Senin, 22 Juli 2024

Dari Kaki Gunung Marapi ke Perkampungan

Batu Besar dan Kayu Terbawa Lumpur Mengalir Deras

“Nek, ada air bah. Air besar datang,” kata Wati (40) kepada neneknya yang tengah lelap, Sabtu (11/5) larut malam jelang pergantian hari. Listrik padam, tepat di belakang rumahnya samar suara rintihan kambing sejenak hilang karena kerasnya dentuman bebatuan besar yang saling beradu dengan pohon kayu disertai lumpur. Air bah mengalir deras mengarah ke areal persawahan dan meluluhlantakkan perkampungan yang dilintasi.

Laporan EKA G PUTRA, Tanah Datar

- Advertisement -

(RIAUPOS.CO) – Kamis (9/5) hari libur nasional menjadi akhir pekan panjang bagi warga yang menghabiskan waktu untuk sekadar liburan, menghadiri undangan acara atau sekadar silaturahmi di wilayah Sumatera Barat. Daerah yang ditempuh sekitar 4-5 jam perjalanan darat dari Kota Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau.

Sejak hari itu pula, hujan turun memandikan hijau perbukitan dan membasahi tanah kecoklatan, hingga wanginya menyeruak bersama kabut tipis kala menghirup napas dalam-dalam. Segarnya.

Sesuai prediksi Badan Meteologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sehari sebelumnya, hampir seluruh wilayah Indonesia bakal diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga deras. Termasuk wilayah Riau dan Sumatera Barat saat libur panjang akhir pekan kemarin.

- Advertisement -

Sabtu (11/5), petang beberapa daerah di Sumatera Barat diguyur hujan dengan intensitas tinggi, sebagian lain gerimis tanpa henti. Malam minggu pun kelabu, hujan tak kunjung reda. Wati dan keluarga berkumpul usai makan malam di kediamannya, di wilayah Jorong Pabalutan, Rambatan, Tanah Datar. Di tengah perbincangan, tak lama listrik padam tiba-tiba
dan mereka pun istirahat.

Jelang tengah malam, Wati panik karena mendengar arus deras namun bukan berasal dari sungai kecil aliran irigasi di belakang rumahnya. Kira-kira, ceritanya sekitar pukul 02.00 WIB, air bah sekilas terdengar karena dentuman bebatuan. “Saat melihat ke belakang rumah lewat jendela, terlihat dari kejauhan batu-batu dan kayu-kayu besar sudah menyapu semua yang dilewati. Keras sekali suaranya,” kata Wati bercerita.

Karena mengetahui galodo telah datang, ia pun membangunkan seluruh keluarga yang barangkali baru saja terlelap. Berkumpul di luar rumah sambil berselancar di dunia maya. Dari situlah mereka mengetahui bahwa sedang terjadi galodo atau banjir bandang dari lahar dingin Gunung Marapi yang terlihat gagah berdiri dari Tanah Datar tersebut.

“Ternyata di Agam sudah sejak pukul 10-an galodo dan di Tanah Datar hampir jam 12 malam. Juga ada kabar tetangga di Lima Kaum (daerah sekitar yang dilintasi galodo) hilang. Beberapa mobil hanyut, bahkan hewan ternak juga,” katanya perihal kejadian galodo Sabtu (11/5) malam.

Memang, menurut informasi yang dirangkum Riau Pos dari Padang Ekspres (Riau Pos Group), galodo turun dengan deras sekitar pukul 22.00 WIB Sabtu (11/5) malam di Agam dan menghantam apapun yang dilewatinya. Sebelumnya, sekitar pukul 21.00 WIB, terjadi longsor di kawasan Malalak Timur sehingga arus lalu lintas tidak bisa dilewati.

Kemudian, di kawasan Lembah Anai, Sabtu malam itu juga lalu lintas ditutup karena ruas jalan terban terbawa arus sungai yang sangat deras di Batang Anai. Alhasil, Sabtu (11/5) malam di tengah guyuran hujan itu, hampir semua akses jalan di daerah yang berada di kaki Gunung Marapi, tutup karena dilintasi galodo. Seperti Agam, Tanah Datar, Padangpanjang, dan Padangpariaman.

Kepanikan di kediaman Wati, tampaknya juga menyelimuti hampir seluruh masyarakat di Kabupaten Tanah Datar dan kabupaten terdampak galodo lainnya malam itu. “Kami sampai tidak tidur karena takut ada air bah susulan,” akunya sambil berjaga-jaga.

Baca Juga:  Korban Galodo Mengungsi ke Pondok Sawa

Matahari mulai terik menyambut Ahad (12/5), pukul 07.00 WIB. Ambulans semakin banyak
melintas, disusul kendaraan polisi, juga ada petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Beberapa lokasi di Rambatan dan wilayah sekitarnya di Tanah Datar tampak ada titik kemacetan.

Puluhan tiang listrik utama di Lima Kaum, Tanah Datar, tumbang. Jembatan penghubung antardesa putus. Lumpur setinggi betis orang dewasa sudah menutupi ruas-ruas jalan. Di sisi lumpur itu pula, pokok kayu besar di atas rumah warga. Bebatuan hampir sama besar dengan mobil sudah menghancurkan beberapa rumah di Jorong Panti, tak jauh dari Terminal Dobok, Batusangkar.

Sungai berlumpur terbentuk di anak-anak sungai dengan ukuran lebih lebar. Beberapa warga menangisi hewan ternaknya yang berkandang-kandang sudah lenyap. Hamparan hijau sawah dan kebun cabai serta sayuran lainnya di beberapa daerah di Tanah Datar sudah menghitam ditutup lumpur yang membentuk sungai tadi. Lengkap dengan bebatuan besar dan pohon-pohon kayu besar yang sudah terpotong-potong.

“Rencananya Senin mau ke sawah. Setelah panen sebulan lalu. Sekarang sawah sudah terkikis dan ditutup lumpur. Sudah tak ada lagi,” keluh Popi, warga Tanah Sirah, Tanah Datar, Ahad (12/5) pagi mengisahkan.

Memang, sekali air bah databng, sekalian tepian berubah. Bukan saja hewan ternak warga yang lenyap, namun juga barangkali ribuan tanaman harus menyerah dan mati. Serupa batang kelapa yang sudah patah disapu galodo.

Empat bocah berlarian mencari ikan pada Ahad pagi di tepian sawah. Hampir pukul 08.00 WIB, di wilayah Pabalutan, beberapa petak sawah jaraknya dari banjir bandang yang menerjang di wilayah tersebut dan menutupi areal persawahan warga. “Ada mayat, ada bentuk orang di lumpur,” kata salah seorang bocah berteriak ke arah orangtuanya di rumah yang berada tak jauh dari lokasi bencana setelah sesekali bermain di lumpur saat mencari ikan.

Sontak, penemuan mayat di sekitar lokasi sisa galodo ini semakin menambah kepanikan di tengah masyarakat. Karena memang beberapa warga yang dikabarkan hilang dari kampung lainnya, ternyata hanyut diseret arus banjir bandang.

Meskipun rumah-rumah yang tidak terkena aliran galodo tetap aman dan selamat, suasana haru karena mayat terus ditemukan hingga h+2 kejadian bencana galodo Sumbar seakan tak terbendung. Bahkan beberapa jenazahnya sudah tidak bisa dikenali. Demikian pula akses jalan, dan penghidupan masyarakat di ceruk-ceruk kampung yang terenggut karena disapu galodo Sabtu malam.

Hingga Selasa (14/5), berdasarkan data resmi BNPB, tercatat 50 orang meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor, 27 orang hilang, 37 orang luka-luka, dan 3.396 jiwa mengungsi. Korban meninggal dunia, rinciannya di Kota Padangpanjang 2 orang, Kabupaten Agam 20 orang, Kabupaten Tanahdatar 19 orang, Kota Padang 1 orang, dan Kabupaten Padangpariaman 8 orang.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Banjir Lahar Dingin dan Longsor, menyampaikan langkah-langkah yang diambil, di antaranya, pemulihan akses jalan darat dari daerah terdampak dengan alat berat, pembersihan material longsor, evakuasi korban dan kordinasi dengan OPD terkait.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan resmi yang diterima Riau Pos, mengatakan, pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak.

Pengiriman logistik bantuan dan pencarian korban terus dilakukan, meskipun masih ada tempat dan jalur yang tertutup dan terisolir. Pengiriman bantuan dilakukan melalui jalur udara dan darat dengan menggunakan jembatan darurat. “BNPB juga telah menyalurkan bantuan awal dana operasional berupa Dana Siap Pakai (DSP) kepada pemerintah daerah terdampak banjir lahar dingin dengan jumlah total Rp3,2 miliar,” katanya.

Baca Juga:  Wacanakan Relokasi Warga di Zona Merah

Bantuan logistik lainnya seperti tenda pengungsian, tenda keluarga, sembako, makanan siap saji, hygiene kit, terpal, selimut, kasur, pompa alpon, jendet light, lampu solar panel, toilet portable, gergaji pohon, dan perlengkapan kebersihan telah didistribusikan.

Pada hari kedua kunjungan kerja ke Sumbar, Selasa (14/5), Kepala BNPB dijadwalkan meninjau langsung daerah terdampak dan melakukan tinjauan udara untuk melihat dampak kerusakan akibat banjir lahar dan longsor. “Kunjungan ini bentuk kehadiran negara untuk memastikan penanganan darurat dan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi dengan baik,” kata Muhari.

Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati yang juga langsung melakukan rapat dengan Pemprov Sumbar pada Ahad (12/5) lalu menegaskan, hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat merupakan pemicu banjir bandang, banjir lahar hujan dan longsor yang melanda kabupaten/kota di Sumbar yaitu Kabupaten Agam, Tanah Datar, dan Padangpanjang.

Dijelaskan Dwikorita, berdasarkan analisa BMKG per tanggal 6 Mei 2024 telah terdeteksi adanya pola sirkulasi siklonik di sebelah barat Aceh yang berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan secara intensif.

“Merespons hal tersebut, BMKG di hari yang sama langsung menerbitkan peringatan dini potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat berujung bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, banjir lahar hujan dan longsor di Sumatera Barat,” ungkap Dwikorita.

Informasi dalam bentuk peringatan dini tersebut, kata dia, sangat penting untuk ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait yang berwenang melakukan upaya mitigasi lanjut untuk mengurangi risiko bencana di Sumatera Barat, khususnya di daerah rawan bencana seperti di bantaran sungai, pegunungan dan perbukitan, selama periode 9-12 Mei 2024.

Sementara terkait lahar gunung, Dwikorita menjelaskan, material lahar tersebut berasal dari material erupsi Gunung Marapi beberapa waktu lalu yang masih mengendap di lereng bagian atas gunung, kemudian hanyut terbawa air hujan ke arah hilir, hingga menerjang tiga kabupaten yang berada di sekitarnya.

Sementara itu, dalam kesempatan tersebut Kepala BMKG Dwikorita kembali mengingatkan kepada masyarakat bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi bakal terjadi hingga tanggal 22 Mei 2024 atau selama sepekan ke depan. “Prospek cuaca selama satu pekan ke depan masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat,” ujarnya.

Berdasarkan analisis BMKG, lanjutnya, hingga 3 Mei 2024 berpotensi terjadinya hujan dengan intesitas sedang hingga lebat. Sedangkan, pada tanggal 14 Mei diperkirakan ada penurunan intensitas hujan menjadi ringan, lalu pada tanggal 15-17 Mei 2024 diprediksi terjadi peningkatan curah hujan lagi hingga 22 Mei 2024.

“Artinya kewaspadaan terhadap terjadinya banjir lahar hujan, juga galodo atau banjir bandang serta longsor ini masih akan berlanjut paling tidak hingga 17-22 Mei atau sepekan ke depan. Maka, masyarakat diimbau untuk menghindar atau menjauhi lereng-lereng bukit atau gunung yang rawan longsor,” ujarnya.

Selain itu, tambah dia, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus memonitor informasi BMKG, dengan memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini yang selalu dikeluarkan resmi BMKG setiap hari beberapa kali. Dwikorita pun merekomendasikan untuk dilakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Sumbar.

Menurutnya, TMC dengan cara menabur zat NaCl atau garam ke langit menggunakan pesawat, merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengendalikan potensi cuaca ekstrem.***

“Nek, ada air bah. Air besar datang,” kata Wati (40) kepada neneknya yang tengah lelap, Sabtu (11/5) larut malam jelang pergantian hari. Listrik padam, tepat di belakang rumahnya samar suara rintihan kambing sejenak hilang karena kerasnya dentuman bebatuan besar yang saling beradu dengan pohon kayu disertai lumpur. Air bah mengalir deras mengarah ke areal persawahan dan meluluhlantakkan perkampungan yang dilintasi.

Laporan EKA G PUTRA, Tanah Datar

(RIAUPOS.CO) – Kamis (9/5) hari libur nasional menjadi akhir pekan panjang bagi warga yang menghabiskan waktu untuk sekadar liburan, menghadiri undangan acara atau sekadar silaturahmi di wilayah Sumatera Barat. Daerah yang ditempuh sekitar 4-5 jam perjalanan darat dari Kota Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau.

Sejak hari itu pula, hujan turun memandikan hijau perbukitan dan membasahi tanah kecoklatan, hingga wanginya menyeruak bersama kabut tipis kala menghirup napas dalam-dalam. Segarnya.

Sesuai prediksi Badan Meteologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sehari sebelumnya, hampir seluruh wilayah Indonesia bakal diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga deras. Termasuk wilayah Riau dan Sumatera Barat saat libur panjang akhir pekan kemarin.

Sabtu (11/5), petang beberapa daerah di Sumatera Barat diguyur hujan dengan intensitas tinggi, sebagian lain gerimis tanpa henti. Malam minggu pun kelabu, hujan tak kunjung reda. Wati dan keluarga berkumpul usai makan malam di kediamannya, di wilayah Jorong Pabalutan, Rambatan, Tanah Datar. Di tengah perbincangan, tak lama listrik padam tiba-tiba
dan mereka pun istirahat.

Jelang tengah malam, Wati panik karena mendengar arus deras namun bukan berasal dari sungai kecil aliran irigasi di belakang rumahnya. Kira-kira, ceritanya sekitar pukul 02.00 WIB, air bah sekilas terdengar karena dentuman bebatuan. “Saat melihat ke belakang rumah lewat jendela, terlihat dari kejauhan batu-batu dan kayu-kayu besar sudah menyapu semua yang dilewati. Keras sekali suaranya,” kata Wati bercerita.

Karena mengetahui galodo telah datang, ia pun membangunkan seluruh keluarga yang barangkali baru saja terlelap. Berkumpul di luar rumah sambil berselancar di dunia maya. Dari situlah mereka mengetahui bahwa sedang terjadi galodo atau banjir bandang dari lahar dingin Gunung Marapi yang terlihat gagah berdiri dari Tanah Datar tersebut.

“Ternyata di Agam sudah sejak pukul 10-an galodo dan di Tanah Datar hampir jam 12 malam. Juga ada kabar tetangga di Lima Kaum (daerah sekitar yang dilintasi galodo) hilang. Beberapa mobil hanyut, bahkan hewan ternak juga,” katanya perihal kejadian galodo Sabtu (11/5) malam.

Memang, menurut informasi yang dirangkum Riau Pos dari Padang Ekspres (Riau Pos Group), galodo turun dengan deras sekitar pukul 22.00 WIB Sabtu (11/5) malam di Agam dan menghantam apapun yang dilewatinya. Sebelumnya, sekitar pukul 21.00 WIB, terjadi longsor di kawasan Malalak Timur sehingga arus lalu lintas tidak bisa dilewati.

Kemudian, di kawasan Lembah Anai, Sabtu malam itu juga lalu lintas ditutup karena ruas jalan terban terbawa arus sungai yang sangat deras di Batang Anai. Alhasil, Sabtu (11/5) malam di tengah guyuran hujan itu, hampir semua akses jalan di daerah yang berada di kaki Gunung Marapi, tutup karena dilintasi galodo. Seperti Agam, Tanah Datar, Padangpanjang, dan Padangpariaman.

Kepanikan di kediaman Wati, tampaknya juga menyelimuti hampir seluruh masyarakat di Kabupaten Tanah Datar dan kabupaten terdampak galodo lainnya malam itu. “Kami sampai tidak tidur karena takut ada air bah susulan,” akunya sambil berjaga-jaga.

Baca Juga:  Banjir Bandang dan Lahar Dingin di Tanahdatar, Masyarakat Diimbau Tetap Waspada

Matahari mulai terik menyambut Ahad (12/5), pukul 07.00 WIB. Ambulans semakin banyak
melintas, disusul kendaraan polisi, juga ada petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Beberapa lokasi di Rambatan dan wilayah sekitarnya di Tanah Datar tampak ada titik kemacetan.

Puluhan tiang listrik utama di Lima Kaum, Tanah Datar, tumbang. Jembatan penghubung antardesa putus. Lumpur setinggi betis orang dewasa sudah menutupi ruas-ruas jalan. Di sisi lumpur itu pula, pokok kayu besar di atas rumah warga. Bebatuan hampir sama besar dengan mobil sudah menghancurkan beberapa rumah di Jorong Panti, tak jauh dari Terminal Dobok, Batusangkar.

Sungai berlumpur terbentuk di anak-anak sungai dengan ukuran lebih lebar. Beberapa warga menangisi hewan ternaknya yang berkandang-kandang sudah lenyap. Hamparan hijau sawah dan kebun cabai serta sayuran lainnya di beberapa daerah di Tanah Datar sudah menghitam ditutup lumpur yang membentuk sungai tadi. Lengkap dengan bebatuan besar dan pohon-pohon kayu besar yang sudah terpotong-potong.

“Rencananya Senin mau ke sawah. Setelah panen sebulan lalu. Sekarang sawah sudah terkikis dan ditutup lumpur. Sudah tak ada lagi,” keluh Popi, warga Tanah Sirah, Tanah Datar, Ahad (12/5) pagi mengisahkan.

Memang, sekali air bah databng, sekalian tepian berubah. Bukan saja hewan ternak warga yang lenyap, namun juga barangkali ribuan tanaman harus menyerah dan mati. Serupa batang kelapa yang sudah patah disapu galodo.

Empat bocah berlarian mencari ikan pada Ahad pagi di tepian sawah. Hampir pukul 08.00 WIB, di wilayah Pabalutan, beberapa petak sawah jaraknya dari banjir bandang yang menerjang di wilayah tersebut dan menutupi areal persawahan warga. “Ada mayat, ada bentuk orang di lumpur,” kata salah seorang bocah berteriak ke arah orangtuanya di rumah yang berada tak jauh dari lokasi bencana setelah sesekali bermain di lumpur saat mencari ikan.

Sontak, penemuan mayat di sekitar lokasi sisa galodo ini semakin menambah kepanikan di tengah masyarakat. Karena memang beberapa warga yang dikabarkan hilang dari kampung lainnya, ternyata hanyut diseret arus banjir bandang.

Meskipun rumah-rumah yang tidak terkena aliran galodo tetap aman dan selamat, suasana haru karena mayat terus ditemukan hingga h+2 kejadian bencana galodo Sumbar seakan tak terbendung. Bahkan beberapa jenazahnya sudah tidak bisa dikenali. Demikian pula akses jalan, dan penghidupan masyarakat di ceruk-ceruk kampung yang terenggut karena disapu galodo Sabtu malam.

Hingga Selasa (14/5), berdasarkan data resmi BNPB, tercatat 50 orang meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor, 27 orang hilang, 37 orang luka-luka, dan 3.396 jiwa mengungsi. Korban meninggal dunia, rinciannya di Kota Padangpanjang 2 orang, Kabupaten Agam 20 orang, Kabupaten Tanahdatar 19 orang, Kota Padang 1 orang, dan Kabupaten Padangpariaman 8 orang.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Banjir Lahar Dingin dan Longsor, menyampaikan langkah-langkah yang diambil, di antaranya, pemulihan akses jalan darat dari daerah terdampak dengan alat berat, pembersihan material longsor, evakuasi korban dan kordinasi dengan OPD terkait.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan resmi yang diterima Riau Pos, mengatakan, pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak.

Pengiriman logistik bantuan dan pencarian korban terus dilakukan, meskipun masih ada tempat dan jalur yang tertutup dan terisolir. Pengiriman bantuan dilakukan melalui jalur udara dan darat dengan menggunakan jembatan darurat. “BNPB juga telah menyalurkan bantuan awal dana operasional berupa Dana Siap Pakai (DSP) kepada pemerintah daerah terdampak banjir lahar dingin dengan jumlah total Rp3,2 miliar,” katanya.

Baca Juga:  Pemprov Sumbar Kaji Penanganan Luapan Air Ngarai Sianok

Bantuan logistik lainnya seperti tenda pengungsian, tenda keluarga, sembako, makanan siap saji, hygiene kit, terpal, selimut, kasur, pompa alpon, jendet light, lampu solar panel, toilet portable, gergaji pohon, dan perlengkapan kebersihan telah didistribusikan.

Pada hari kedua kunjungan kerja ke Sumbar, Selasa (14/5), Kepala BNPB dijadwalkan meninjau langsung daerah terdampak dan melakukan tinjauan udara untuk melihat dampak kerusakan akibat banjir lahar dan longsor. “Kunjungan ini bentuk kehadiran negara untuk memastikan penanganan darurat dan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi dengan baik,” kata Muhari.

Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati yang juga langsung melakukan rapat dengan Pemprov Sumbar pada Ahad (12/5) lalu menegaskan, hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat merupakan pemicu banjir bandang, banjir lahar hujan dan longsor yang melanda kabupaten/kota di Sumbar yaitu Kabupaten Agam, Tanah Datar, dan Padangpanjang.

Dijelaskan Dwikorita, berdasarkan analisa BMKG per tanggal 6 Mei 2024 telah terdeteksi adanya pola sirkulasi siklonik di sebelah barat Aceh yang berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan secara intensif.

“Merespons hal tersebut, BMKG di hari yang sama langsung menerbitkan peringatan dini potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat berujung bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, banjir lahar hujan dan longsor di Sumatera Barat,” ungkap Dwikorita.

Informasi dalam bentuk peringatan dini tersebut, kata dia, sangat penting untuk ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait yang berwenang melakukan upaya mitigasi lanjut untuk mengurangi risiko bencana di Sumatera Barat, khususnya di daerah rawan bencana seperti di bantaran sungai, pegunungan dan perbukitan, selama periode 9-12 Mei 2024.

Sementara terkait lahar gunung, Dwikorita menjelaskan, material lahar tersebut berasal dari material erupsi Gunung Marapi beberapa waktu lalu yang masih mengendap di lereng bagian atas gunung, kemudian hanyut terbawa air hujan ke arah hilir, hingga menerjang tiga kabupaten yang berada di sekitarnya.

Sementara itu, dalam kesempatan tersebut Kepala BMKG Dwikorita kembali mengingatkan kepada masyarakat bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi bakal terjadi hingga tanggal 22 Mei 2024 atau selama sepekan ke depan. “Prospek cuaca selama satu pekan ke depan masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat,” ujarnya.

Berdasarkan analisis BMKG, lanjutnya, hingga 3 Mei 2024 berpotensi terjadinya hujan dengan intesitas sedang hingga lebat. Sedangkan, pada tanggal 14 Mei diperkirakan ada penurunan intensitas hujan menjadi ringan, lalu pada tanggal 15-17 Mei 2024 diprediksi terjadi peningkatan curah hujan lagi hingga 22 Mei 2024.

“Artinya kewaspadaan terhadap terjadinya banjir lahar hujan, juga galodo atau banjir bandang serta longsor ini masih akan berlanjut paling tidak hingga 17-22 Mei atau sepekan ke depan. Maka, masyarakat diimbau untuk menghindar atau menjauhi lereng-lereng bukit atau gunung yang rawan longsor,” ujarnya.

Selain itu, tambah dia, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus memonitor informasi BMKG, dengan memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini yang selalu dikeluarkan resmi BMKG setiap hari beberapa kali. Dwikorita pun merekomendasikan untuk dilakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Sumbar.

Menurutnya, TMC dengan cara menabur zat NaCl atau garam ke langit menggunakan pesawat, merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengendalikan potensi cuaca ekstrem.***

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari