Jumat, 6 November 2026
- Advertisement -

Pimpinan MPR Bisa Diperebutkan Tiga Kubu

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Paket pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) terdiri dari empat fraksi yang ada di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), ditambah satu orang dari kelompok Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Direktur Emrus Corner, Emrus Sihombing menyarankan pemilihan pimpinan MPR dilakukan dengan sistem musyawarah. Hanya saja, kata Emrus, kalau memang harus terjadi voting, maka bisa tercipta tiga paket.

Dia beralasan, kalau misalnya soliditas partai koalisi pendukung Joko Widodo – KH Ma'ruf Amin semakin berkurang, maka bisa saja terbentuk satu paket lagi. Artinya, akan ada dua paket dari partai koalisi pendukung Jokowi – Ma'ruf.

Dia menjelaskan, hipotesanya adalah bila ada parpol yang kepentingan politiknya belum terakomodasi, dan juga tidak sependapat dengan masuknya anggota koalisi baru, maka bisa saja membentuk paket lagi.

Baca Juga:  DPR Sahkan RUU P3 Jadi Landasan Omnibus Law

Selain itu, kata dia, partai koalisi pendukung Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, di luar Partai Gerindra, bisa juga membentuk satu paket lagi. ''Jadi, kalau voting terjadi bisa tiga paket,'' ujarnya, Sabtu (27/7/2019) malam.
Menurut Emrus, salah satu paket yang dibentuk itu bisa saja untuk memecah suara. Artinya, ujar Emrus, bisa saja ada kompromi politik sebelumnya di belakang panggung, untuk membentuk paket yang berfungsi memecah suara. ''Jadi, salah satu paket yang dibentuk itu bisa saja untuk memecah suara,'' jelas Emrus.

Lebih lanjut Emrus menyatakan, kalau memang nanti terjadi musyawarah, maka hanya akan ada dua paket yang dimusyawarahkan. Berdasar hasil musyawarah, kata Emrus, akan diputuskan satu paket yang dipilih aklamasi. ''Musyawarah itu salah satu paket disetujui, atau dari dua paket itu berbaur menjadi satu untuk dimusyawarahkan,'' ungkap Emrus.

Baca Juga:  PDIP Minta Pengusutan Kekerasan terhadap Relawan Ganjar-Mahfud Transparan

Nah, kata dia, kompromi harus dilakukan dengan semangat kebangsaan, bukan karena kepentingan pragmatis. ''Kompromi kebangsaan bukan kompromi pragmatis,'' tegasnya.

Dia menegaskan, daripada dengan voting sebaiknya pemilihan dilakukan menggunakan musyawarah. Menurut dia, kalau voting, sama saja MPR tidak mengindahkan musyawarah. ''Jadi harus musyawarah, jangan voting, supaya tetap terjaga muruah MPR,'' jelasnya.(boy)

Sumber: JPNN.com
Editor: Fopin A Sinaga

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Paket pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) terdiri dari empat fraksi yang ada di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), ditambah satu orang dari kelompok Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Direktur Emrus Corner, Emrus Sihombing menyarankan pemilihan pimpinan MPR dilakukan dengan sistem musyawarah. Hanya saja, kata Emrus, kalau memang harus terjadi voting, maka bisa tercipta tiga paket.

Dia beralasan, kalau misalnya soliditas partai koalisi pendukung Joko Widodo – KH Ma'ruf Amin semakin berkurang, maka bisa saja terbentuk satu paket lagi. Artinya, akan ada dua paket dari partai koalisi pendukung Jokowi – Ma'ruf.

Dia menjelaskan, hipotesanya adalah bila ada parpol yang kepentingan politiknya belum terakomodasi, dan juga tidak sependapat dengan masuknya anggota koalisi baru, maka bisa saja membentuk paket lagi.

Baca Juga:  Pindah Partai, Kader Baru Demokrat Siap Denda Rp 1 Miliar

Selain itu, kata dia, partai koalisi pendukung Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, di luar Partai Gerindra, bisa juga membentuk satu paket lagi. ''Jadi, kalau voting terjadi bisa tiga paket,'' ujarnya, Sabtu (27/7/2019) malam.
Menurut Emrus, salah satu paket yang dibentuk itu bisa saja untuk memecah suara. Artinya, ujar Emrus, bisa saja ada kompromi politik sebelumnya di belakang panggung, untuk membentuk paket yang berfungsi memecah suara. ''Jadi, salah satu paket yang dibentuk itu bisa saja untuk memecah suara,'' jelas Emrus.

- Advertisement -

Lebih lanjut Emrus menyatakan, kalau memang nanti terjadi musyawarah, maka hanya akan ada dua paket yang dimusyawarahkan. Berdasar hasil musyawarah, kata Emrus, akan diputuskan satu paket yang dipilih aklamasi. ''Musyawarah itu salah satu paket disetujui, atau dari dua paket itu berbaur menjadi satu untuk dimusyawarahkan,'' ungkap Emrus.

Baca Juga:  DPR Sahkan RUU P3 Jadi Landasan Omnibus Law

Nah, kata dia, kompromi harus dilakukan dengan semangat kebangsaan, bukan karena kepentingan pragmatis. ''Kompromi kebangsaan bukan kompromi pragmatis,'' tegasnya.

- Advertisement -

Dia menegaskan, daripada dengan voting sebaiknya pemilihan dilakukan menggunakan musyawarah. Menurut dia, kalau voting, sama saja MPR tidak mengindahkan musyawarah. ''Jadi harus musyawarah, jangan voting, supaya tetap terjaga muruah MPR,'' jelasnya.(boy)

Sumber: JPNN.com
Editor: Fopin A Sinaga

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Paket pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) terdiri dari empat fraksi yang ada di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), ditambah satu orang dari kelompok Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Direktur Emrus Corner, Emrus Sihombing menyarankan pemilihan pimpinan MPR dilakukan dengan sistem musyawarah. Hanya saja, kata Emrus, kalau memang harus terjadi voting, maka bisa tercipta tiga paket.

Dia beralasan, kalau misalnya soliditas partai koalisi pendukung Joko Widodo – KH Ma'ruf Amin semakin berkurang, maka bisa saja terbentuk satu paket lagi. Artinya, akan ada dua paket dari partai koalisi pendukung Jokowi – Ma'ruf.

Dia menjelaskan, hipotesanya adalah bila ada parpol yang kepentingan politiknya belum terakomodasi, dan juga tidak sependapat dengan masuknya anggota koalisi baru, maka bisa saja membentuk paket lagi.

Baca Juga:  Pelantikan 9 Kepala Daerah Hasil Pilkada Riau 2020 Diwacanakan Virtual

Selain itu, kata dia, partai koalisi pendukung Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, di luar Partai Gerindra, bisa juga membentuk satu paket lagi. ''Jadi, kalau voting terjadi bisa tiga paket,'' ujarnya, Sabtu (27/7/2019) malam.
Menurut Emrus, salah satu paket yang dibentuk itu bisa saja untuk memecah suara. Artinya, ujar Emrus, bisa saja ada kompromi politik sebelumnya di belakang panggung, untuk membentuk paket yang berfungsi memecah suara. ''Jadi, salah satu paket yang dibentuk itu bisa saja untuk memecah suara,'' jelas Emrus.

Lebih lanjut Emrus menyatakan, kalau memang nanti terjadi musyawarah, maka hanya akan ada dua paket yang dimusyawarahkan. Berdasar hasil musyawarah, kata Emrus, akan diputuskan satu paket yang dipilih aklamasi. ''Musyawarah itu salah satu paket disetujui, atau dari dua paket itu berbaur menjadi satu untuk dimusyawarahkan,'' ungkap Emrus.

Baca Juga:  PKS Kumpulkan Semua Legislator Se-Indonesia

Nah, kata dia, kompromi harus dilakukan dengan semangat kebangsaan, bukan karena kepentingan pragmatis. ''Kompromi kebangsaan bukan kompromi pragmatis,'' tegasnya.

Dia menegaskan, daripada dengan voting sebaiknya pemilihan dilakukan menggunakan musyawarah. Menurut dia, kalau voting, sama saja MPR tidak mengindahkan musyawarah. ''Jadi harus musyawarah, jangan voting, supaya tetap terjaga muruah MPR,'' jelasnya.(boy)

Sumber: JPNN.com
Editor: Fopin A Sinaga

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari