Ilustrasi
SIAK SRIINDRAPURA (RIAUPOS.CO) – Kondisi tiga anak di bawah umur yang setiap hari mengemis di Jalan Lintas Kandis-Duri mengundang keprihatinan warga. Ketiga anak asal keluarga dari Binjai, Sumatera Utara, tersebut bahkan sudah tidak lagi bersekolah dan diduga dieksploitasi oleh orang tuanya.
Kepala Dinas Sosial dan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Siak Wan Idris bersama tim turun langsung untuk melihat kondisi ketiga anak tersebut.
Dari hasil pemantauan, ketiganya tampak tetap ceria meski harus menghabiskan sebagian besar waktu di jalan. Mereka biasanya diantar sekitar pukul 08.00 WIB dan baru dijemput pada pukul 18.00 WIB.
“Makan siang dari hasil mengemis itu dengan cara membeli nasi ramas,” terang Wan Idris, baru-baru ini.
Keprihatinan masyarakat terhadap kondisi tersebut kemudian mendorong Dinas Sosial dan PPA Siak mengambil langkah. Setelah melihat langsung kondisi ketiga anak, pihaknya membuat kesepakatan bersama kedua orang tua agar praktik yang membahayakan masa depan anak tersebut dihentikan.
Wan Idris menegaskan, apabila komitmen tersebut diabaikan, sanksi pidana dapat menanti kedua orang tua.
“Hal ini membahayakan masa depan sang anak, dan sanksi pidana menunggu jika abai terhadap komitmen yang dibuat,” sebutnya.
Dari penelusuran tim, ayah ketiga anak sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan. Namun, karena mengalami sakit ambeien, ia berhenti bekerja. Kondisi tersebut membuat sang istri mengambil alih peran sebagai pencari nafkah dengan bekerja mengutip berondolan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.
Pekerjaan tersebut sebenarnya dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga apabila ditekuni. Namun, berdasarkan informasi yang diperoleh tim, pasangan suami istri tersebut juga terlibat perjudian. Akibatnya, penghasilan dari pekerjaan dan aktivitas anak-anak di jalan disebut habis begitu saja.
Tim juga memperoleh keterangan bahwa ketiga anak mengaku pernah mendapat ancaman akan diusir dari rumah jika tidak mengikuti perintah ibunya.
“Kami belum pastikan apakah keduanya benar menikah siri,” ucap Wan Idris.
Keluarga tersebut diketahui memiliki lima anak. Dua anak lainnya yang merupakan anak kembar dititipkan kepada orang tua mereka di Binjai. Sementara tiga anak lainnya berada bersama pasangan tersebut dan dieksploitasi untuk mengemis.
Pada Senin (3/8), tim kembali mendatangi keluarga tersebut untuk melakukan koordinasi dengan ibu dari ketiga anak. Dalam pertemuan itu, diberikan ultimatum agar tindakan serupa tidak kembali dilakukan.
Wan Idris mengatakan, kasus eksploitasi anak menjadi salah satu persoalan yang menonjol di Kabupaten Siak. Sementara persoalan lain seperti kekerasan seksual dan narkoba saat ini ditangani pihak kepolisian.
“Kami mengharapkan dukungan semua pihak, agar tidak ada lagi anak yang berhadapan dengan hukum, atau menjadi korban eksploitasi baik oleh orang lain, maupun keluarga dan orang tua kandung,” katanya.
Koordinasi juga dilakukan dengan pihak kecamatan dan desa. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepedulian seluruh pihak terhadap persoalan anak, sehingga perlindungan terhadap mereka dapat dilakukan secara terpadu demi masa depan yang masih panjang.
Muhammad Fazya Kurniawan dan Halda Mirsyanda terpilih sebagai Bujang Dara Meranti 2026 dan akan mewakili…
MUI mengingatkan masyarakat soal ketentuan agama dalam karnaval dan lomba Agustusan, termasuk busana serta penggunaan…
Wali Kota Pekanbaru mendorong Pramuka menjadi pelopor green city dengan target setiap gudep menanam dan…
Perbaikan jalan di Pekanbaru terus dikebut. Dari target lebih dari 42 kilometer, sebanyak 23,6 kilometer…
Karhutla di Sungai Guntung Hilir, Inhu, meluas hingga 50 hektare dan sulit dipadamkan karena asap…
Kasus tiga anak diduga dieksploitasi di Pelalawan menjadi alarm perlindungan anak. Psikolog mengingatkan pentingnya peran…