Sabtu, 2 Maret 2024

Terapkan Kurikulum Merdeka, Guru Diminta Buat Inovasi

SMPN 46 Masih Perlu 10 Ruang Belajar

KOTA (RIAUPOS.CO) – Sejak mulai dioperasikan Juni 2022, antusias orang tua menyekolahkan anaknya ke SMPN 46 sangat tinggi. Meskipun awalnya, proses belajar menumpang dan ketika pindah ke bangunan baru masih banyak kekurangan mobiler. Kini, SMPN 46 memerlukan 10 kelas baru atau ruangan belajar.

Sekolah ini terletak di Jalan Taman Karya, Kecamatan Tuah Madani, Pekanbaru. Di kecamatan ini awalnya hanya ada satu SMP negeri yakni SMP 42. Padahal jumlah warga sekitar sangat padat dan jumlah usia sekolah tinggi.

“Sekolah ini baru sekitar 3 tahun dibangun. Awalnya hanya 90 orang siswa dan kami menumpang di SMPN 23 , tapi semangat orangtua mengantarkan anaknya sekolah, luar biasa. Dulu sekolahnya cukup jauh,” ungkap Kepala SMPN 46 Dr H Kazwaini MAg kepada Riau Pos, akhir pekan lalu.

Baca Juga:  Nurul Ikhsan Bantu Pembangunan Tiga Masjid

Jumlah siswa sekarang sudah mencapai 400 orang dengan 11 rombel terdiri dari kelas 7 ( 4 rombel), kelas 8 (4 rombel) dan kelas 9 (3 rombel). Rombel adalah kelompok peserta didik yang terdaftar pada satuan kelas. Dalam Dapodik 2024, jenjang SMP, jumlah maksimum peserta didik dalam satu kelas berjumlah 32 siswa.

Jumlah kelas belum mencukupi bila dibandingkan dengan keperluan dan lahan yang tersedia. “Bahkan ada warga perbatasan Kampar yang mau masuk tapi ini kan sistem zonasi,” ujar Kazwaini.

- Advertisement -

Bila dilihat keperluan dan area yang tersedia, SMPN 46 bisa memiliki 28 ruang belajar atau daya tampung lebih kurang 1.000 siswa.

Kazwaini menyebutkan, SMPN 46 telah menerapkan kurikulum merdeka P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Salah satunya dalam proses pembentukan pengurus OSIS. Setelah belajar secara teori tentang organisasi, lalu dipraktekkan dalam pembentukan pengurus OSIS di sekolah.

- Advertisement -
Baca Juga:  Masterplan Banjir Belum Dieksekusi

“Saya mengharapkan guru mencari model yang menarik bagi anak dalam pembelajaran. Konsepnya, pembelajaran terpusat ke anak, guru hanya sebagai pembimbing,” ungkapnya.

Menurut Kazwaini ada 3 manfaat dalam penerapan kurikulum merdeka. Pertama, anak didik merasa terbimbing dalam proses pembelajaran. Kedua, anak tidak terbebani dengan tugas yang banyak. Ketiga, guru bisa melakukan inovasi dalam proses pembelajaran.(aka)

KOTA (RIAUPOS.CO) – Sejak mulai dioperasikan Juni 2022, antusias orang tua menyekolahkan anaknya ke SMPN 46 sangat tinggi. Meskipun awalnya, proses belajar menumpang dan ketika pindah ke bangunan baru masih banyak kekurangan mobiler. Kini, SMPN 46 memerlukan 10 kelas baru atau ruangan belajar.

Sekolah ini terletak di Jalan Taman Karya, Kecamatan Tuah Madani, Pekanbaru. Di kecamatan ini awalnya hanya ada satu SMP negeri yakni SMP 42. Padahal jumlah warga sekitar sangat padat dan jumlah usia sekolah tinggi.

“Sekolah ini baru sekitar 3 tahun dibangun. Awalnya hanya 90 orang siswa dan kami menumpang di SMPN 23 , tapi semangat orangtua mengantarkan anaknya sekolah, luar biasa. Dulu sekolahnya cukup jauh,” ungkap Kepala SMPN 46 Dr H Kazwaini MAg kepada Riau Pos, akhir pekan lalu.

Baca Juga:  PLTU Co-firing Enceng Gondok Raih Penghargaan Internasional

Jumlah siswa sekarang sudah mencapai 400 orang dengan 11 rombel terdiri dari kelas 7 ( 4 rombel), kelas 8 (4 rombel) dan kelas 9 (3 rombel). Rombel adalah kelompok peserta didik yang terdaftar pada satuan kelas. Dalam Dapodik 2024, jenjang SMP, jumlah maksimum peserta didik dalam satu kelas berjumlah 32 siswa.

Jumlah kelas belum mencukupi bila dibandingkan dengan keperluan dan lahan yang tersedia. “Bahkan ada warga perbatasan Kampar yang mau masuk tapi ini kan sistem zonasi,” ujar Kazwaini.

Bila dilihat keperluan dan area yang tersedia, SMPN 46 bisa memiliki 28 ruang belajar atau daya tampung lebih kurang 1.000 siswa.

Kazwaini menyebutkan, SMPN 46 telah menerapkan kurikulum merdeka P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Salah satunya dalam proses pembentukan pengurus OSIS. Setelah belajar secara teori tentang organisasi, lalu dipraktekkan dalam pembentukan pengurus OSIS di sekolah.

Baca Juga:  Satgas Terpadu Samakan Persepsi dengan Masyarakat

“Saya mengharapkan guru mencari model yang menarik bagi anak dalam pembelajaran. Konsepnya, pembelajaran terpusat ke anak, guru hanya sebagai pembimbing,” ungkapnya.

Menurut Kazwaini ada 3 manfaat dalam penerapan kurikulum merdeka. Pertama, anak didik merasa terbimbing dalam proses pembelajaran. Kedua, anak tidak terbebani dengan tugas yang banyak. Ketiga, guru bisa melakukan inovasi dalam proses pembelajaran.(aka)

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari