Selasa, 27 Januari 2026
- Advertisement -
spot_img

Prof Daeng Ayub Kupas Kepemimpinan Pendidikan Abad 21 Berbasis Budaya Melayu

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Prof Drs Daeng Ayub MPd PhD resmi dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Riau (Unri) dalam sidang pengukuhan yang digelar di Gedung Student Center Unri, Senin (19/1). Ia meraih gelar profesor dalam bidang Manajemen Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unri.

Pria kelahiran Air Muruh, Ranai, 17 Maret 1961 ini merupakan putra dari almarhum H Daeng Tina dan almarhumah Wan Aminah. Ia menikah dengan almarhumah Hj Hefilina SE dan dikaruniai tiga orang anak, yakni dr D Alfhiradina, D Aqlielhafiz SPd, dan D Arasshilfajri.

Riwayat pendidikannya dimulai dari SDN 01 Ranai, PGA 4 Tahun Ranai, PGAN 6 Tahun Tanjungpinang, kemudian melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Riau, S2 di Universitas Negeri Jakarta, serta S3 di Universiti Kebangsaan Malaysia.

Dalam orasi ilmiah pengukuhan yang berjudul “Gaya Pemikiran Kepemimpinan Pendidikan Abad 21 yang Berteraskan Budaya Melayu”, Prof Daeng Ayub menekankan bahwa tuntutan abad ke-21 terus berkembang di berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan, sehingga menuntut peran pemimpin dengan gaya pemikiran yang adaptif.

Baca Juga:  Dekan Ingatkan Jauhi Tiga Dosa Besar PKKMB FISIP Unri

Menurutnya, gaya pemikiran seorang pemimpin sangat menentukan tindakan dan perilaku dalam menjalankan kepemimpinan pendidikan di era perubahan yang cepat.

Ia menjelaskan bahwa kepemimpinan pendidikan abad 21 yang berlandaskan budaya Melayu merupakan amanah yang disertai sifat siddiq, tabligh, dan fathonah, serta harus dijalankan dengan keimanan, kejujuran, keadilan, dan akhlak mulia.

Nilai-nilai tersebut bertujuan membentuk kelurusan hati, akal, niat, dan perbuatan, sehingga setiap kerja yang dilakukan memberi manfaat berkelanjutan serta membawa keberkahan dunia dan akhirat dengan berpegang pada agama, adat, dan undang-undang.

Transformasi kepemimpinan pendidikan, lanjutnya, menjadi prasyarat utama keberhasilan sistem pendidikan di era disrupsi. Filosofi Melayu seperti “yang tua dituakan, yang pandai diturutkan” mencerminkan penghormatan terhadap pengalaman, keilmuan, dan kebijaksanaan dalam kepemimpinan.

Baca Juga:  13 Sasaran Pemprov Riau Penerapan Muatan Budaya Melayu

Budaya Melayu juga menegaskan pentingnya kesinambungan nilai lintas generasi, di mana pemimpin boleh berganti, tetapi nilai-nilai pendidikan harus tetap hidup.

Ia menambahkan bahwa kepemimpinan yang bermartabat tercermin dari sikap teguh memegang adat, bijak menimbang langkah, dan lurus menata niat, sebagaimana falsafah “adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah”.

Dalam pandangan budaya Melayu, adat dan nilai merupakan marwah yang wajib dijaga, karena hilangnya adat berarti runtuhnya martabat kepemimpinan.

Pada akhirnya, kepemimpinan pendidikan dipandang sebagai jalan pengabdian yang menuntut keikhlasan, keberanian, serta kesetiaan pada nilai, yang dijalankan sebagai amanah di dunia dan dipertanggungjawabkan sebagai amal di akhirat. (nto/c)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Prof Drs Daeng Ayub MPd PhD resmi dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Riau (Unri) dalam sidang pengukuhan yang digelar di Gedung Student Center Unri, Senin (19/1). Ia meraih gelar profesor dalam bidang Manajemen Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unri.

Pria kelahiran Air Muruh, Ranai, 17 Maret 1961 ini merupakan putra dari almarhum H Daeng Tina dan almarhumah Wan Aminah. Ia menikah dengan almarhumah Hj Hefilina SE dan dikaruniai tiga orang anak, yakni dr D Alfhiradina, D Aqlielhafiz SPd, dan D Arasshilfajri.

Riwayat pendidikannya dimulai dari SDN 01 Ranai, PGA 4 Tahun Ranai, PGAN 6 Tahun Tanjungpinang, kemudian melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Riau, S2 di Universitas Negeri Jakarta, serta S3 di Universiti Kebangsaan Malaysia.

Dalam orasi ilmiah pengukuhan yang berjudul “Gaya Pemikiran Kepemimpinan Pendidikan Abad 21 yang Berteraskan Budaya Melayu”, Prof Daeng Ayub menekankan bahwa tuntutan abad ke-21 terus berkembang di berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan, sehingga menuntut peran pemimpin dengan gaya pemikiran yang adaptif.

Baca Juga:  Rektor Tutup Perayaan HUT Ke-62 Universitas Riau

Menurutnya, gaya pemikiran seorang pemimpin sangat menentukan tindakan dan perilaku dalam menjalankan kepemimpinan pendidikan di era perubahan yang cepat.

- Advertisement -

Ia menjelaskan bahwa kepemimpinan pendidikan abad 21 yang berlandaskan budaya Melayu merupakan amanah yang disertai sifat siddiq, tabligh, dan fathonah, serta harus dijalankan dengan keimanan, kejujuran, keadilan, dan akhlak mulia.

Nilai-nilai tersebut bertujuan membentuk kelurusan hati, akal, niat, dan perbuatan, sehingga setiap kerja yang dilakukan memberi manfaat berkelanjutan serta membawa keberkahan dunia dan akhirat dengan berpegang pada agama, adat, dan undang-undang.

- Advertisement -

Transformasi kepemimpinan pendidikan, lanjutnya, menjadi prasyarat utama keberhasilan sistem pendidikan di era disrupsi. Filosofi Melayu seperti “yang tua dituakan, yang pandai diturutkan” mencerminkan penghormatan terhadap pengalaman, keilmuan, dan kebijaksanaan dalam kepemimpinan.

Baca Juga:  Pesta Kuliner Unri 2025 Hadirkan 22 Ribu Porsi Makanan Gratis dan Rizky Febian

Budaya Melayu juga menegaskan pentingnya kesinambungan nilai lintas generasi, di mana pemimpin boleh berganti, tetapi nilai-nilai pendidikan harus tetap hidup.

Ia menambahkan bahwa kepemimpinan yang bermartabat tercermin dari sikap teguh memegang adat, bijak menimbang langkah, dan lurus menata niat, sebagaimana falsafah “adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah”.

Dalam pandangan budaya Melayu, adat dan nilai merupakan marwah yang wajib dijaga, karena hilangnya adat berarti runtuhnya martabat kepemimpinan.

Pada akhirnya, kepemimpinan pendidikan dipandang sebagai jalan pengabdian yang menuntut keikhlasan, keberanian, serta kesetiaan pada nilai, yang dijalankan sebagai amanah di dunia dan dipertanggungjawabkan sebagai amal di akhirat. (nto/c)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Prof Drs Daeng Ayub MPd PhD resmi dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Riau (Unri) dalam sidang pengukuhan yang digelar di Gedung Student Center Unri, Senin (19/1). Ia meraih gelar profesor dalam bidang Manajemen Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unri.

Pria kelahiran Air Muruh, Ranai, 17 Maret 1961 ini merupakan putra dari almarhum H Daeng Tina dan almarhumah Wan Aminah. Ia menikah dengan almarhumah Hj Hefilina SE dan dikaruniai tiga orang anak, yakni dr D Alfhiradina, D Aqlielhafiz SPd, dan D Arasshilfajri.

Riwayat pendidikannya dimulai dari SDN 01 Ranai, PGA 4 Tahun Ranai, PGAN 6 Tahun Tanjungpinang, kemudian melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Riau, S2 di Universitas Negeri Jakarta, serta S3 di Universiti Kebangsaan Malaysia.

Dalam orasi ilmiah pengukuhan yang berjudul “Gaya Pemikiran Kepemimpinan Pendidikan Abad 21 yang Berteraskan Budaya Melayu”, Prof Daeng Ayub menekankan bahwa tuntutan abad ke-21 terus berkembang di berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan, sehingga menuntut peran pemimpin dengan gaya pemikiran yang adaptif.

Baca Juga:  Mahasiswa KKN Unri dan SDN 132 Pekanbaru Gelar Lomba Edukatif

Menurutnya, gaya pemikiran seorang pemimpin sangat menentukan tindakan dan perilaku dalam menjalankan kepemimpinan pendidikan di era perubahan yang cepat.

Ia menjelaskan bahwa kepemimpinan pendidikan abad 21 yang berlandaskan budaya Melayu merupakan amanah yang disertai sifat siddiq, tabligh, dan fathonah, serta harus dijalankan dengan keimanan, kejujuran, keadilan, dan akhlak mulia.

Nilai-nilai tersebut bertujuan membentuk kelurusan hati, akal, niat, dan perbuatan, sehingga setiap kerja yang dilakukan memberi manfaat berkelanjutan serta membawa keberkahan dunia dan akhirat dengan berpegang pada agama, adat, dan undang-undang.

Transformasi kepemimpinan pendidikan, lanjutnya, menjadi prasyarat utama keberhasilan sistem pendidikan di era disrupsi. Filosofi Melayu seperti “yang tua dituakan, yang pandai diturutkan” mencerminkan penghormatan terhadap pengalaman, keilmuan, dan kebijaksanaan dalam kepemimpinan.

Baca Juga:  Ingin Kuliah di Malaysia, Ini Pilihan Biayanya untuk S1 hingga S3

Budaya Melayu juga menegaskan pentingnya kesinambungan nilai lintas generasi, di mana pemimpin boleh berganti, tetapi nilai-nilai pendidikan harus tetap hidup.

Ia menambahkan bahwa kepemimpinan yang bermartabat tercermin dari sikap teguh memegang adat, bijak menimbang langkah, dan lurus menata niat, sebagaimana falsafah “adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah”.

Dalam pandangan budaya Melayu, adat dan nilai merupakan marwah yang wajib dijaga, karena hilangnya adat berarti runtuhnya martabat kepemimpinan.

Pada akhirnya, kepemimpinan pendidikan dipandang sebagai jalan pengabdian yang menuntut keikhlasan, keberanian, serta kesetiaan pada nilai, yang dijalankan sebagai amanah di dunia dan dipertanggungjawabkan sebagai amal di akhirat. (nto/c)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari