BENGKALIS (RIAUPOS.CO) – Festival Lampu Colok tingkat Kabupaten Bengkalis 1447 Hijriah resmi dibuka oleh Bupati Bengkalis Kasmarni, Senin (16/3/2026) malam, dengan suasana meriah yang dipenuhi ribuan masyarakat.
Kegiatan yang dipusatkan di Jalan Utama Dusun Kampung Parit, Desa Pangkalan Batang Barat, Kecamatan Bengkalis ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat Melayu dalam menyambut malam ke-27 Ramadan atau malam 7 likur.
Sejak awal acara, antusiasme masyarakat terlihat tinggi. Ribuan pengunjung memadati lokasi untuk menyaksikan keindahan susunan lampu colok yang tertata artistik dan menerangi kawasan kampung.
Turut hadir dalam pembukaan tersebut sejumlah pejabat, di antaranya Dandim 0303/Bengkalis Letkol Inf Haris Nur Priatno, Danposal Bengkalis Lettu Laut Irwan Nirwan Hastya, perwakilan Polres Bengkalis, serta sejumlah tokoh dan pimpinan instansi lainnya.
Dalam sambutannya, Bupati Bengkalis Kasmarni mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan masyarakat untuk kembali berkumpul dan meramaikan festival yang telah menjadi tradisi turun-temurun tersebut.
Ia menegaskan, Festival Lampu Colok bukan sekadar perayaan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang sarat dengan nilai kebersamaan di tengah masyarakat.
Menurutnya, tradisi ini tidak hanya menghadirkan keindahan melalui cahaya lampu colok, tetapi juga mencerminkan kreativitas serta semangat gotong royong masyarakat dalam melestarikan budaya daerah.
“Melalui festival ini, kita tidak hanya menampilkan keindahan cahaya, tetapi juga memperkuat identitas budaya daerah, khususnya Bengkalis yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda,” ujar Kasmarni.
Ia juga menyampaikan bahwa saat ini pemerintah daerah tengah menerapkan kebijakan efisiensi anggaran di berbagai sektor.
Namun demikian, pemerintah tetap berkomitmen menjaga dan melestarikan tradisi yang memiliki nilai kearifan lokal tinggi.
Kasmarni menegaskan, pelaksanaan Festival Lampu Colok tahun ini merupakan wujud komitmen tersebut, sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk terus berkarya dan berpartisipasi dalam kegiatan positif.
“Kami yakin semangat masyarakat dalam menjaga budaya tidak hanya bergantung pada anggaran, tetapi tumbuh dari rasa kebersamaan dan kecintaan terhadap tradisi,” tambahnya.
Selain itu, ia berharap festival ini dapat mempererat hubungan antarwarga, menumbuhkan kebersamaan, serta menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar lebih mengenal dan mencintai budaya daerah.
Pada kesempatan itu, Bupati juga memberikan apresiasi kepada para pemuda, panitia, pemerintah kecamatan dan desa, serta seluruh masyarakat yang telah berperan aktif dalam menyukseskan festival tersebut.(ksm)

