Minggu, 6 April 2025
spot_img

Tingkatkan Produksi untuk Kendalikan Inflasi

PEKANBARU, (RIAUPOS.CO) – Maret lalu, Riau mengalami inflasi sebesar 0,10 persen. Lima komoditi makanan menjadi penyumbang terbesar inflasi di Riau. Komoditi tersebut adalah beras, bawang, telur, ayam, dan cabai.

Hal ini disampaikan oleb Kepala Kantor Perwakilan (Kpw) Bank Indonesia Riau Decymus, dalam acara High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Riau yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi Riau bekerja sama dengan Kpw BI Riau, Rabu (7/6). "Inflasi di Riau tak jauh-jauh karena lima hal itu," kata Decymus.

Dijelaskan Decymus, inflasi terjadi karena adanya defisit pangan, oleh karena itu diperlukan peningkatan dalam produksi. Ia mengatakan, bersama-sama Pemerintah Provinsi Riau pihaknya berupaya meningkatkan produksi untuk ketahanan pangan.

Selain itu, inflasi juga terjadi pada saat-saat tertentu, seperti Ramadan, setelah panen, hari raya besar, dan lain-lain. Agar lonjakan tak berulang, maka diaturlah siklus tanam, sehingga petani tidak menanam secara bersamaan, untuk menghindari jatuhnya harga.

Baca Juga:  Penjualan Isuzu di JAW 2022 Capai 256 Unit

"Agar pasokan sepanjang tahun tersedia dan nasib petani tidak jatuh, nanamnya diatur, jadi nanti OPD-OPD mulai aktif memberikan edukasi kepada petani, supaya nanamnya jangan bersamaan, diatur, bergiliran, supaya produksi pangan terjaga," jelas Decymus.

Decymus juga menyapaikan pihaknya berkordinasi dengan Pemerintah Provinsi Riau, pemerintah daerah, dan bulog, serta Polda Riau, untuk memastikan kelancaran distribusi pangan. Dari sisi BI sendiri melaksanakan pengendalian permintaan.

Ia mengajak masyarakat untuk belanja dengan bijak. Menurutnya, kenaikan harga pangan tak hanya disebabkan oleh kurangnya pasokan dan distribusi, tapi juga melonjaknya permintaan masyarakat. "Kalau belanja yang tidak perlu ditahan djlu, karena belanja-belanja berlebihan itu bisa memperburuk situasi. BI mengajak masyarakat bijak dalam belanja," tuturnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution mengatakan, untuk mengendalikam inflasi diperlukan kerja sama yang baik oleh semua tim TPID Riau, terlebih di saat Ramadan dan Idulfitri. "Kerja sama antar daerah itulah yang kita harapkan sehingga masing-masing daerah ini saling berkomunikasi melakukan koordinasi," ujarnya.

Baca Juga:  Sulaiman Arif Jadi Dirut Sementara Bank Mandiri

Untuk mencegah adanya pedagang-pedagang nakal yang melakukan penimbunan, pihaknya juga akan bekerja sama dengan kepolisian. Sementara itu, sebagai upaya peningkatan produksi salah satunya dilaksanakan program jaga kampung.(das)

Laporan : Mujawaroh Annafi (Pekanbaru)

 

PEKANBARU, (RIAUPOS.CO) – Maret lalu, Riau mengalami inflasi sebesar 0,10 persen. Lima komoditi makanan menjadi penyumbang terbesar inflasi di Riau. Komoditi tersebut adalah beras, bawang, telur, ayam, dan cabai.

Hal ini disampaikan oleb Kepala Kantor Perwakilan (Kpw) Bank Indonesia Riau Decymus, dalam acara High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Riau yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi Riau bekerja sama dengan Kpw BI Riau, Rabu (7/6). "Inflasi di Riau tak jauh-jauh karena lima hal itu," kata Decymus.

Dijelaskan Decymus, inflasi terjadi karena adanya defisit pangan, oleh karena itu diperlukan peningkatan dalam produksi. Ia mengatakan, bersama-sama Pemerintah Provinsi Riau pihaknya berupaya meningkatkan produksi untuk ketahanan pangan.

Selain itu, inflasi juga terjadi pada saat-saat tertentu, seperti Ramadan, setelah panen, hari raya besar, dan lain-lain. Agar lonjakan tak berulang, maka diaturlah siklus tanam, sehingga petani tidak menanam secara bersamaan, untuk menghindari jatuhnya harga.

Baca Juga:  Sosialisasikan Wacana Zero ODOL

"Agar pasokan sepanjang tahun tersedia dan nasib petani tidak jatuh, nanamnya diatur, jadi nanti OPD-OPD mulai aktif memberikan edukasi kepada petani, supaya nanamnya jangan bersamaan, diatur, bergiliran, supaya produksi pangan terjaga," jelas Decymus.

Decymus juga menyapaikan pihaknya berkordinasi dengan Pemerintah Provinsi Riau, pemerintah daerah, dan bulog, serta Polda Riau, untuk memastikan kelancaran distribusi pangan. Dari sisi BI sendiri melaksanakan pengendalian permintaan.

Ia mengajak masyarakat untuk belanja dengan bijak. Menurutnya, kenaikan harga pangan tak hanya disebabkan oleh kurangnya pasokan dan distribusi, tapi juga melonjaknya permintaan masyarakat. "Kalau belanja yang tidak perlu ditahan djlu, karena belanja-belanja berlebihan itu bisa memperburuk situasi. BI mengajak masyarakat bijak dalam belanja," tuturnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution mengatakan, untuk mengendalikam inflasi diperlukan kerja sama yang baik oleh semua tim TPID Riau, terlebih di saat Ramadan dan Idulfitri. "Kerja sama antar daerah itulah yang kita harapkan sehingga masing-masing daerah ini saling berkomunikasi melakukan koordinasi," ujarnya.

Baca Juga:  Anniversary Ke-6, Hotel Novotel Pekanbaru Gelar Donor Darah

Untuk mencegah adanya pedagang-pedagang nakal yang melakukan penimbunan, pihaknya juga akan bekerja sama dengan kepolisian. Sementara itu, sebagai upaya peningkatan produksi salah satunya dilaksanakan program jaga kampung.(das)

Laporan : Mujawaroh Annafi (Pekanbaru)

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Tingkatkan Produksi untuk Kendalikan Inflasi

PEKANBARU, (RIAUPOS.CO) – Maret lalu, Riau mengalami inflasi sebesar 0,10 persen. Lima komoditi makanan menjadi penyumbang terbesar inflasi di Riau. Komoditi tersebut adalah beras, bawang, telur, ayam, dan cabai.

Hal ini disampaikan oleb Kepala Kantor Perwakilan (Kpw) Bank Indonesia Riau Decymus, dalam acara High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Riau yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi Riau bekerja sama dengan Kpw BI Riau, Rabu (7/6). "Inflasi di Riau tak jauh-jauh karena lima hal itu," kata Decymus.

Dijelaskan Decymus, inflasi terjadi karena adanya defisit pangan, oleh karena itu diperlukan peningkatan dalam produksi. Ia mengatakan, bersama-sama Pemerintah Provinsi Riau pihaknya berupaya meningkatkan produksi untuk ketahanan pangan.

Selain itu, inflasi juga terjadi pada saat-saat tertentu, seperti Ramadan, setelah panen, hari raya besar, dan lain-lain. Agar lonjakan tak berulang, maka diaturlah siklus tanam, sehingga petani tidak menanam secara bersamaan, untuk menghindari jatuhnya harga.

Baca Juga:  Gadai Berapa pun Diterima di Pegadaian

"Agar pasokan sepanjang tahun tersedia dan nasib petani tidak jatuh, nanamnya diatur, jadi nanti OPD-OPD mulai aktif memberikan edukasi kepada petani, supaya nanamnya jangan bersamaan, diatur, bergiliran, supaya produksi pangan terjaga," jelas Decymus.

Decymus juga menyapaikan pihaknya berkordinasi dengan Pemerintah Provinsi Riau, pemerintah daerah, dan bulog, serta Polda Riau, untuk memastikan kelancaran distribusi pangan. Dari sisi BI sendiri melaksanakan pengendalian permintaan.

Ia mengajak masyarakat untuk belanja dengan bijak. Menurutnya, kenaikan harga pangan tak hanya disebabkan oleh kurangnya pasokan dan distribusi, tapi juga melonjaknya permintaan masyarakat. "Kalau belanja yang tidak perlu ditahan djlu, karena belanja-belanja berlebihan itu bisa memperburuk situasi. BI mengajak masyarakat bijak dalam belanja," tuturnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution mengatakan, untuk mengendalikam inflasi diperlukan kerja sama yang baik oleh semua tim TPID Riau, terlebih di saat Ramadan dan Idulfitri. "Kerja sama antar daerah itulah yang kita harapkan sehingga masing-masing daerah ini saling berkomunikasi melakukan koordinasi," ujarnya.

Baca Juga:  Oktober, Impor Riau Naik 62,9 Persen

Untuk mencegah adanya pedagang-pedagang nakal yang melakukan penimbunan, pihaknya juga akan bekerja sama dengan kepolisian. Sementara itu, sebagai upaya peningkatan produksi salah satunya dilaksanakan program jaga kampung.(das)

Laporan : Mujawaroh Annafi (Pekanbaru)

 

PEKANBARU, (RIAUPOS.CO) – Maret lalu, Riau mengalami inflasi sebesar 0,10 persen. Lima komoditi makanan menjadi penyumbang terbesar inflasi di Riau. Komoditi tersebut adalah beras, bawang, telur, ayam, dan cabai.

Hal ini disampaikan oleb Kepala Kantor Perwakilan (Kpw) Bank Indonesia Riau Decymus, dalam acara High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Riau yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi Riau bekerja sama dengan Kpw BI Riau, Rabu (7/6). "Inflasi di Riau tak jauh-jauh karena lima hal itu," kata Decymus.

Dijelaskan Decymus, inflasi terjadi karena adanya defisit pangan, oleh karena itu diperlukan peningkatan dalam produksi. Ia mengatakan, bersama-sama Pemerintah Provinsi Riau pihaknya berupaya meningkatkan produksi untuk ketahanan pangan.

Selain itu, inflasi juga terjadi pada saat-saat tertentu, seperti Ramadan, setelah panen, hari raya besar, dan lain-lain. Agar lonjakan tak berulang, maka diaturlah siklus tanam, sehingga petani tidak menanam secara bersamaan, untuk menghindari jatuhnya harga.

Baca Juga:  Anniversary Ke-6, Hotel Novotel Pekanbaru Gelar Donor Darah

"Agar pasokan sepanjang tahun tersedia dan nasib petani tidak jatuh, nanamnya diatur, jadi nanti OPD-OPD mulai aktif memberikan edukasi kepada petani, supaya nanamnya jangan bersamaan, diatur, bergiliran, supaya produksi pangan terjaga," jelas Decymus.

Decymus juga menyapaikan pihaknya berkordinasi dengan Pemerintah Provinsi Riau, pemerintah daerah, dan bulog, serta Polda Riau, untuk memastikan kelancaran distribusi pangan. Dari sisi BI sendiri melaksanakan pengendalian permintaan.

Ia mengajak masyarakat untuk belanja dengan bijak. Menurutnya, kenaikan harga pangan tak hanya disebabkan oleh kurangnya pasokan dan distribusi, tapi juga melonjaknya permintaan masyarakat. "Kalau belanja yang tidak perlu ditahan djlu, karena belanja-belanja berlebihan itu bisa memperburuk situasi. BI mengajak masyarakat bijak dalam belanja," tuturnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution mengatakan, untuk mengendalikam inflasi diperlukan kerja sama yang baik oleh semua tim TPID Riau, terlebih di saat Ramadan dan Idulfitri. "Kerja sama antar daerah itulah yang kita harapkan sehingga masing-masing daerah ini saling berkomunikasi melakukan koordinasi," ujarnya.

Baca Juga:  Sosialisasikan Wacana Zero ODOL

Untuk mencegah adanya pedagang-pedagang nakal yang melakukan penimbunan, pihaknya juga akan bekerja sama dengan kepolisian. Sementara itu, sebagai upaya peningkatan produksi salah satunya dilaksanakan program jaga kampung.(das)

Laporan : Mujawaroh Annafi (Pekanbaru)

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari