Minggu, 22 Maret 2026
- Advertisement -

Riset dan Birokrasi Tidak Bisa Kawin

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin membuka secara resmi Rapat Kerja Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta Senin (24/2). Ia meminta BPPT harus punya prioritas riset dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

"Salah satu tolak ukur keberhasilan BPPT adalah terpakainya inovasi teknologi oleh masyarakat Indonesia," kata Ma'ruf Amin.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu juga mengatakan, untuk mewujudkan hal itu perlu ada upaya hilirasi hasil inovasi dan kerja sama dengan mitra industri.

Dia juga menuturkan, saat ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah begitu pesat. Inovasi-inovasi baru terus bermunculan. Inovasi tersebut telah memberikan efisiensi dan efektivitas di setiap sektor industri. Baik itu sektor produksi, jasa, dan informasi.

Baca Juga:  Airlangga: Zona Merah, Pusat Perbelanjaan dan Restoran Tutup Jam 8 Malam

Diingatkannya bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam besar. Namun karena kurangnya penguasaan iptek untuk inovasi, maka nilai tambah yang dihasikan masih kalah dengan negara-negara maju.

"Untuk itu perlu upaya peningkatan sumber daya iptek di tanah air," paparnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Menristek Bambang Brodjonegoro menyampaikan kabar gembira. Impian Indonesia segera memiliki drone tempur produk dalam negeri segera terwujud.

"Salah satunya drone Elang Hitam ditetapkan sebagai prioritas riset nasional dan dipih untuk diterapkan secepatnya," ujarnya.

Dalam kesempatan itu Bambang juga menyampaikan, sejumlah hambatan dalam kegiatan riset di Indonesia. Di antara yang paling menonjol adalah kaitannya pada birokrasi. Menurutnya, masih banyak kegiatan riset yang orientasinya adalah untuk serapan atau menghabiskan anggaran.

Baca Juga:  "The Tourist", Proyek Baru Jamie Dorman

"Riset dan birokrasi tidak bisa kawin," katanya.

Untuk itu ke depan dia mengatakan perlu ada upaya debirokratisasi dana riset. Selain itu anggaran riset dari industri perlu di dorong. Sementara saat ini sekitar 80 persen dana riset nasional masih dari uang negara.

Sementara itu Kepala BPPT Hammam Riza menyampaikan, sedang diupayakan akselerasi dalam pengembangan drone Elang Hitam. Khususnya yang memiliki spesifikasi tempur atau kombatan. Drone ini memiliki tujuan untuk mendukung kemandirian industri pertahanan dan keamanan dalam negeri. Sekaligu mendukung upaya menjaga kedaulatan bangsa Indonesia.

Sumber: Jawapos.com
Editor : Rinaldi

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin membuka secara resmi Rapat Kerja Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta Senin (24/2). Ia meminta BPPT harus punya prioritas riset dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

"Salah satu tolak ukur keberhasilan BPPT adalah terpakainya inovasi teknologi oleh masyarakat Indonesia," kata Ma'ruf Amin.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu juga mengatakan, untuk mewujudkan hal itu perlu ada upaya hilirasi hasil inovasi dan kerja sama dengan mitra industri.

Dia juga menuturkan, saat ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah begitu pesat. Inovasi-inovasi baru terus bermunculan. Inovasi tersebut telah memberikan efisiensi dan efektivitas di setiap sektor industri. Baik itu sektor produksi, jasa, dan informasi.

Baca Juga:  Imbau Terapkan Prokes untuk Hindari Hepatitis Akut Misterius

Diingatkannya bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam besar. Namun karena kurangnya penguasaan iptek untuk inovasi, maka nilai tambah yang dihasikan masih kalah dengan negara-negara maju.

- Advertisement -

"Untuk itu perlu upaya peningkatan sumber daya iptek di tanah air," paparnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Menristek Bambang Brodjonegoro menyampaikan kabar gembira. Impian Indonesia segera memiliki drone tempur produk dalam negeri segera terwujud.

- Advertisement -

"Salah satunya drone Elang Hitam ditetapkan sebagai prioritas riset nasional dan dipih untuk diterapkan secepatnya," ujarnya.

Dalam kesempatan itu Bambang juga menyampaikan, sejumlah hambatan dalam kegiatan riset di Indonesia. Di antara yang paling menonjol adalah kaitannya pada birokrasi. Menurutnya, masih banyak kegiatan riset yang orientasinya adalah untuk serapan atau menghabiskan anggaran.

Baca Juga:  Catat, Ini Pentingnya Mineral untuk Tubuh

"Riset dan birokrasi tidak bisa kawin," katanya.

Untuk itu ke depan dia mengatakan perlu ada upaya debirokratisasi dana riset. Selain itu anggaran riset dari industri perlu di dorong. Sementara saat ini sekitar 80 persen dana riset nasional masih dari uang negara.

Sementara itu Kepala BPPT Hammam Riza menyampaikan, sedang diupayakan akselerasi dalam pengembangan drone Elang Hitam. Khususnya yang memiliki spesifikasi tempur atau kombatan. Drone ini memiliki tujuan untuk mendukung kemandirian industri pertahanan dan keamanan dalam negeri. Sekaligu mendukung upaya menjaga kedaulatan bangsa Indonesia.

Sumber: Jawapos.com
Editor : Rinaldi

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin membuka secara resmi Rapat Kerja Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta Senin (24/2). Ia meminta BPPT harus punya prioritas riset dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

"Salah satu tolak ukur keberhasilan BPPT adalah terpakainya inovasi teknologi oleh masyarakat Indonesia," kata Ma'ruf Amin.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu juga mengatakan, untuk mewujudkan hal itu perlu ada upaya hilirasi hasil inovasi dan kerja sama dengan mitra industri.

Dia juga menuturkan, saat ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah begitu pesat. Inovasi-inovasi baru terus bermunculan. Inovasi tersebut telah memberikan efisiensi dan efektivitas di setiap sektor industri. Baik itu sektor produksi, jasa, dan informasi.

Baca Juga:  Airlangga: Zona Merah, Pusat Perbelanjaan dan Restoran Tutup Jam 8 Malam

Diingatkannya bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam besar. Namun karena kurangnya penguasaan iptek untuk inovasi, maka nilai tambah yang dihasikan masih kalah dengan negara-negara maju.

"Untuk itu perlu upaya peningkatan sumber daya iptek di tanah air," paparnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Menristek Bambang Brodjonegoro menyampaikan kabar gembira. Impian Indonesia segera memiliki drone tempur produk dalam negeri segera terwujud.

"Salah satunya drone Elang Hitam ditetapkan sebagai prioritas riset nasional dan dipih untuk diterapkan secepatnya," ujarnya.

Dalam kesempatan itu Bambang juga menyampaikan, sejumlah hambatan dalam kegiatan riset di Indonesia. Di antara yang paling menonjol adalah kaitannya pada birokrasi. Menurutnya, masih banyak kegiatan riset yang orientasinya adalah untuk serapan atau menghabiskan anggaran.

Baca Juga:  Imbau Terapkan Prokes untuk Hindari Hepatitis Akut Misterius

"Riset dan birokrasi tidak bisa kawin," katanya.

Untuk itu ke depan dia mengatakan perlu ada upaya debirokratisasi dana riset. Selain itu anggaran riset dari industri perlu di dorong. Sementara saat ini sekitar 80 persen dana riset nasional masih dari uang negara.

Sementara itu Kepala BPPT Hammam Riza menyampaikan, sedang diupayakan akselerasi dalam pengembangan drone Elang Hitam. Khususnya yang memiliki spesifikasi tempur atau kombatan. Drone ini memiliki tujuan untuk mendukung kemandirian industri pertahanan dan keamanan dalam negeri. Sekaligu mendukung upaya menjaga kedaulatan bangsa Indonesia.

Sumber: Jawapos.com
Editor : Rinaldi

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari