Sabtu, 5 April 2025
spot_img

Sehari Mampu Membuat 115 Kilogram

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan rahmat. Begitulah pula yang dirasakan Ernita (48) seorang pembuat cendol di Jalan Ahmad Yani Gang Terendam 1, Kecamatan Sukajadi ini, Selasa (20/4) .

 

(RIAUPOS.CO) – Selama bulan Ramadan, pedagang yang sehari-hari berjualan jengkol di Pasar Agus Salim ini berputar haluan dengan membuat cendol. Alasannya karena banyaknya permintaan terhadap salah satu primadona makanan perbukaan ini.

Diceritakan Ernita, dalam sehari dirinya mampu membuat 115 kilogram cendol, jumlah ini bisa meningkat tergantung permintaan pasar.

Bahkan usaha tahunan keluarga yang dirintis sejak 25 tahun ini ia pelajari dari kakaknya. Dengan dibantu seluruh anggota keluargnya mulai dari anak, hingga menantu. Ernita menjalankan usaha rumahnya ini di salah satu kontrakan yang ia tempati berukuran 5×4 meter.

Baca Juga:  Realisasi Investasi Migas Masih Jauh dari Target

“Saya belajar dari kakak saya. Awal belajar masih banyak yang salah. Karena hasil adonan tidak sesuai tapi lama kelamaan resepnya sudah saya temukan dan saya pun berjualan setiap tahunnya,” ucap dia.

Lanjut Ernita, saat memasuki Ramadan permintaan cendol pun datang dari sejumlah pasar di Pekanbaru seperti Pasar Loket, Pasar Agus Salim (Pusat), Pasar Kodim, dan sejumlah pasar di beberapa daerah di Riau.

Bahkan dalam sehari ia bisa menjual puluhan ember dengan harga jual per embernya seharga Rp120 ribu dan baskom Rp150 ribu.

“Untuk bahan baku pandan wangi dan pandan warna sebagai bahan utama pembuatan cendol ia peroleh dari Pekanbaru dan Pelalawan. Untuk omset kalau selama Ramadan ini bisa dapat belasan juta,” katanya.

Baca Juga:  Rendang Runtiah Ditampilkan di Hotel Accor Wilayah Sumatera

Sementara itu, Yudi, salah seorang pedagang pasar tradisional di Pekanbaru yang mengambil cendol dari Ernita mengaku cendol buatan Ernita memiliki kualitas yang baik dan tanpa diberi pengawet sehingga tak berbau.

“Sudah lama sih langganan sama ibu ini. Cendolnya berkualitas jadi langganan kita yang beli eceran juga merasa enak dan aman karena tidak pakai pengawet,” ucapnya.

Yudi mengaku dalam sehari ia bisa menghabiskan satu ember cendol yang ia jual kepada sejumlah pedagang eceran.

“Allhamdulilah cendolnya selalu habis terjual dan keuntungan juga dapat membantu perekonomian keluarga kita, “ tegasnya.(eca)

 

Laporan PRAPTI DWI LESTARI, Pekanbaru

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan rahmat. Begitulah pula yang dirasakan Ernita (48) seorang pembuat cendol di Jalan Ahmad Yani Gang Terendam 1, Kecamatan Sukajadi ini, Selasa (20/4) .

 

(RIAUPOS.CO) – Selama bulan Ramadan, pedagang yang sehari-hari berjualan jengkol di Pasar Agus Salim ini berputar haluan dengan membuat cendol. Alasannya karena banyaknya permintaan terhadap salah satu primadona makanan perbukaan ini.

Diceritakan Ernita, dalam sehari dirinya mampu membuat 115 kilogram cendol, jumlah ini bisa meningkat tergantung permintaan pasar.

Bahkan usaha tahunan keluarga yang dirintis sejak 25 tahun ini ia pelajari dari kakaknya. Dengan dibantu seluruh anggota keluargnya mulai dari anak, hingga menantu. Ernita menjalankan usaha rumahnya ini di salah satu kontrakan yang ia tempati berukuran 5×4 meter.

Baca Juga:  Yamaha Hadirkan Promo Besar-besaran Mio Ceria

“Saya belajar dari kakak saya. Awal belajar masih banyak yang salah. Karena hasil adonan tidak sesuai tapi lama kelamaan resepnya sudah saya temukan dan saya pun berjualan setiap tahunnya,” ucap dia.

Lanjut Ernita, saat memasuki Ramadan permintaan cendol pun datang dari sejumlah pasar di Pekanbaru seperti Pasar Loket, Pasar Agus Salim (Pusat), Pasar Kodim, dan sejumlah pasar di beberapa daerah di Riau.

Bahkan dalam sehari ia bisa menjual puluhan ember dengan harga jual per embernya seharga Rp120 ribu dan baskom Rp150 ribu.

“Untuk bahan baku pandan wangi dan pandan warna sebagai bahan utama pembuatan cendol ia peroleh dari Pekanbaru dan Pelalawan. Untuk omset kalau selama Ramadan ini bisa dapat belasan juta,” katanya.

Baca Juga:  Eka Hospital Gelar Seminar Medis 

Sementara itu, Yudi, salah seorang pedagang pasar tradisional di Pekanbaru yang mengambil cendol dari Ernita mengaku cendol buatan Ernita memiliki kualitas yang baik dan tanpa diberi pengawet sehingga tak berbau.

“Sudah lama sih langganan sama ibu ini. Cendolnya berkualitas jadi langganan kita yang beli eceran juga merasa enak dan aman karena tidak pakai pengawet,” ucapnya.

Yudi mengaku dalam sehari ia bisa menghabiskan satu ember cendol yang ia jual kepada sejumlah pedagang eceran.

“Allhamdulilah cendolnya selalu habis terjual dan keuntungan juga dapat membantu perekonomian keluarga kita, “ tegasnya.(eca)

 

Laporan PRAPTI DWI LESTARI, Pekanbaru

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Sehari Mampu Membuat 115 Kilogram

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan rahmat. Begitulah pula yang dirasakan Ernita (48) seorang pembuat cendol di Jalan Ahmad Yani Gang Terendam 1, Kecamatan Sukajadi ini, Selasa (20/4) .

 

(RIAUPOS.CO) – Selama bulan Ramadan, pedagang yang sehari-hari berjualan jengkol di Pasar Agus Salim ini berputar haluan dengan membuat cendol. Alasannya karena banyaknya permintaan terhadap salah satu primadona makanan perbukaan ini.

Diceritakan Ernita, dalam sehari dirinya mampu membuat 115 kilogram cendol, jumlah ini bisa meningkat tergantung permintaan pasar.

Bahkan usaha tahunan keluarga yang dirintis sejak 25 tahun ini ia pelajari dari kakaknya. Dengan dibantu seluruh anggota keluargnya mulai dari anak, hingga menantu. Ernita menjalankan usaha rumahnya ini di salah satu kontrakan yang ia tempati berukuran 5×4 meter.

Baca Juga:  Hingga Akhir Agustus, 648 Km Tol Trans Sumatra Beroperasi

“Saya belajar dari kakak saya. Awal belajar masih banyak yang salah. Karena hasil adonan tidak sesuai tapi lama kelamaan resepnya sudah saya temukan dan saya pun berjualan setiap tahunnya,” ucap dia.

Lanjut Ernita, saat memasuki Ramadan permintaan cendol pun datang dari sejumlah pasar di Pekanbaru seperti Pasar Loket, Pasar Agus Salim (Pusat), Pasar Kodim, dan sejumlah pasar di beberapa daerah di Riau.

Bahkan dalam sehari ia bisa menjual puluhan ember dengan harga jual per embernya seharga Rp120 ribu dan baskom Rp150 ribu.

“Untuk bahan baku pandan wangi dan pandan warna sebagai bahan utama pembuatan cendol ia peroleh dari Pekanbaru dan Pelalawan. Untuk omset kalau selama Ramadan ini bisa dapat belasan juta,” katanya.

Baca Juga:  Rendang Runtiah Ditampilkan di Hotel Accor Wilayah Sumatera

Sementara itu, Yudi, salah seorang pedagang pasar tradisional di Pekanbaru yang mengambil cendol dari Ernita mengaku cendol buatan Ernita memiliki kualitas yang baik dan tanpa diberi pengawet sehingga tak berbau.

“Sudah lama sih langganan sama ibu ini. Cendolnya berkualitas jadi langganan kita yang beli eceran juga merasa enak dan aman karena tidak pakai pengawet,” ucapnya.

Yudi mengaku dalam sehari ia bisa menghabiskan satu ember cendol yang ia jual kepada sejumlah pedagang eceran.

“Allhamdulilah cendolnya selalu habis terjual dan keuntungan juga dapat membantu perekonomian keluarga kita, “ tegasnya.(eca)

 

Laporan PRAPTI DWI LESTARI, Pekanbaru

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan rahmat. Begitulah pula yang dirasakan Ernita (48) seorang pembuat cendol di Jalan Ahmad Yani Gang Terendam 1, Kecamatan Sukajadi ini, Selasa (20/4) .

 

(RIAUPOS.CO) – Selama bulan Ramadan, pedagang yang sehari-hari berjualan jengkol di Pasar Agus Salim ini berputar haluan dengan membuat cendol. Alasannya karena banyaknya permintaan terhadap salah satu primadona makanan perbukaan ini.

Diceritakan Ernita, dalam sehari dirinya mampu membuat 115 kilogram cendol, jumlah ini bisa meningkat tergantung permintaan pasar.

Bahkan usaha tahunan keluarga yang dirintis sejak 25 tahun ini ia pelajari dari kakaknya. Dengan dibantu seluruh anggota keluargnya mulai dari anak, hingga menantu. Ernita menjalankan usaha rumahnya ini di salah satu kontrakan yang ia tempati berukuran 5×4 meter.

Baca Juga:  Dana Asing di RI Dikhawatirkan Ditarik ke Luar Negeri

“Saya belajar dari kakak saya. Awal belajar masih banyak yang salah. Karena hasil adonan tidak sesuai tapi lama kelamaan resepnya sudah saya temukan dan saya pun berjualan setiap tahunnya,” ucap dia.

Lanjut Ernita, saat memasuki Ramadan permintaan cendol pun datang dari sejumlah pasar di Pekanbaru seperti Pasar Loket, Pasar Agus Salim (Pusat), Pasar Kodim, dan sejumlah pasar di beberapa daerah di Riau.

Bahkan dalam sehari ia bisa menjual puluhan ember dengan harga jual per embernya seharga Rp120 ribu dan baskom Rp150 ribu.

“Untuk bahan baku pandan wangi dan pandan warna sebagai bahan utama pembuatan cendol ia peroleh dari Pekanbaru dan Pelalawan. Untuk omset kalau selama Ramadan ini bisa dapat belasan juta,” katanya.

Baca Juga:  Maskapai Asing Masuk, Perlu Kaji Ulang Harga Tiket

Sementara itu, Yudi, salah seorang pedagang pasar tradisional di Pekanbaru yang mengambil cendol dari Ernita mengaku cendol buatan Ernita memiliki kualitas yang baik dan tanpa diberi pengawet sehingga tak berbau.

“Sudah lama sih langganan sama ibu ini. Cendolnya berkualitas jadi langganan kita yang beli eceran juga merasa enak dan aman karena tidak pakai pengawet,” ucapnya.

Yudi mengaku dalam sehari ia bisa menghabiskan satu ember cendol yang ia jual kepada sejumlah pedagang eceran.

“Allhamdulilah cendolnya selalu habis terjual dan keuntungan juga dapat membantu perekonomian keluarga kita, “ tegasnya.(eca)

 

Laporan PRAPTI DWI LESTARI, Pekanbaru

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari