Rabu, 14 Januari 2026
- Advertisement -
spot_img

Lagi-lagi hanya Runner-Up

SUZHOU  (RIAUPOS.CO) – Indonesia tinggal selangkah lagi merebut gelar juara Badminton Asia Junior Championships, atau Kejuaraan Asia Beregu Campuran Junior 2019. Dalam final melawan Thailand kemarin, Leo Rolly Carnando dkk sudah leading 2-0. Hanya perlu satu kemenangan lagi untuk menyegel gelar juara untuk kali pertama.

Namun, keunggulan itu ditipiskan menjadi 2-1. Lalu disamakan jadi 2-2. Dan akhirnya disalip jadi 2-3 pada partai terakhir. Dalam event yang digelar di Suzhou, Cina, itu tim Merah Putih muda harus rela kembali menjadi runner-up. Mengulang capaian dua tahun lalu, di edisi 2017.

Indonesia membuka keunggulan lewat ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin. Mereka tampil superior. Mengalahkan wakil Thailand Thanawin Madee/Ratchapol Makkasasithorn dengan skor telak 21-11, 21-14 dalam 26 menit. Lalu disusul Putri Kusuma Wardani yang mengalahkan Phittayaporn Chaiwan dalam rubber game.

Baca Juga:  SPS Riau Prioritaskan Anggota sebagai Peserta UKW

Sayang, itulah kemenangan terakhir Indonesia. Tiga partai selanjutnya, tunggal putra, ganda putri, dan ganda campuran gagal. Padahal, di nomor terakhir itu, Merah Putih diwakili oleh juara dunia junior Leo Rolly Carnando/Indah Cahya Sari Jamil. Mereka tunduk dalam straight game yang berakhir 12-21, 16-21 kontra Kunvalut Vitidsarn/Phittayaporn Chaiwan.

Karena bermain dalam kondisi skor imbang 2-2, mereka terbebani. Leo/Indah gagal keluar dari tekanan. Alhasil, mereka tunduk dalam waktu 40 menit. ’’Mereka (lawan, red) sebenarnya nggak terlalu sulit (dikalahkan). Cuma kami yang banyak mati sendiri,’’ jelas Leo dalam pernyataan pers yang dikirim oleh PP PBSI.

’’Mereka lebih sering menutupi kekurangan di lapangan. Mainnya sebenarnya nggak ngatur bola, bukan pola ganda campuran banget,’’ tambah Indah.  

Baca Juga:  Enam Underpass Tol Pekanbaru-Dumai Spesial buat Gajah Liar

Dengan hasil ini, sejak diadakan event beregu campuran mulai diadakan pada 2006, Indonesia belum pernah sekalipun memetik gelar. Dua kali runner-up jadi capaian terbaik Merah Putih muda. Berkebalikan dengan Thailand, yang baru sekali melangkah ke final. Dan langsung juara. Hal ini tentunya harus menjadi bahan evaluasi PP PBSI. Karena mereka adalah wakil-wakil Indonesia di masa depan.

Jika ditelisik satu per satu penyebabnya, tiga nomor yang lepas terjadi karena faktor mentalitas. Rasa tegang tampil di final tidak bisa dihindari. Ini diakui tim ganda putri. Nita Violina Marwah/Putri Syaikah dikalahkan oleh Benyapa Aimsaard/Peeraya Khantaruangsakul 21-16, 16-21, 8-21. (feb/na/jpg)

SUZHOU  (RIAUPOS.CO) – Indonesia tinggal selangkah lagi merebut gelar juara Badminton Asia Junior Championships, atau Kejuaraan Asia Beregu Campuran Junior 2019. Dalam final melawan Thailand kemarin, Leo Rolly Carnando dkk sudah leading 2-0. Hanya perlu satu kemenangan lagi untuk menyegel gelar juara untuk kali pertama.

Namun, keunggulan itu ditipiskan menjadi 2-1. Lalu disamakan jadi 2-2. Dan akhirnya disalip jadi 2-3 pada partai terakhir. Dalam event yang digelar di Suzhou, Cina, itu tim Merah Putih muda harus rela kembali menjadi runner-up. Mengulang capaian dua tahun lalu, di edisi 2017.

Indonesia membuka keunggulan lewat ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin. Mereka tampil superior. Mengalahkan wakil Thailand Thanawin Madee/Ratchapol Makkasasithorn dengan skor telak 21-11, 21-14 dalam 26 menit. Lalu disusul Putri Kusuma Wardani yang mengalahkan Phittayaporn Chaiwan dalam rubber game.

Baca Juga:  Komisi IV DPRD Riau BahasPembangunan Jalan Alternatif Kendaraan ODOL

Sayang, itulah kemenangan terakhir Indonesia. Tiga partai selanjutnya, tunggal putra, ganda putri, dan ganda campuran gagal. Padahal, di nomor terakhir itu, Merah Putih diwakili oleh juara dunia junior Leo Rolly Carnando/Indah Cahya Sari Jamil. Mereka tunduk dalam straight game yang berakhir 12-21, 16-21 kontra Kunvalut Vitidsarn/Phittayaporn Chaiwan.

Karena bermain dalam kondisi skor imbang 2-2, mereka terbebani. Leo/Indah gagal keluar dari tekanan. Alhasil, mereka tunduk dalam waktu 40 menit. ’’Mereka (lawan, red) sebenarnya nggak terlalu sulit (dikalahkan). Cuma kami yang banyak mati sendiri,’’ jelas Leo dalam pernyataan pers yang dikirim oleh PP PBSI.

- Advertisement -

’’Mereka lebih sering menutupi kekurangan di lapangan. Mainnya sebenarnya nggak ngatur bola, bukan pola ganda campuran banget,’’ tambah Indah.  

Baca Juga:  Tim Ahli Uji Kekuatan Pelabuhan Dumai

Dengan hasil ini, sejak diadakan event beregu campuran mulai diadakan pada 2006, Indonesia belum pernah sekalipun memetik gelar. Dua kali runner-up jadi capaian terbaik Merah Putih muda. Berkebalikan dengan Thailand, yang baru sekali melangkah ke final. Dan langsung juara. Hal ini tentunya harus menjadi bahan evaluasi PP PBSI. Karena mereka adalah wakil-wakil Indonesia di masa depan.

- Advertisement -

Jika ditelisik satu per satu penyebabnya, tiga nomor yang lepas terjadi karena faktor mentalitas. Rasa tegang tampil di final tidak bisa dihindari. Ini diakui tim ganda putri. Nita Violina Marwah/Putri Syaikah dikalahkan oleh Benyapa Aimsaard/Peeraya Khantaruangsakul 21-16, 16-21, 8-21. (feb/na/jpg)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

SUZHOU  (RIAUPOS.CO) – Indonesia tinggal selangkah lagi merebut gelar juara Badminton Asia Junior Championships, atau Kejuaraan Asia Beregu Campuran Junior 2019. Dalam final melawan Thailand kemarin, Leo Rolly Carnando dkk sudah leading 2-0. Hanya perlu satu kemenangan lagi untuk menyegel gelar juara untuk kali pertama.

Namun, keunggulan itu ditipiskan menjadi 2-1. Lalu disamakan jadi 2-2. Dan akhirnya disalip jadi 2-3 pada partai terakhir. Dalam event yang digelar di Suzhou, Cina, itu tim Merah Putih muda harus rela kembali menjadi runner-up. Mengulang capaian dua tahun lalu, di edisi 2017.

Indonesia membuka keunggulan lewat ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin. Mereka tampil superior. Mengalahkan wakil Thailand Thanawin Madee/Ratchapol Makkasasithorn dengan skor telak 21-11, 21-14 dalam 26 menit. Lalu disusul Putri Kusuma Wardani yang mengalahkan Phittayaporn Chaiwan dalam rubber game.

Baca Juga:  Terjadi Jalan Lintas Tanjung Alai Mulai Macet Lagi, Lonjakan Kendaraan dari Arah Riau

Sayang, itulah kemenangan terakhir Indonesia. Tiga partai selanjutnya, tunggal putra, ganda putri, dan ganda campuran gagal. Padahal, di nomor terakhir itu, Merah Putih diwakili oleh juara dunia junior Leo Rolly Carnando/Indah Cahya Sari Jamil. Mereka tunduk dalam straight game yang berakhir 12-21, 16-21 kontra Kunvalut Vitidsarn/Phittayaporn Chaiwan.

Karena bermain dalam kondisi skor imbang 2-2, mereka terbebani. Leo/Indah gagal keluar dari tekanan. Alhasil, mereka tunduk dalam waktu 40 menit. ’’Mereka (lawan, red) sebenarnya nggak terlalu sulit (dikalahkan). Cuma kami yang banyak mati sendiri,’’ jelas Leo dalam pernyataan pers yang dikirim oleh PP PBSI.

’’Mereka lebih sering menutupi kekurangan di lapangan. Mainnya sebenarnya nggak ngatur bola, bukan pola ganda campuran banget,’’ tambah Indah.  

Baca Juga:  Hari Ini, Grand Final Z Face Digelar di Living World Pekanbaru

Dengan hasil ini, sejak diadakan event beregu campuran mulai diadakan pada 2006, Indonesia belum pernah sekalipun memetik gelar. Dua kali runner-up jadi capaian terbaik Merah Putih muda. Berkebalikan dengan Thailand, yang baru sekali melangkah ke final. Dan langsung juara. Hal ini tentunya harus menjadi bahan evaluasi PP PBSI. Karena mereka adalah wakil-wakil Indonesia di masa depan.

Jika ditelisik satu per satu penyebabnya, tiga nomor yang lepas terjadi karena faktor mentalitas. Rasa tegang tampil di final tidak bisa dihindari. Ini diakui tim ganda putri. Nita Violina Marwah/Putri Syaikah dikalahkan oleh Benyapa Aimsaard/Peeraya Khantaruangsakul 21-16, 16-21, 8-21. (feb/na/jpg)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari