Jumat, 6 Maret 2026
- Advertisement -

Mayoritas Luhansk Dikuasai Rusia

KIEV (RIAUPOS.CO) – Luhansk hampir jatuh ke tangan Rusia. Gubernur Luhansk Serhiy Haidai, Rabu (20/4) malam mengungkapkan bahwa pasukan Kremlin sudah menguasai sekitar 80 persen wilayah tersebut. Meski begitu, tentara Ukraina masih bertahan.

"Pengeboman begitu intensif sehingga penduduk tidak bisa meninggalkan selter bom," ujar Haidai seperti dikutip Al Jazeera. Rusia sebelumnya sudah menguasai Kreminna. Kini Kota Rubizhne dan Popasna di Luhansk menjadi target.

Wilayah Donbas yang kini diserang Rusia terdiri atas Donetsk dan Luhansk. Di dua wilayah tersebut bercokol pemberontak pro-Rusia yang menyatakan diri merdeka. Pemberontak itu telah berperang dengan tentara Ukraina selama delapan tahun terakhir. Hanya Moskow yang mengakui kemerdekaan mereka. Sebelum invasi dimulai, pemberontak Ukraina pro-Rusia sudah mengontrol 60 persen wilayah Luhansk.

Menguasai Donbas bakal menjadi trofi kemenangan bagi Rusia setelah berperang habis-habisan selama hampir dua bulan. Wilayah yang mayoritas dihuni penduduk Ukraina berbahasa Rusia itu kaya akan tambang batu bara, pusat pabrik baja, dan pabrik peralatan berat.

Baca Juga:  PBNU ke Kapolri: Timur Tengah Hancur karena Civil Society Tak Kuat

Haidai menegaskan bahwa perang masih berlangsung dan situasi bisa berubah kapan pun. Dia mengklaim pasukan Ukraina berhasil menembak mati banyak tentara Rusia. Itu menyebabkan rumah sakit dan pemakaman di wilayah yang dikuasai Kremlin menjadi kewalahan.

Rusia juga mengambil alih Kota Mariupol. Di kota pelabuhan tersebut, hampir semuanya sudah dikuasai kecuali satu tempat, pabrik baja Azovstal. Awalnya, pasukan Negeri Beruang Merah itu diminta menyerang pabrik tersebut. Namun, keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin berubah. Dia meminta agar pabrik tersebut dikepung saja.

Keputusan tersebut diambil setelah Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu memberi tahu bahwa di Azovstal ada ribuan tentara Ukraina. Luas Azovstal lebih dari 10 kilometer persegi, memiliki banyak terowongan serta bengkel. Menyerang langsung dianggap bukan cara yang bijak. Shoigu memperkirakan butuh beberapa hari lagi sebelum pabrik tersebut bisa dikuasai.

Baca Juga:  Insentif Mulai Sentuh Industri Media Massa

Ukraina berhasil mengevakuasi sebagian penduduk Mariupol pada Rabu dengan menggunakan empat bus via koridor kemanusiaan yang disetujui Rusia. Masih ada ribuan warga sipil lainnya yang tertinggal. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan siap berdialog tanpa syarat dengan Rusia terkait Mariupol. Dia bahkan siap menukar tentara Rusia yang kini ditahan oleh Ukraina demi pembebasan penduduk Mariupol. "Kami siap untuk format pertukaran apa pun demi rakyat kami, baik militer maupun sipil," tegas Zelensky.(sha/c6/bay/jrr)

Laporan JPG, Jakarta

KIEV (RIAUPOS.CO) – Luhansk hampir jatuh ke tangan Rusia. Gubernur Luhansk Serhiy Haidai, Rabu (20/4) malam mengungkapkan bahwa pasukan Kremlin sudah menguasai sekitar 80 persen wilayah tersebut. Meski begitu, tentara Ukraina masih bertahan.

"Pengeboman begitu intensif sehingga penduduk tidak bisa meninggalkan selter bom," ujar Haidai seperti dikutip Al Jazeera. Rusia sebelumnya sudah menguasai Kreminna. Kini Kota Rubizhne dan Popasna di Luhansk menjadi target.

Wilayah Donbas yang kini diserang Rusia terdiri atas Donetsk dan Luhansk. Di dua wilayah tersebut bercokol pemberontak pro-Rusia yang menyatakan diri merdeka. Pemberontak itu telah berperang dengan tentara Ukraina selama delapan tahun terakhir. Hanya Moskow yang mengakui kemerdekaan mereka. Sebelum invasi dimulai, pemberontak Ukraina pro-Rusia sudah mengontrol 60 persen wilayah Luhansk.

Menguasai Donbas bakal menjadi trofi kemenangan bagi Rusia setelah berperang habis-habisan selama hampir dua bulan. Wilayah yang mayoritas dihuni penduduk Ukraina berbahasa Rusia itu kaya akan tambang batu bara, pusat pabrik baja, dan pabrik peralatan berat.

Baca Juga:  MUI Bolehkan Salat Berjemaah tanpa Masker

Haidai menegaskan bahwa perang masih berlangsung dan situasi bisa berubah kapan pun. Dia mengklaim pasukan Ukraina berhasil menembak mati banyak tentara Rusia. Itu menyebabkan rumah sakit dan pemakaman di wilayah yang dikuasai Kremlin menjadi kewalahan.

- Advertisement -

Rusia juga mengambil alih Kota Mariupol. Di kota pelabuhan tersebut, hampir semuanya sudah dikuasai kecuali satu tempat, pabrik baja Azovstal. Awalnya, pasukan Negeri Beruang Merah itu diminta menyerang pabrik tersebut. Namun, keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin berubah. Dia meminta agar pabrik tersebut dikepung saja.

Keputusan tersebut diambil setelah Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu memberi tahu bahwa di Azovstal ada ribuan tentara Ukraina. Luas Azovstal lebih dari 10 kilometer persegi, memiliki banyak terowongan serta bengkel. Menyerang langsung dianggap bukan cara yang bijak. Shoigu memperkirakan butuh beberapa hari lagi sebelum pabrik tersebut bisa dikuasai.

- Advertisement -
Baca Juga:  Tak Lagi Jabat Wawako, Pasha Ungu Luncurkan Dua Single Baru

Ukraina berhasil mengevakuasi sebagian penduduk Mariupol pada Rabu dengan menggunakan empat bus via koridor kemanusiaan yang disetujui Rusia. Masih ada ribuan warga sipil lainnya yang tertinggal. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan siap berdialog tanpa syarat dengan Rusia terkait Mariupol. Dia bahkan siap menukar tentara Rusia yang kini ditahan oleh Ukraina demi pembebasan penduduk Mariupol. "Kami siap untuk format pertukaran apa pun demi rakyat kami, baik militer maupun sipil," tegas Zelensky.(sha/c6/bay/jrr)

Laporan JPG, Jakarta

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

KIEV (RIAUPOS.CO) – Luhansk hampir jatuh ke tangan Rusia. Gubernur Luhansk Serhiy Haidai, Rabu (20/4) malam mengungkapkan bahwa pasukan Kremlin sudah menguasai sekitar 80 persen wilayah tersebut. Meski begitu, tentara Ukraina masih bertahan.

"Pengeboman begitu intensif sehingga penduduk tidak bisa meninggalkan selter bom," ujar Haidai seperti dikutip Al Jazeera. Rusia sebelumnya sudah menguasai Kreminna. Kini Kota Rubizhne dan Popasna di Luhansk menjadi target.

Wilayah Donbas yang kini diserang Rusia terdiri atas Donetsk dan Luhansk. Di dua wilayah tersebut bercokol pemberontak pro-Rusia yang menyatakan diri merdeka. Pemberontak itu telah berperang dengan tentara Ukraina selama delapan tahun terakhir. Hanya Moskow yang mengakui kemerdekaan mereka. Sebelum invasi dimulai, pemberontak Ukraina pro-Rusia sudah mengontrol 60 persen wilayah Luhansk.

Menguasai Donbas bakal menjadi trofi kemenangan bagi Rusia setelah berperang habis-habisan selama hampir dua bulan. Wilayah yang mayoritas dihuni penduduk Ukraina berbahasa Rusia itu kaya akan tambang batu bara, pusat pabrik baja, dan pabrik peralatan berat.

Baca Juga:  Jatim Kenthir Community Jajal Tol PKU-Dumai

Haidai menegaskan bahwa perang masih berlangsung dan situasi bisa berubah kapan pun. Dia mengklaim pasukan Ukraina berhasil menembak mati banyak tentara Rusia. Itu menyebabkan rumah sakit dan pemakaman di wilayah yang dikuasai Kremlin menjadi kewalahan.

Rusia juga mengambil alih Kota Mariupol. Di kota pelabuhan tersebut, hampir semuanya sudah dikuasai kecuali satu tempat, pabrik baja Azovstal. Awalnya, pasukan Negeri Beruang Merah itu diminta menyerang pabrik tersebut. Namun, keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin berubah. Dia meminta agar pabrik tersebut dikepung saja.

Keputusan tersebut diambil setelah Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu memberi tahu bahwa di Azovstal ada ribuan tentara Ukraina. Luas Azovstal lebih dari 10 kilometer persegi, memiliki banyak terowongan serta bengkel. Menyerang langsung dianggap bukan cara yang bijak. Shoigu memperkirakan butuh beberapa hari lagi sebelum pabrik tersebut bisa dikuasai.

Baca Juga:  KPK Amankan Uang Pecahan Dolar AS Senilai Rp393 Juta

Ukraina berhasil mengevakuasi sebagian penduduk Mariupol pada Rabu dengan menggunakan empat bus via koridor kemanusiaan yang disetujui Rusia. Masih ada ribuan warga sipil lainnya yang tertinggal. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan siap berdialog tanpa syarat dengan Rusia terkait Mariupol. Dia bahkan siap menukar tentara Rusia yang kini ditahan oleh Ukraina demi pembebasan penduduk Mariupol. "Kami siap untuk format pertukaran apa pun demi rakyat kami, baik militer maupun sipil," tegas Zelensky.(sha/c6/bay/jrr)

Laporan JPG, Jakarta

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari