Seluruh personel TNI AL yang berada di dalam KRI Nanggala-402 gugur. Begitu yang diumumkan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Ahad (25/4) malam. Selamat jalan para pejuang. Penjaga kedaulatan negara. Pengabdianmu senantiasa dikenang. Semoga ditempatkan di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
Tenggelamnya Nanggala-402 mengejutkan kita semua. Kapal yang bertugas menjaga negara dari dasar laut itu mengalami tragedi yang tidak terduga. Berdasarkan hasil pencarian, KRI Nanggala-402 terbelah menjadi tiga bagian. Keyakinan itu didasari dari beberapa bagian yang terdeteksi oleh pengindraan bawah laut oleh KRI Rigel-933 dan MV Swift Rescue. Ada bagian-bagian yang ditemukan. Seperti kemudi vertikal, jangkar, badan kapal, serta serpihan-serpihan lain yang tercerai-berai. Termasuk pakaian MK-11 yang berfungsi sebagai baju keselamatan dalam keadaan darurat.
Tragedi ini harus menjadi perhatian. Semua pihak yang terkait dengan pertahanan negara harus sungguh-sungguh mencari solusi. Evaluasi dan investigasi mesti jadi atensi setelah menuntaskan operasi pencarian dan penyelamatan KRI Nanggala-402 di Laut Utara Bali. Tidak hanya internal TNI AL dan pemerintah, gelora mengevaluasi sekaligus menginvestigasi insiden memilukan tersebut juga harus disuarakan oleh wakil rakyat di Senayan.
Mencari penyebab kecelakaan penting bagi pengoperasian kapal selam ke depan. Sebab itu kesalahan teknis yang mungkin menjadi penyebab tenggelamnya KRI Nanggala 402 harus ditemukan. Hasil temuan itu bisa menjadi bahan evaluasi untuk kapal selam lainnya.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hendaknya juga ikut terlibat. Kedua institusi ini bisa mendayagunakan lembaga riset kelautan di lembaga lain seperti BPPT, LIPI, atau badan penelitian dan pengembangan kementerian terkait. Perlu mengerahkan semua kemampuan riset yang ada untuk menganalisis penyebab kecelakaan kapal selam yang sudah berusia 42 tahun tersebut.
Evaluasi dan investigasi insiden yang menyebabkan 53 personel TNI AL gugur itu harus dilaksanakan secara menyeluruh. Sebab, selain berisiko menimbulkan berita simpang siur di publik, hal itu juga berpotensi menimbulkan polemik bersifat politis.
Belajar dari KRI Nanggala 402, pemerintah hendaknya juga melakukan evaluasi terhadap seluruh alat utama sistem senjata (Alutsista) yang dimiliki Tentara Nasional Indonesia. Peralatan yang memang sudah termakan usia hendaknya diistirahatkan. Diganti dengan yang baru, tentu juga harus dengan teknologi terbaru.
Semoga ada hikmah dari tragedi KRI Nanggala 402. Selamat jalan pejuang kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).***
Seluruh personel TNI AL yang berada di dalam KRI Nanggala-402 gugur. Begitu yang diumumkan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Ahad (25/4) malam. Selamat jalan para pejuang. Penjaga kedaulatan negara. Pengabdianmu senantiasa dikenang. Semoga ditempatkan di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
Tenggelamnya Nanggala-402 mengejutkan kita semua. Kapal yang bertugas menjaga negara dari dasar laut itu mengalami tragedi yang tidak terduga. Berdasarkan hasil pencarian, KRI Nanggala-402 terbelah menjadi tiga bagian. Keyakinan itu didasari dari beberapa bagian yang terdeteksi oleh pengindraan bawah laut oleh KRI Rigel-933 dan MV Swift Rescue. Ada bagian-bagian yang ditemukan. Seperti kemudi vertikal, jangkar, badan kapal, serta serpihan-serpihan lain yang tercerai-berai. Termasuk pakaian MK-11 yang berfungsi sebagai baju keselamatan dalam keadaan darurat.
Tragedi ini harus menjadi perhatian. Semua pihak yang terkait dengan pertahanan negara harus sungguh-sungguh mencari solusi. Evaluasi dan investigasi mesti jadi atensi setelah menuntaskan operasi pencarian dan penyelamatan KRI Nanggala-402 di Laut Utara Bali. Tidak hanya internal TNI AL dan pemerintah, gelora mengevaluasi sekaligus menginvestigasi insiden memilukan tersebut juga harus disuarakan oleh wakil rakyat di Senayan.
Mencari penyebab kecelakaan penting bagi pengoperasian kapal selam ke depan. Sebab itu kesalahan teknis yang mungkin menjadi penyebab tenggelamnya KRI Nanggala 402 harus ditemukan. Hasil temuan itu bisa menjadi bahan evaluasi untuk kapal selam lainnya.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hendaknya juga ikut terlibat. Kedua institusi ini bisa mendayagunakan lembaga riset kelautan di lembaga lain seperti BPPT, LIPI, atau badan penelitian dan pengembangan kementerian terkait. Perlu mengerahkan semua kemampuan riset yang ada untuk menganalisis penyebab kecelakaan kapal selam yang sudah berusia 42 tahun tersebut.
Evaluasi dan investigasi insiden yang menyebabkan 53 personel TNI AL gugur itu harus dilaksanakan secara menyeluruh. Sebab, selain berisiko menimbulkan berita simpang siur di publik, hal itu juga berpotensi menimbulkan polemik bersifat politis.
Belajar dari KRI Nanggala 402, pemerintah hendaknya juga melakukan evaluasi terhadap seluruh alat utama sistem senjata (Alutsista) yang dimiliki Tentara Nasional Indonesia. Peralatan yang memang sudah termakan usia hendaknya diistirahatkan. Diganti dengan yang baru, tentu juga harus dengan teknologi terbaru.
Semoga ada hikmah dari tragedi KRI Nanggala 402. Selamat jalan pejuang kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).***