Selasa, 7 April 2026
- Advertisement -

Komunitas Arus Balik Nobar “The Bajau” Produksi Watchdoc

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Bertempat di Kedai Kopi Kopikirapa, Jalan Kundur pusat kota Pekanbaru, komunitas Arus Balik menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter The Bajau, Ahad (19/1/2020).

The Bajau diproduksi oleh Watchdoc berkolaborasi dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari dan AJI Gorontalo serta disutradarai oleh jurnalis senior Dandhy Dwi Laksono.

The Bajau berkisah tentang kehidupan masyarakat Suku Bajo di kepulauan Indonesia. Bercerita tentang dua keluarga suku Bajo yang dikenal sebagai pengelana laut yang pernah hidup nomaden selama berabad-abad di sekitar Laut Cina Selatan hingga Pasifik Selatan dan Selandia Baru.

Pemantik diskusi dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau, Fandi Rahman, mengatakan, sebenarnya nasib suku Bajo hampir mirip seperti suku-suku di Riau. Menurutnya, perubahan lingkungan membuat keberadaannya semakin tersingkirkan.

Baca Juga:  68 Rumah Layak Huni Dibangun Tahun Ini

"Bagaimana pun negara punya peran menyamakan hak sebagai warga negara," jelasnya.

Dikatakan Fandi, contoh suku Akit di pinggiran Sungai Siak yang dahulu mencari ikan untuk kebutuhan ekonomi, sekarang mencari sampah plastik lalu dijual untuk memenuhi kebutuhan sehar-hari.

Haldi, salah seorang penggerak komunitas Arus Balik, beranggapan bahwa pemutaran film di Pekanbaru kali ini mencoba mengambil sudut pandang pengaruh kerusakan ekologis bagi masyarakat adat.

"Hanya saja, film dokumenter tersebut tidak terlalu banyak membahas sektor hulu kerusakan ekologis yg mengancam ruang hidup masyarakat adat," kata Haldi.

Salah seorang peserta sekaligus peneliti Forum for Academician of Politics and International Relations (FAIR) Riau, Bambang Putra Ermansya,h menanggapi bahwa yang terjadi dengan suku Bajo adalah bentuk pemaksaan gaya hidup dari kebanyakan masyarakat.

Baca Juga:  Mobil Masuk Kolong Jembatan

Nobar dan diskusi hasil kolaborasi antara komunitas Arus Balik, AJI Pekanbaru, Thinkcore dan Kopikirapa ini diikuti oleh peserta dari mahasiswa dan umum. Selain nobar dan diskusi, dilakukan donasi untuk warga suku Bajo yang kurang beruntung.

Di Pekanbaru, pemutaran film ini sebelumnya sudah dilaksanakan pada Sabtu (18/1/2020) lalu di dua tempat yang berbeda dengan penyelenggara lokal yang berbeda.(eko)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Bertempat di Kedai Kopi Kopikirapa, Jalan Kundur pusat kota Pekanbaru, komunitas Arus Balik menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter The Bajau, Ahad (19/1/2020).

The Bajau diproduksi oleh Watchdoc berkolaborasi dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari dan AJI Gorontalo serta disutradarai oleh jurnalis senior Dandhy Dwi Laksono.

The Bajau berkisah tentang kehidupan masyarakat Suku Bajo di kepulauan Indonesia. Bercerita tentang dua keluarga suku Bajo yang dikenal sebagai pengelana laut yang pernah hidup nomaden selama berabad-abad di sekitar Laut Cina Selatan hingga Pasifik Selatan dan Selandia Baru.

Pemantik diskusi dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau, Fandi Rahman, mengatakan, sebenarnya nasib suku Bajo hampir mirip seperti suku-suku di Riau. Menurutnya, perubahan lingkungan membuat keberadaannya semakin tersingkirkan.

Baca Juga:  Sedang Parkir, Mobil Tertimpa Pohon

"Bagaimana pun negara punya peran menyamakan hak sebagai warga negara," jelasnya.

- Advertisement -

Dikatakan Fandi, contoh suku Akit di pinggiran Sungai Siak yang dahulu mencari ikan untuk kebutuhan ekonomi, sekarang mencari sampah plastik lalu dijual untuk memenuhi kebutuhan sehar-hari.

Haldi, salah seorang penggerak komunitas Arus Balik, beranggapan bahwa pemutaran film di Pekanbaru kali ini mencoba mengambil sudut pandang pengaruh kerusakan ekologis bagi masyarakat adat.

- Advertisement -

"Hanya saja, film dokumenter tersebut tidak terlalu banyak membahas sektor hulu kerusakan ekologis yg mengancam ruang hidup masyarakat adat," kata Haldi.

Salah seorang peserta sekaligus peneliti Forum for Academician of Politics and International Relations (FAIR) Riau, Bambang Putra Ermansya,h menanggapi bahwa yang terjadi dengan suku Bajo adalah bentuk pemaksaan gaya hidup dari kebanyakan masyarakat.

Baca Juga:  Mobil Masuk Kolong Jembatan

Nobar dan diskusi hasil kolaborasi antara komunitas Arus Balik, AJI Pekanbaru, Thinkcore dan Kopikirapa ini diikuti oleh peserta dari mahasiswa dan umum. Selain nobar dan diskusi, dilakukan donasi untuk warga suku Bajo yang kurang beruntung.

Di Pekanbaru, pemutaran film ini sebelumnya sudah dilaksanakan pada Sabtu (18/1/2020) lalu di dua tempat yang berbeda dengan penyelenggara lokal yang berbeda.(eko)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Bertempat di Kedai Kopi Kopikirapa, Jalan Kundur pusat kota Pekanbaru, komunitas Arus Balik menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter The Bajau, Ahad (19/1/2020).

The Bajau diproduksi oleh Watchdoc berkolaborasi dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari dan AJI Gorontalo serta disutradarai oleh jurnalis senior Dandhy Dwi Laksono.

The Bajau berkisah tentang kehidupan masyarakat Suku Bajo di kepulauan Indonesia. Bercerita tentang dua keluarga suku Bajo yang dikenal sebagai pengelana laut yang pernah hidup nomaden selama berabad-abad di sekitar Laut Cina Selatan hingga Pasifik Selatan dan Selandia Baru.

Pemantik diskusi dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau, Fandi Rahman, mengatakan, sebenarnya nasib suku Bajo hampir mirip seperti suku-suku di Riau. Menurutnya, perubahan lingkungan membuat keberadaannya semakin tersingkirkan.

Baca Juga:  Mobil Masuk Kolong Jembatan

"Bagaimana pun negara punya peran menyamakan hak sebagai warga negara," jelasnya.

Dikatakan Fandi, contoh suku Akit di pinggiran Sungai Siak yang dahulu mencari ikan untuk kebutuhan ekonomi, sekarang mencari sampah plastik lalu dijual untuk memenuhi kebutuhan sehar-hari.

Haldi, salah seorang penggerak komunitas Arus Balik, beranggapan bahwa pemutaran film di Pekanbaru kali ini mencoba mengambil sudut pandang pengaruh kerusakan ekologis bagi masyarakat adat.

"Hanya saja, film dokumenter tersebut tidak terlalu banyak membahas sektor hulu kerusakan ekologis yg mengancam ruang hidup masyarakat adat," kata Haldi.

Salah seorang peserta sekaligus peneliti Forum for Academician of Politics and International Relations (FAIR) Riau, Bambang Putra Ermansya,h menanggapi bahwa yang terjadi dengan suku Bajo adalah bentuk pemaksaan gaya hidup dari kebanyakan masyarakat.

Baca Juga:  Pedagang Tas di Jalan Ahmad Yani Panen Rezeki

Nobar dan diskusi hasil kolaborasi antara komunitas Arus Balik, AJI Pekanbaru, Thinkcore dan Kopikirapa ini diikuti oleh peserta dari mahasiswa dan umum. Selain nobar dan diskusi, dilakukan donasi untuk warga suku Bajo yang kurang beruntung.

Di Pekanbaru, pemutaran film ini sebelumnya sudah dilaksanakan pada Sabtu (18/1/2020) lalu di dua tempat yang berbeda dengan penyelenggara lokal yang berbeda.(eko)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari