Kamis, 12 Maret 2026
- Advertisement -

Generasi Milenial Diharapkan Belajar Etika

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Pengamat hukum sekaligus Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Riau (UIR), Dr Saifuddin Syukur SH MCL mengungkapkan, kurangnya etika anak muda zaman sekarang. Seperti anak-anak muda dan juga mahasiswa masih bersikap sopan kepada orang yang lebih tua, hanya apabila memiliki keperluan.

Ia menganggap generasi saat ini mulai melunturkan tradisi, di mana yang muda menghormati yang lebih tua  dan yang  tua menyayangi yang muda. “Mahasiswa saya, sebelum saya tampil di kelas, jumpa di jalan tak akan peduli dengan kehadiran saya. Tunggu ada kepentingan baru mereka menegur saya, etika tidak ada,” tegas Saifuddin saat menjadi pemateri pada agenda Bedah Buku di Grand Suka Hotel beberapa waktu lalu.

Baca Juga:  Aklamasi, Zulfikri Pimpin Perserosi Pekanbaru

Tak hanya itu, Saifuddin juga memberikan contoh jika di negara lain, memiliki kultur yang lebih bagus jika dibandingkan dengan Indonesia. Di mana ketika seseoramg melakukan kesalahan kecil di tempat umum, mereka menegur dengan memberikan senyuman. Sementara di Indonesia, Saifuddin melihat alih-alih memberikan senyuman,umpatan kasar yang dikeluarkan.

“Kalau di negara kita cemoah serapah yang keluar. Reaksi itu berbeda dengan negara yang mengedepankan nilai-nilai kepatutan dan kewajaran,” tutur Saifuddin.

Sementara itu, Saifuddin mengajak anak-anak muda untuk belajar dari negara-negara yang memiliki etika baik. Seperti Bhutan, Denmark dan lain-lain.

“Buatlah paspor, pergilah ke sana. Di sana korupsi nol, di negara yang pendidikan dan memiliki etika yang bagus,” pungkas Saifuddin.(*2)

Baca Juga:  Stimulus Pajak Dorong Pemulihan Ekonomi

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Pengamat hukum sekaligus Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Riau (UIR), Dr Saifuddin Syukur SH MCL mengungkapkan, kurangnya etika anak muda zaman sekarang. Seperti anak-anak muda dan juga mahasiswa masih bersikap sopan kepada orang yang lebih tua, hanya apabila memiliki keperluan.

Ia menganggap generasi saat ini mulai melunturkan tradisi, di mana yang muda menghormati yang lebih tua  dan yang  tua menyayangi yang muda. “Mahasiswa saya, sebelum saya tampil di kelas, jumpa di jalan tak akan peduli dengan kehadiran saya. Tunggu ada kepentingan baru mereka menegur saya, etika tidak ada,” tegas Saifuddin saat menjadi pemateri pada agenda Bedah Buku di Grand Suka Hotel beberapa waktu lalu.

Baca Juga:  Bappenas Sosialisasikan IYB

Tak hanya itu, Saifuddin juga memberikan contoh jika di negara lain, memiliki kultur yang lebih bagus jika dibandingkan dengan Indonesia. Di mana ketika seseoramg melakukan kesalahan kecil di tempat umum, mereka menegur dengan memberikan senyuman. Sementara di Indonesia, Saifuddin melihat alih-alih memberikan senyuman,umpatan kasar yang dikeluarkan.

“Kalau di negara kita cemoah serapah yang keluar. Reaksi itu berbeda dengan negara yang mengedepankan nilai-nilai kepatutan dan kewajaran,” tutur Saifuddin.

Sementara itu, Saifuddin mengajak anak-anak muda untuk belajar dari negara-negara yang memiliki etika baik. Seperti Bhutan, Denmark dan lain-lain.

- Advertisement -

“Buatlah paspor, pergilah ke sana. Di sana korupsi nol, di negara yang pendidikan dan memiliki etika yang bagus,” pungkas Saifuddin.(*2)

Baca Juga:  Pelantikan Menunggu Rekomendasi KASN
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Pengamat hukum sekaligus Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Riau (UIR), Dr Saifuddin Syukur SH MCL mengungkapkan, kurangnya etika anak muda zaman sekarang. Seperti anak-anak muda dan juga mahasiswa masih bersikap sopan kepada orang yang lebih tua, hanya apabila memiliki keperluan.

Ia menganggap generasi saat ini mulai melunturkan tradisi, di mana yang muda menghormati yang lebih tua  dan yang  tua menyayangi yang muda. “Mahasiswa saya, sebelum saya tampil di kelas, jumpa di jalan tak akan peduli dengan kehadiran saya. Tunggu ada kepentingan baru mereka menegur saya, etika tidak ada,” tegas Saifuddin saat menjadi pemateri pada agenda Bedah Buku di Grand Suka Hotel beberapa waktu lalu.

Baca Juga:  Dokter Rahmansyah Siap Maju Jadi Calon Ketua KONI Pekanbaru

Tak hanya itu, Saifuddin juga memberikan contoh jika di negara lain, memiliki kultur yang lebih bagus jika dibandingkan dengan Indonesia. Di mana ketika seseoramg melakukan kesalahan kecil di tempat umum, mereka menegur dengan memberikan senyuman. Sementara di Indonesia, Saifuddin melihat alih-alih memberikan senyuman,umpatan kasar yang dikeluarkan.

“Kalau di negara kita cemoah serapah yang keluar. Reaksi itu berbeda dengan negara yang mengedepankan nilai-nilai kepatutan dan kewajaran,” tutur Saifuddin.

Sementara itu, Saifuddin mengajak anak-anak muda untuk belajar dari negara-negara yang memiliki etika baik. Seperti Bhutan, Denmark dan lain-lain.

“Buatlah paspor, pergilah ke sana. Di sana korupsi nol, di negara yang pendidikan dan memiliki etika yang bagus,” pungkas Saifuddin.(*2)

Baca Juga:  Hari Pelanggan, BPJS TK Kunjungi Tenaga Kerja Sakit

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari