PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Prof Dr Afrizal Nur SThI MIS secara resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Tafsir Kontemporer pertama di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau, Senin (5/10/2026).
Pengukuhan tersebut berlangsung khidmat dalam Sidang Terbuka Senat UIN Suska Riau yang diselenggarakan di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), Pekanbaru.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul ‘‘Dari Ekoteologi Tafsir Menuju Polyvalence Tafsir: Satu Kekayaan Khazanah Tafsir Kontemporer’’, akademisi kelahiran Pekanbaru tahun 1980 ini menyoroti krisis lingkungan dan deforestasi hutan tropis di Indonesia.
Mengutip data ilmiah, Prof Afrizal mengungkapkan keprihatinannya atas hilangnya jutaan hektare hutan primer serta maraknya bencana alam akibat degradasi lingkungan.
Ia kemudian menawarkan gagasan polyvalence tafsir, yakni pembacaan ekologis atas ayat-ayat Al-Qur’an agar teks suci dapat menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan otoritas sakralnya.
“Al-Qur’an bukanlah teks yang terkunci pada satu makna tunggal yang beku, melainkan teks yang hidup (a living text),” tegas lulusan doktor Universiti Kebangsaan Malaysia tersebut.
Prof Afrizal mencontohkan ayat tentang khalifah dalam Surah Al-Baqarah ayat 30. Menurutnya, ayat tersebut di era modern harus dimaknai sebagai mandat kolektif untuk menjaga kelestarian hutan dan mencegah kepunahan spesies.
Dari pendekatan ekoteologi tersebut, ia merumuskan konsep kesalehan ekologis yang mengintegrasikan nalar analisis bahasa (bayani), data ilmiah dan hukum positif (burhani), serta kesadaran spiritual (irfani).
Melalui momentum pengukuhan ini, Prof Afrizal menegaskan bahwa relevansi Al-Qur’an akan terus teruji dari sejauh mana teks suci tersebut mampu berdialog dan memberikan solusi atas krisis nyata yang dihadapi umat manusia.(nto/c)
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Prof Dr Afrizal Nur SThI MIS secara resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Tafsir Kontemporer pertama di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau, Senin (5/10/2026).
Pengukuhan tersebut berlangsung khidmat dalam Sidang Terbuka Senat UIN Suska Riau yang diselenggarakan di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), Pekanbaru.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul ‘‘Dari Ekoteologi Tafsir Menuju Polyvalence Tafsir: Satu Kekayaan Khazanah Tafsir Kontemporer’’, akademisi kelahiran Pekanbaru tahun 1980 ini menyoroti krisis lingkungan dan deforestasi hutan tropis di Indonesia.
Mengutip data ilmiah, Prof Afrizal mengungkapkan keprihatinannya atas hilangnya jutaan hektare hutan primer serta maraknya bencana alam akibat degradasi lingkungan.
Ia kemudian menawarkan gagasan polyvalence tafsir, yakni pembacaan ekologis atas ayat-ayat Al-Qur’an agar teks suci dapat menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan otoritas sakralnya.
“Al-Qur’an bukanlah teks yang terkunci pada satu makna tunggal yang beku, melainkan teks yang hidup (a living text),” tegas lulusan doktor Universiti Kebangsaan Malaysia tersebut.
Prof Afrizal mencontohkan ayat tentang khalifah dalam Surah Al-Baqarah ayat 30. Menurutnya, ayat tersebut di era modern harus dimaknai sebagai mandat kolektif untuk menjaga kelestarian hutan dan mencegah kepunahan spesies.
Dari pendekatan ekoteologi tersebut, ia merumuskan konsep kesalehan ekologis yang mengintegrasikan nalar analisis bahasa (bayani), data ilmiah dan hukum positif (burhani), serta kesadaran spiritual (irfani).
Melalui momentum pengukuhan ini, Prof Afrizal menegaskan bahwa relevansi Al-Qur’an akan terus teruji dari sejauh mana teks suci tersebut mampu berdialog dan memberikan solusi atas krisis nyata yang dihadapi umat manusia.(nto/c)