Jumat, 9 Januari 2026
- Advertisement -
spot_img

Banjir Tahun Ini Hendaknya Jadi Pelajaran untuk Tahun Depan

Kasus banjir di Pekanbaru dan beberapa tempat lainnya di Riau selalu terulang setiap tahun. Jika melihat ritme setiap tahunnya, sepertinya tidak dapat diatasi, agaknya seperti ungkapan "hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama", seharusnya manusia jangan seperti keledai, yang terperosok di lubang yang sama. Artinya, segala sesuatu kejadian yang menimpa manusia, jangan sampai terulang lagi. Namun kasus banjir di Pekanbaru sudah puluhan tahun banjir, selalu muncul kubangan-kubangan air di titik yang sama. Bahkan sekarang makin meluas.

Dalam sepekan ini, banjir melanda Kota Pekanbaru, walau hujan tak lama, hanya beberapa jam, namun curah hujan sangat deras, menyebabkan banjir di beberapa titik langganan banjir di wilayah Pekanbaru. Aneh memang, tapi itulah yang sering dialami warga Kota Pekanbaru. Apakah ini disebabkan alam yang sudah tidak seimbang lagi-perubahan iklim- atau kebijakan pembangunan di negeri ini tidak sesuai dengan hukum alam atau kedua-duanya.

Air hujan yang semestinya dapat dialirkan ke arah drainase, tetapi kenyataannya tidak, drainase tidak mampu menampung air yang datang. Sebab, drainase dibangun bertentangan dengan hukum air —hukum air mengalir ke tempat terendah— maka banjir pun tak terelakkan. 

Jadi untuk memprediksi kondisi Pekanbaru sangat mudah, kalau tidak banjir, ya debu beterbangan saat kemarau yang diselingi dengan kabut asap dari hasil pembakaran hutan dan lahan. Kondisi ini tidak lagi beraturan, bukitnya memasuki April, malah musim hujan yang datang. 

Jika kita biarkan, di suatu saat, ancaman banjir ini akan menyeruak menjadi ancaman yang mengerikan, jika tata ruang kota ini tidak segera diperbaiki.

Kita berharap, jangan sampai ancaman itu menjadi kenyataan, cukuplah kita mengambil pelajaran dari musibah yang pernah kita alami setiap tahun. Rasa cemas akan kebanjiran dan kekeringan itu harus dihapuskan, dengan cara memperbaiki infrastruktur dan tata kota yang ada.

Jika selama ini dianggap pemerintah belum berhasil, maka ke depan diperlukan model manajemen penanganan banjir yang lebih baik lagi.  Pertumbuhan penduduk Pekanbaru yang sangat tinggi ini, sangat mempengaruhi tata ruang kota. Oleh sebab itu, tata ruang itu seharusnya disiapkan dengan secermat mungkin.

Banjir akan menjadi ancaman "bom besar" bagi warga kota ini, jika tidak segera ditangani dengan segera. Kita saksikan sendiri bagaimana Kota Jakarta, yang lumpuh gara-gara banjir. Banjir, bukan hanya mengancam masyarakat yang bermukin di dekat sungai, tetapi warga kota yang jauh dari sungai pun terancam banjir. Mari kita mulai dari diri sendiri, mengubah cara hidup yang ramah lingkungan, buang sampah pada tempatnya dan buat sumur resapan.

Semoga kita terhindar dari ancaman-ancaman itu, sebab kita bukan keledai yang mau jatuh di lubang yang sama. Kabarnya, keledai ternyata binatang yang cerdas, dia jarang terperosot di titik lubang yang sama, tetapi manusia yang sering mengalami kesalahan di masalah yang sama.

Banjir di Pekanbaru belum lama ini hendaknya menjadi perhatian Pemko dan Pemprov agar tahun depan tidak lagi banjir di tempat yang sama. Bila Pemko minta bantuan dana APBN, sehingga kota ini aman dari banjir.***
 

Kasus banjir di Pekanbaru dan beberapa tempat lainnya di Riau selalu terulang setiap tahun. Jika melihat ritme setiap tahunnya, sepertinya tidak dapat diatasi, agaknya seperti ungkapan "hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama", seharusnya manusia jangan seperti keledai, yang terperosok di lubang yang sama. Artinya, segala sesuatu kejadian yang menimpa manusia, jangan sampai terulang lagi. Namun kasus banjir di Pekanbaru sudah puluhan tahun banjir, selalu muncul kubangan-kubangan air di titik yang sama. Bahkan sekarang makin meluas.

Dalam sepekan ini, banjir melanda Kota Pekanbaru, walau hujan tak lama, hanya beberapa jam, namun curah hujan sangat deras, menyebabkan banjir di beberapa titik langganan banjir di wilayah Pekanbaru. Aneh memang, tapi itulah yang sering dialami warga Kota Pekanbaru. Apakah ini disebabkan alam yang sudah tidak seimbang lagi-perubahan iklim- atau kebijakan pembangunan di negeri ini tidak sesuai dengan hukum alam atau kedua-duanya.

Air hujan yang semestinya dapat dialirkan ke arah drainase, tetapi kenyataannya tidak, drainase tidak mampu menampung air yang datang. Sebab, drainase dibangun bertentangan dengan hukum air —hukum air mengalir ke tempat terendah— maka banjir pun tak terelakkan. 

Jadi untuk memprediksi kondisi Pekanbaru sangat mudah, kalau tidak banjir, ya debu beterbangan saat kemarau yang diselingi dengan kabut asap dari hasil pembakaran hutan dan lahan. Kondisi ini tidak lagi beraturan, bukitnya memasuki April, malah musim hujan yang datang. 

Jika kita biarkan, di suatu saat, ancaman banjir ini akan menyeruak menjadi ancaman yang mengerikan, jika tata ruang kota ini tidak segera diperbaiki.

- Advertisement -

Kita berharap, jangan sampai ancaman itu menjadi kenyataan, cukuplah kita mengambil pelajaran dari musibah yang pernah kita alami setiap tahun. Rasa cemas akan kebanjiran dan kekeringan itu harus dihapuskan, dengan cara memperbaiki infrastruktur dan tata kota yang ada.

Jika selama ini dianggap pemerintah belum berhasil, maka ke depan diperlukan model manajemen penanganan banjir yang lebih baik lagi.  Pertumbuhan penduduk Pekanbaru yang sangat tinggi ini, sangat mempengaruhi tata ruang kota. Oleh sebab itu, tata ruang itu seharusnya disiapkan dengan secermat mungkin.

- Advertisement -

Banjir akan menjadi ancaman "bom besar" bagi warga kota ini, jika tidak segera ditangani dengan segera. Kita saksikan sendiri bagaimana Kota Jakarta, yang lumpuh gara-gara banjir. Banjir, bukan hanya mengancam masyarakat yang bermukin di dekat sungai, tetapi warga kota yang jauh dari sungai pun terancam banjir. Mari kita mulai dari diri sendiri, mengubah cara hidup yang ramah lingkungan, buang sampah pada tempatnya dan buat sumur resapan.

Semoga kita terhindar dari ancaman-ancaman itu, sebab kita bukan keledai yang mau jatuh di lubang yang sama. Kabarnya, keledai ternyata binatang yang cerdas, dia jarang terperosot di titik lubang yang sama, tetapi manusia yang sering mengalami kesalahan di masalah yang sama.

Banjir di Pekanbaru belum lama ini hendaknya menjadi perhatian Pemko dan Pemprov agar tahun depan tidak lagi banjir di tempat yang sama. Bila Pemko minta bantuan dana APBN, sehingga kota ini aman dari banjir.***
 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

Kasus banjir di Pekanbaru dan beberapa tempat lainnya di Riau selalu terulang setiap tahun. Jika melihat ritme setiap tahunnya, sepertinya tidak dapat diatasi, agaknya seperti ungkapan "hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama", seharusnya manusia jangan seperti keledai, yang terperosok di lubang yang sama. Artinya, segala sesuatu kejadian yang menimpa manusia, jangan sampai terulang lagi. Namun kasus banjir di Pekanbaru sudah puluhan tahun banjir, selalu muncul kubangan-kubangan air di titik yang sama. Bahkan sekarang makin meluas.

Dalam sepekan ini, banjir melanda Kota Pekanbaru, walau hujan tak lama, hanya beberapa jam, namun curah hujan sangat deras, menyebabkan banjir di beberapa titik langganan banjir di wilayah Pekanbaru. Aneh memang, tapi itulah yang sering dialami warga Kota Pekanbaru. Apakah ini disebabkan alam yang sudah tidak seimbang lagi-perubahan iklim- atau kebijakan pembangunan di negeri ini tidak sesuai dengan hukum alam atau kedua-duanya.

Air hujan yang semestinya dapat dialirkan ke arah drainase, tetapi kenyataannya tidak, drainase tidak mampu menampung air yang datang. Sebab, drainase dibangun bertentangan dengan hukum air —hukum air mengalir ke tempat terendah— maka banjir pun tak terelakkan. 

Jadi untuk memprediksi kondisi Pekanbaru sangat mudah, kalau tidak banjir, ya debu beterbangan saat kemarau yang diselingi dengan kabut asap dari hasil pembakaran hutan dan lahan. Kondisi ini tidak lagi beraturan, bukitnya memasuki April, malah musim hujan yang datang. 

Jika kita biarkan, di suatu saat, ancaman banjir ini akan menyeruak menjadi ancaman yang mengerikan, jika tata ruang kota ini tidak segera diperbaiki.

Kita berharap, jangan sampai ancaman itu menjadi kenyataan, cukuplah kita mengambil pelajaran dari musibah yang pernah kita alami setiap tahun. Rasa cemas akan kebanjiran dan kekeringan itu harus dihapuskan, dengan cara memperbaiki infrastruktur dan tata kota yang ada.

Jika selama ini dianggap pemerintah belum berhasil, maka ke depan diperlukan model manajemen penanganan banjir yang lebih baik lagi.  Pertumbuhan penduduk Pekanbaru yang sangat tinggi ini, sangat mempengaruhi tata ruang kota. Oleh sebab itu, tata ruang itu seharusnya disiapkan dengan secermat mungkin.

Banjir akan menjadi ancaman "bom besar" bagi warga kota ini, jika tidak segera ditangani dengan segera. Kita saksikan sendiri bagaimana Kota Jakarta, yang lumpuh gara-gara banjir. Banjir, bukan hanya mengancam masyarakat yang bermukin di dekat sungai, tetapi warga kota yang jauh dari sungai pun terancam banjir. Mari kita mulai dari diri sendiri, mengubah cara hidup yang ramah lingkungan, buang sampah pada tempatnya dan buat sumur resapan.

Semoga kita terhindar dari ancaman-ancaman itu, sebab kita bukan keledai yang mau jatuh di lubang yang sama. Kabarnya, keledai ternyata binatang yang cerdas, dia jarang terperosot di titik lubang yang sama, tetapi manusia yang sering mengalami kesalahan di masalah yang sama.

Banjir di Pekanbaru belum lama ini hendaknya menjadi perhatian Pemko dan Pemprov agar tahun depan tidak lagi banjir di tempat yang sama. Bila Pemko minta bantuan dana APBN, sehingga kota ini aman dari banjir.***
 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari