Sabtu, 5 April 2025
spot_img

Formalin, Rodamin, dan Borak Masih Ditemukan di Takjil

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Idulfitri dan Ramadan erat kaitannya dengan makanan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan pengawasan terhadap makanan yang beredar saat Ramadan dan menjelang Idulfitri.

Kepala BPOM Penny K Lukito menyatakan bahwa ada penurunan temuan produk tidak memenuhi ketentuan. Misalnya pada jajanan berbuka puasa, ada penurunan temuan. Tahun lalu ada 1,77 persen makanan takjil yang diteliti mengandung formalin, rodamin, borak dan yang lainnya. "Ini merupakan hal baik tapi kita harus terus melakukan pengawasan," ujarnya, kemarin.

Penny menyatakan bahwa penurunan ini merupakan kerja sama yang baik dengan pemerintah daerah dan UKM. Menurutnya kerja sama lintas sektor ini diperlukan. Ada beberapa program yang sudah dijalankan. Misalnya Program Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS). "Serta pendampingan kepada pelaku usaha di saranan produksi dan peredaran," ungkapnya.

Baca Juga:  PT KTU Astra Peduli Pendidikan Bakti untuk Negeri

BPOM melaksanakan pengawasan pangan sejak 28 Maret hingga 6 Mei. Intensifikasi pengawasan pangan ini dilaksanakan oleh 73 unit pelaksana teknis (UPT) BPOM. "Target intensifikasi pengawasan ini difokuskan pada izin edar, kedaluwarsa, dan rusak di sarana peredaran," katanya. Tidak hanya tempat fisik, BPOM juga memelototi ecommerce. Menurutnya ecommerce harus diperhatikan karena masih banyak ditemukan makanan yang tidak layak makan.

Penny menyatakan dari 1.899 sarana peredaran yang diperiksa, terdapat 601 atau 31,6 persen sarana peredaran yang menjual produk pangan rusak, kedaluwarsa, dan tanpa izin edar. Jika dirincikan ada 576 sarana ritel, 22 distributor, dua gudang e-commerce, dan satu importir. Jumlah total temuan produk ada 2.594 produk. "Diperkirakan memiliki total nilai ekonomi mencapai Rp470.000.000," bebernya.

Baca Juga:  Suhu Panas Belum Tentu Membatasi Penyebaran Virus Corona

Lima jenis pangan tanpa izin edar terbanyak yang ditemukan adalah bahan tambahan pangan (BTP), bumbu siap pakai, makanan ringan ekstrudat, minuman berperisa, dan minuman serbuk kopi. Sementara lima jenis temuan pangan kedaluwarsa terbanyak adalah bumbu siap pakai, minuman serbuk kopi, minuman serbuk berperisa, biskuit, dan produk bakery. Lalu untuk pangan rusak yang paling banyak ditemukan adalah Susu Kental Manis (SKM), saus, ikan dalam kaleng, susu Ultra High Temperature (UHT), dan biskuit.(lyn/jpg)

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Idulfitri dan Ramadan erat kaitannya dengan makanan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan pengawasan terhadap makanan yang beredar saat Ramadan dan menjelang Idulfitri.

Kepala BPOM Penny K Lukito menyatakan bahwa ada penurunan temuan produk tidak memenuhi ketentuan. Misalnya pada jajanan berbuka puasa, ada penurunan temuan. Tahun lalu ada 1,77 persen makanan takjil yang diteliti mengandung formalin, rodamin, borak dan yang lainnya. "Ini merupakan hal baik tapi kita harus terus melakukan pengawasan," ujarnya, kemarin.

Penny menyatakan bahwa penurunan ini merupakan kerja sama yang baik dengan pemerintah daerah dan UKM. Menurutnya kerja sama lintas sektor ini diperlukan. Ada beberapa program yang sudah dijalankan. Misalnya Program Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS). "Serta pendampingan kepada pelaku usaha di saranan produksi dan peredaran," ungkapnya.

Baca Juga:  Literasi Digital Syarat Mutlak Para Pencari Kerja

BPOM melaksanakan pengawasan pangan sejak 28 Maret hingga 6 Mei. Intensifikasi pengawasan pangan ini dilaksanakan oleh 73 unit pelaksana teknis (UPT) BPOM. "Target intensifikasi pengawasan ini difokuskan pada izin edar, kedaluwarsa, dan rusak di sarana peredaran," katanya. Tidak hanya tempat fisik, BPOM juga memelototi ecommerce. Menurutnya ecommerce harus diperhatikan karena masih banyak ditemukan makanan yang tidak layak makan.

Penny menyatakan dari 1.899 sarana peredaran yang diperiksa, terdapat 601 atau 31,6 persen sarana peredaran yang menjual produk pangan rusak, kedaluwarsa, dan tanpa izin edar. Jika dirincikan ada 576 sarana ritel, 22 distributor, dua gudang e-commerce, dan satu importir. Jumlah total temuan produk ada 2.594 produk. "Diperkirakan memiliki total nilai ekonomi mencapai Rp470.000.000," bebernya.

Baca Juga:  Pecinta Mercedes Benz dan Harley Davidson

Lima jenis pangan tanpa izin edar terbanyak yang ditemukan adalah bahan tambahan pangan (BTP), bumbu siap pakai, makanan ringan ekstrudat, minuman berperisa, dan minuman serbuk kopi. Sementara lima jenis temuan pangan kedaluwarsa terbanyak adalah bumbu siap pakai, minuman serbuk kopi, minuman serbuk berperisa, biskuit, dan produk bakery. Lalu untuk pangan rusak yang paling banyak ditemukan adalah Susu Kental Manis (SKM), saus, ikan dalam kaleng, susu Ultra High Temperature (UHT), dan biskuit.(lyn/jpg)

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Formalin, Rodamin, dan Borak Masih Ditemukan di Takjil

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Idulfitri dan Ramadan erat kaitannya dengan makanan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan pengawasan terhadap makanan yang beredar saat Ramadan dan menjelang Idulfitri.

Kepala BPOM Penny K Lukito menyatakan bahwa ada penurunan temuan produk tidak memenuhi ketentuan. Misalnya pada jajanan berbuka puasa, ada penurunan temuan. Tahun lalu ada 1,77 persen makanan takjil yang diteliti mengandung formalin, rodamin, borak dan yang lainnya. "Ini merupakan hal baik tapi kita harus terus melakukan pengawasan," ujarnya, kemarin.

Penny menyatakan bahwa penurunan ini merupakan kerja sama yang baik dengan pemerintah daerah dan UKM. Menurutnya kerja sama lintas sektor ini diperlukan. Ada beberapa program yang sudah dijalankan. Misalnya Program Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS). "Serta pendampingan kepada pelaku usaha di saranan produksi dan peredaran," ungkapnya.

Baca Juga:  Mau FB, IG, WhatsApp Aman dari Hacker, Fitur ini Bisa Dicoba

BPOM melaksanakan pengawasan pangan sejak 28 Maret hingga 6 Mei. Intensifikasi pengawasan pangan ini dilaksanakan oleh 73 unit pelaksana teknis (UPT) BPOM. "Target intensifikasi pengawasan ini difokuskan pada izin edar, kedaluwarsa, dan rusak di sarana peredaran," katanya. Tidak hanya tempat fisik, BPOM juga memelototi ecommerce. Menurutnya ecommerce harus diperhatikan karena masih banyak ditemukan makanan yang tidak layak makan.

Penny menyatakan dari 1.899 sarana peredaran yang diperiksa, terdapat 601 atau 31,6 persen sarana peredaran yang menjual produk pangan rusak, kedaluwarsa, dan tanpa izin edar. Jika dirincikan ada 576 sarana ritel, 22 distributor, dua gudang e-commerce, dan satu importir. Jumlah total temuan produk ada 2.594 produk. "Diperkirakan memiliki total nilai ekonomi mencapai Rp470.000.000," bebernya.

Baca Juga:  Visa Taiwan

Lima jenis pangan tanpa izin edar terbanyak yang ditemukan adalah bahan tambahan pangan (BTP), bumbu siap pakai, makanan ringan ekstrudat, minuman berperisa, dan minuman serbuk kopi. Sementara lima jenis temuan pangan kedaluwarsa terbanyak adalah bumbu siap pakai, minuman serbuk kopi, minuman serbuk berperisa, biskuit, dan produk bakery. Lalu untuk pangan rusak yang paling banyak ditemukan adalah Susu Kental Manis (SKM), saus, ikan dalam kaleng, susu Ultra High Temperature (UHT), dan biskuit.(lyn/jpg)

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Idulfitri dan Ramadan erat kaitannya dengan makanan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan pengawasan terhadap makanan yang beredar saat Ramadan dan menjelang Idulfitri.

Kepala BPOM Penny K Lukito menyatakan bahwa ada penurunan temuan produk tidak memenuhi ketentuan. Misalnya pada jajanan berbuka puasa, ada penurunan temuan. Tahun lalu ada 1,77 persen makanan takjil yang diteliti mengandung formalin, rodamin, borak dan yang lainnya. "Ini merupakan hal baik tapi kita harus terus melakukan pengawasan," ujarnya, kemarin.

Penny menyatakan bahwa penurunan ini merupakan kerja sama yang baik dengan pemerintah daerah dan UKM. Menurutnya kerja sama lintas sektor ini diperlukan. Ada beberapa program yang sudah dijalankan. Misalnya Program Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS). "Serta pendampingan kepada pelaku usaha di saranan produksi dan peredaran," ungkapnya.

Baca Juga:  Mau FB, IG, WhatsApp Aman dari Hacker, Fitur ini Bisa Dicoba

BPOM melaksanakan pengawasan pangan sejak 28 Maret hingga 6 Mei. Intensifikasi pengawasan pangan ini dilaksanakan oleh 73 unit pelaksana teknis (UPT) BPOM. "Target intensifikasi pengawasan ini difokuskan pada izin edar, kedaluwarsa, dan rusak di sarana peredaran," katanya. Tidak hanya tempat fisik, BPOM juga memelototi ecommerce. Menurutnya ecommerce harus diperhatikan karena masih banyak ditemukan makanan yang tidak layak makan.

Penny menyatakan dari 1.899 sarana peredaran yang diperiksa, terdapat 601 atau 31,6 persen sarana peredaran yang menjual produk pangan rusak, kedaluwarsa, dan tanpa izin edar. Jika dirincikan ada 576 sarana ritel, 22 distributor, dua gudang e-commerce, dan satu importir. Jumlah total temuan produk ada 2.594 produk. "Diperkirakan memiliki total nilai ekonomi mencapai Rp470.000.000," bebernya.

Baca Juga:  Bersinergi dan Bekerja Sama dalam Menjalankan Program Kerja

Lima jenis pangan tanpa izin edar terbanyak yang ditemukan adalah bahan tambahan pangan (BTP), bumbu siap pakai, makanan ringan ekstrudat, minuman berperisa, dan minuman serbuk kopi. Sementara lima jenis temuan pangan kedaluwarsa terbanyak adalah bumbu siap pakai, minuman serbuk kopi, minuman serbuk berperisa, biskuit, dan produk bakery. Lalu untuk pangan rusak yang paling banyak ditemukan adalah Susu Kental Manis (SKM), saus, ikan dalam kaleng, susu Ultra High Temperature (UHT), dan biskuit.(lyn/jpg)

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari