Senin, 19 Januari 2026
- Advertisement -
spot_img

Defisit Anggaran 2019 Melebar ke Level 2,2 Persen

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Defisit anggaran 2019 diperkirakan melebar ke level 2-2,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih besar dibandingkan realisasi tahun sebelumnya di level 1,87 persen, dan lebih besar dibandingkan outlook APBN 2019 yang sebesar 1,93 persen.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati berdalih, hal itu dikarenakan pemerintah mengeluarkan banyak keringanan pajak, demi menjaga ekonomi tetap tumbuh. Beberapa di antaranya yaitu tax holiday dan tax allowance.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengungkapkan, kondisi lingkungan ekonomi global mengharuskan Indonesia membuat kebijakan agar ekonomi domestik tetap tumbuh, salah satunya melalui peraturan pajak. Namun, dia memastikan pemerintah tetap mempertimbangkan semua aspek dan membuat keputusan secara hati-hati.

Baca Juga:  Persyaratan Konversi BRK Syariah Sudah Terpenuhi

“Kami sangat hati-hati saat merancang kebijakan perpajakan jangan sampai mengganggu ekonomi dan investasi,” ungkap Sri Mulyani dalam acara CEO Networking 2019 di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (31/10).

Sri Mulyani mencontohkan, pada 2017, pemerintah juga mengeluarkan banyak insentif pajak untuk mendorong dunia usaha terutama di sektor industri dan prioritas pemerintah. Saat itu, potential loss diakuinya mencapai Rp 150 triliun.

“Pada 2017 ada Rp 150 triliun pajak yang seharusnya diterima tetapi kita tidak terima karena berbagai insentif yang kita keluarkan. Insentif pajak ini bisa jaga dan meningkatkan usaha, terutama di sektor industri dan prioritas pemerintah,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Luky Alfirman mengatakan, defisit anggaran tahun ini kemungkinan akan melebar karena lesunya penerimaan negara akibat ketidakpastian global. “Defisit bisa melebar sekitar 2 persen sampai 2,2 persen terhadap PDB sampai akhir tahun,” kata Luky.

Baca Juga:  TKP Foodcourt Promo Makan Gratis

Sumber: Jawapos.com
Editor : E Sulaiman

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Defisit anggaran 2019 diperkirakan melebar ke level 2-2,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih besar dibandingkan realisasi tahun sebelumnya di level 1,87 persen, dan lebih besar dibandingkan outlook APBN 2019 yang sebesar 1,93 persen.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati berdalih, hal itu dikarenakan pemerintah mengeluarkan banyak keringanan pajak, demi menjaga ekonomi tetap tumbuh. Beberapa di antaranya yaitu tax holiday dan tax allowance.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengungkapkan, kondisi lingkungan ekonomi global mengharuskan Indonesia membuat kebijakan agar ekonomi domestik tetap tumbuh, salah satunya melalui peraturan pajak. Namun, dia memastikan pemerintah tetap mempertimbangkan semua aspek dan membuat keputusan secara hati-hati.

Baca Juga:  Persyaratan Konversi BRK Syariah Sudah Terpenuhi

“Kami sangat hati-hati saat merancang kebijakan perpajakan jangan sampai mengganggu ekonomi dan investasi,” ungkap Sri Mulyani dalam acara CEO Networking 2019 di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (31/10).

Sri Mulyani mencontohkan, pada 2017, pemerintah juga mengeluarkan banyak insentif pajak untuk mendorong dunia usaha terutama di sektor industri dan prioritas pemerintah. Saat itu, potential loss diakuinya mencapai Rp 150 triliun.

- Advertisement -

“Pada 2017 ada Rp 150 triliun pajak yang seharusnya diterima tetapi kita tidak terima karena berbagai insentif yang kita keluarkan. Insentif pajak ini bisa jaga dan meningkatkan usaha, terutama di sektor industri dan prioritas pemerintah,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Luky Alfirman mengatakan, defisit anggaran tahun ini kemungkinan akan melebar karena lesunya penerimaan negara akibat ketidakpastian global. “Defisit bisa melebar sekitar 2 persen sampai 2,2 persen terhadap PDB sampai akhir tahun,” kata Luky.

- Advertisement -
Baca Juga:  Konversi BRK Syariah Segera Terwujud

Sumber: Jawapos.com
Editor : E Sulaiman

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Defisit anggaran 2019 diperkirakan melebar ke level 2-2,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih besar dibandingkan realisasi tahun sebelumnya di level 1,87 persen, dan lebih besar dibandingkan outlook APBN 2019 yang sebesar 1,93 persen.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati berdalih, hal itu dikarenakan pemerintah mengeluarkan banyak keringanan pajak, demi menjaga ekonomi tetap tumbuh. Beberapa di antaranya yaitu tax holiday dan tax allowance.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengungkapkan, kondisi lingkungan ekonomi global mengharuskan Indonesia membuat kebijakan agar ekonomi domestik tetap tumbuh, salah satunya melalui peraturan pajak. Namun, dia memastikan pemerintah tetap mempertimbangkan semua aspek dan membuat keputusan secara hati-hati.

Baca Juga:  Volume Transaksi JFX Tembus 7 Juta Lot

“Kami sangat hati-hati saat merancang kebijakan perpajakan jangan sampai mengganggu ekonomi dan investasi,” ungkap Sri Mulyani dalam acara CEO Networking 2019 di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (31/10).

Sri Mulyani mencontohkan, pada 2017, pemerintah juga mengeluarkan banyak insentif pajak untuk mendorong dunia usaha terutama di sektor industri dan prioritas pemerintah. Saat itu, potential loss diakuinya mencapai Rp 150 triliun.

“Pada 2017 ada Rp 150 triliun pajak yang seharusnya diterima tetapi kita tidak terima karena berbagai insentif yang kita keluarkan. Insentif pajak ini bisa jaga dan meningkatkan usaha, terutama di sektor industri dan prioritas pemerintah,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Luky Alfirman mengatakan, defisit anggaran tahun ini kemungkinan akan melebar karena lesunya penerimaan negara akibat ketidakpastian global. “Defisit bisa melebar sekitar 2 persen sampai 2,2 persen terhadap PDB sampai akhir tahun,” kata Luky.

Baca Juga:  2020, Properti Kelas Atas Bakal Kembali Bergairah

Sumber: Jawapos.com
Editor : E Sulaiman

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari