Jumat, 13 Februari 2026
- Advertisement -

Perlu Rp672 T untuk Bangun Kilang Baru, Termasuk Dumai

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Proyek pengembangan kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) dan Grass Root Refinery (GGR) akan dibangun di beberapa lokasi yakni di Dumai, Plaju, Cilacap, Balongan, Balikpapan, Tuban, dan wilayah lainnya di Indonesia Timur.

Untuk pengembangan tersebut, PT Pertamina (Persero) membutuhkan investasi sebesar US$48 miliar atau sekitar Rp672 triliun (asumsi kurs Rp14 ribu per dolar AS).

"Keseluruhan proyek ini US$48 miliar dan akan berlangsung 6-7 tahun ke depan," kata CEO Refinery & Petrochemical Subholding Pertamina PT Kilang Pertamina Internasional, Ignatius Tallulembang, di Komisi VII DPR, Rabu (1/7/2020).

Ignatius menuturkan bahwa investasi pembangunan kilang penting meski membutuhkan dana besar. Terlebih, selama 30 tahun, Indonesia belum pernah membangun kilang untuk menambah kapasitas produksi bahan bakar minyak (BBM) dari dalam negeri.

Baca Juga:  Alihkan Polis Jiwasraya ke Asuransi Lain

"Kami ingin mengulang kembali karakteristik bisnis oil and gas. 30 tahun kita belum bangun kilang dalam konteks menaikkan kapasitas kilang," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dirut Pertamina Nicke Widyawati mengatakan kualitas kilang-kilang yang ada di Indonesia masih berstandar kategori Euro II. Padahal, negara lain telah menggunakan BBM dengan standar Euro IV bahkan V.

"Negara-negara yang terbelakang saja yang masih menggunakan Euro II. Ini sudah ditinggalkan. Jadi sebetulnya ini mau di-upgrade apa enggak. Kalau enggak di-upgrade menjadi Euro V ini kilang harus ditutup," ujarnya.

Minimnya kapasitas produksi kilang di Indonesia juga jadi penyebab tingginya impor minyak mentah yang kerap membebani neraca perdagangan. Konsumsi Bahan BBM Indonesia mencapai 1,3 juta barel per hari sementara produksi dari kilang dalam negeri hanya mencapai 900 ribu barel per hari.

Baca Juga:  PHRI Minta Relaksasi PPh 25 Segera Diberikan ke Industri

"Kebutuhan kan 1,3-1,4 juta barel BBM, kita juga butuh impor BBM. Kalau kita enggak bangun ya tiap hari impor saja. Kita juga perlu impor Pertamax dan Premium," kata Nicke.

Sumber: Antara/CNN/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Proyek pengembangan kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) dan Grass Root Refinery (GGR) akan dibangun di beberapa lokasi yakni di Dumai, Plaju, Cilacap, Balongan, Balikpapan, Tuban, dan wilayah lainnya di Indonesia Timur.

Untuk pengembangan tersebut, PT Pertamina (Persero) membutuhkan investasi sebesar US$48 miliar atau sekitar Rp672 triliun (asumsi kurs Rp14 ribu per dolar AS).

"Keseluruhan proyek ini US$48 miliar dan akan berlangsung 6-7 tahun ke depan," kata CEO Refinery & Petrochemical Subholding Pertamina PT Kilang Pertamina Internasional, Ignatius Tallulembang, di Komisi VII DPR, Rabu (1/7/2020).

Ignatius menuturkan bahwa investasi pembangunan kilang penting meski membutuhkan dana besar. Terlebih, selama 30 tahun, Indonesia belum pernah membangun kilang untuk menambah kapasitas produksi bahan bakar minyak (BBM) dari dalam negeri.

Baca Juga:  Prospek Berburu Untung di Sektor Properti di 2022

"Kami ingin mengulang kembali karakteristik bisnis oil and gas. 30 tahun kita belum bangun kilang dalam konteks menaikkan kapasitas kilang," tuturnya.

- Advertisement -

Dalam kesempatan yang sama, Dirut Pertamina Nicke Widyawati mengatakan kualitas kilang-kilang yang ada di Indonesia masih berstandar kategori Euro II. Padahal, negara lain telah menggunakan BBM dengan standar Euro IV bahkan V.

"Negara-negara yang terbelakang saja yang masih menggunakan Euro II. Ini sudah ditinggalkan. Jadi sebetulnya ini mau di-upgrade apa enggak. Kalau enggak di-upgrade menjadi Euro V ini kilang harus ditutup," ujarnya.

- Advertisement -

Minimnya kapasitas produksi kilang di Indonesia juga jadi penyebab tingginya impor minyak mentah yang kerap membebani neraca perdagangan. Konsumsi Bahan BBM Indonesia mencapai 1,3 juta barel per hari sementara produksi dari kilang dalam negeri hanya mencapai 900 ribu barel per hari.

Baca Juga:  Hadir di Panam, Planet Surf Berikan Diskon hingga 70 Persen

"Kebutuhan kan 1,3-1,4 juta barel BBM, kita juga butuh impor BBM. Kalau kita enggak bangun ya tiap hari impor saja. Kita juga perlu impor Pertamax dan Premium," kata Nicke.

Sumber: Antara/CNN/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Proyek pengembangan kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) dan Grass Root Refinery (GGR) akan dibangun di beberapa lokasi yakni di Dumai, Plaju, Cilacap, Balongan, Balikpapan, Tuban, dan wilayah lainnya di Indonesia Timur.

Untuk pengembangan tersebut, PT Pertamina (Persero) membutuhkan investasi sebesar US$48 miliar atau sekitar Rp672 triliun (asumsi kurs Rp14 ribu per dolar AS).

"Keseluruhan proyek ini US$48 miliar dan akan berlangsung 6-7 tahun ke depan," kata CEO Refinery & Petrochemical Subholding Pertamina PT Kilang Pertamina Internasional, Ignatius Tallulembang, di Komisi VII DPR, Rabu (1/7/2020).

Ignatius menuturkan bahwa investasi pembangunan kilang penting meski membutuhkan dana besar. Terlebih, selama 30 tahun, Indonesia belum pernah membangun kilang untuk menambah kapasitas produksi bahan bakar minyak (BBM) dari dalam negeri.

Baca Juga:  35 Unit Mobil Esemka Diborong TNI AU

"Kami ingin mengulang kembali karakteristik bisnis oil and gas. 30 tahun kita belum bangun kilang dalam konteks menaikkan kapasitas kilang," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dirut Pertamina Nicke Widyawati mengatakan kualitas kilang-kilang yang ada di Indonesia masih berstandar kategori Euro II. Padahal, negara lain telah menggunakan BBM dengan standar Euro IV bahkan V.

"Negara-negara yang terbelakang saja yang masih menggunakan Euro II. Ini sudah ditinggalkan. Jadi sebetulnya ini mau di-upgrade apa enggak. Kalau enggak di-upgrade menjadi Euro V ini kilang harus ditutup," ujarnya.

Minimnya kapasitas produksi kilang di Indonesia juga jadi penyebab tingginya impor minyak mentah yang kerap membebani neraca perdagangan. Konsumsi Bahan BBM Indonesia mencapai 1,3 juta barel per hari sementara produksi dari kilang dalam negeri hanya mencapai 900 ribu barel per hari.

Baca Juga:  Supermarket Bahan Bangunan Mitra10 Resmi Dibuka, Dapatkan Promo Ini

"Kebutuhan kan 1,3-1,4 juta barel BBM, kita juga butuh impor BBM. Kalau kita enggak bangun ya tiap hari impor saja. Kita juga perlu impor Pertamax dan Premium," kata Nicke.

Sumber: Antara/CNN/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari