. Progresnya sudah mencapai 90 persen. Sejumlah bekas proyek penggalian juga sudah ditutup hingga hanya menyisakan pintu manhole.

Lalu kegiatan SC-2 di Kecamatan Pekanbaru Kota dan Kecamatan Sukajadi yang dikerjakan perusahaan BUMN lainnya, PT Hutama Karya. Wilayah kerja satu ini termasuk Jalan Cempaka, Jalan Lily 3, Jalan Rajawali, Jalan Ahmad Yani dan Jalan Cik Ditiro untuk pengerjaan tipe Open trench.

Lalu di Jalan Melur dan Jalan Cempaka dengan tipe pengerjaan Pipa Jacking, pengeboran di Jalan Ahmad Yani, Jalan Teratai dan Jalan Rajawali. Proyek pertama SC-2 ini dikerjakan mulai 20 September lalu dan diperkirakan pengerjaan proyek terakhir akan selesai pada tanggal 13 November 2021. Sesi ini pengerjaannya diklaim sudah mencapai sekitar 83 persen.

Kemudian kegiatan ketiga adalah Pekanbaru Sewerage and Transfer System Package atau disingkat NC. Proyek ini akan dikerjakan di wilayah Kecamatan Limapuluh dan Kecamatan Senapelan. Pembangunan pada kegiatan satu ini fokus pada pekerjaan jalur pipa dan juga stasiun pemompa limbah dengan teknik open trench, Bor dan juga jacking. Panjang pipa yang akan disambungkan pada kegiatan sesi ini mencapai 12.451 meter.

Baca Juga:  RSUD Arifin Achmad Pastikan Layanan Pasien Kanker Berlaku Sama

Wilayah kerja NC ini termasuk Jalan Sumber Sari, Jalan Juanda, Sudirman dan Tanjung Datuk. Lalu Jalan Melur, Seroja, Melati, Kenangan, M Yamin, Teratai, Alimudinsyah, Bangka, Leimena, Samratulani dan juga Jalan Ahmad Yani. Kegiatan dimulai mulai 27 September untuk Jalan  Ahmad Yani dan diperkirakan baru selesai pada 26 Novemer dengan pengerjaan paling akhir di Jalan Tanjung Datuk.

Kegiatan terakhir dari proyek ini adalah Pekanbaru Waste Water Tretment Plant (WWTP) atau IPAL. Kegiatan IPAL dengan kode B1 dalam pengerjaannya ini akan menggunakan teknologi Fixed Bed Biofilm Activated Sludge (FBAS). Sistem pengumpulan limbahnya, dari rumah ke rumah, mengandalkan gaya gravitasi yang akan menyalurkan limbah menuju rumah pompa dan selanjutnya dipompa menuju lokasi IPAL.

Pembangunan fisik fasilitas IPAL ini ditargetkan selesai pada awal Agustus 2022 dan mulai akan diujicoba pada akhir bulan tersebut dengan target oeprasional penuh mulai Januari 2023. Lokasinya berada di Kelurahan Bambu Kuning, Kecamatan Tenayan Raya.

Ketua Satker Pelaksanaan Prasarana Permukiman Provinsi Riau Yenni Muliadi menyebutkan, proyek tahun jamak tersebut merupakan proyek untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat metropolitan Pekanbaru. Fasilitas tersebut akan membuat Pekanbaru naik kelas pada bidang pengelolaan limbah dan pengaturan sanitasi yang akan lebih ramah lingkungan. Pada akhirnya, warga Kota akan menikmati hidup yang lebih sehat.

"Oleh karena itu, kami mohon dukungan dan masukan positif dari masyarakat, media dan stakeholder terkait lainnya untuk kelancaran dan kesuksesan pelaksanaannya. Ini agar pekerja ini dapat berjalan dengan baik, memenuhi target, selesai tepat waktu dan tepat mutu serta tepat sasaran,’’ ungkap Yenni saat menggelar pertemuan bersama sejumlah awal media di Pekanbaru pada Sabtu (26/9).

Yenni berharap, SPALD-T dengan satu IPAL ini dapat tersambung ke 10 ribu rumah di Kota Pekanbaru. Tahap awal ini, karena SPALD-T ini mengandalkan pengalirannya lewat gaya gravitasi, maka dirinya berherap minimal tersambung untuk 3 ribu rumah. Bila kurang dari jumlah itu, alirannya tidak efektif. "Saluran ini hanya menggunakan satu pompa, itu pada kegiatan NC. Ini merupakan pemikiran jangka panjang. Dengan minimnya pompa, mengandalkan gravitasi, maka biaya operasinyapun jauh lebih murah.***

Laporan HENDRAWAN KARIMAN, PEKANBARU

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari