Senin, 12 Januari 2026
- Advertisement -
spot_img

Hujan Lagi, Banjir Lagi

kalau melintas di Jalan Arjuna, coba perhatikan jalan ini. Baru saja diaspal. Tentu oleh Pemerintah Kota Pekanbaru. Jalan yang terletak di Kelurahan Labuhbaru Timur, Kecamatan Payung Sekaki ini, sudah lama rusak. Parah. Berlubang besar. Sisa-sisa semen dari aspal sebelumnya ini, juga tajam-tajam. 

Banjir besar terjadi di kawasan ini jika hujan deras mengguyur. Tidak perlu musim, hujan saja sehari atau semalam penuh, pasti banjir. Bukan hanya di Jalan Arjuna ini saja, tapi juga jalan-jalan di sekitarnya. Seperti Jalan Tiung Ujung, Jalan Balam dan Jalan Amal Mulia. Tinggi air saat banjir bisa di atas lutut orang dewasa. 

Jalan Arjuna dan Jalan Tiung Ujung ini merupakan jalan alternatif dari Sukajadi menuju Jalan Tuanku Tambusai arah simpang SKA via Payung Sekaki. Jalan ini hampir tidak pernah sepi. Sayangnya, terlalu sering banjir. 

Hal utama yang membuat banjir terjadi yakni tidak adanya parit atau drainase di sepanjang tepian jalan. Baik sisi kanan atau sisi kiri. Lihatlah Jalan Arjuna jika melintas di sana.  Jalan yang baru diaspal mulus ini, tidak ada drainasenya. Tak heran jika banjir air tumpah rumah ke badan jalan. Apalagi kawasan ini merupakan dataran rendah. Dalam hitungan bulan, jalan ini sudah akan rusak lagi. 

Kondisi di Jalan Arjuna yang nyata hanya salah satu contoh mengapa Kota Pekanbaru saat hujan sebentar sudah dikepung banjir. Tentu ada sebab lain selain tidak adanya drainase ini, yakni sampah. Sampah sangat berpengaruh besar akan terjadinya banjir. Apalagi sampah-sampah di dalam selokan yang menyimbar aliran air. Sudahlah drainase tidak ada, sampah pula menyumbat di mana-mana. 

Hujan yang mengguyur Kota Pekanbaru Rabu malam, membuat banyak kawasan di Pekanbaru terpendam banjir. Tidak hanya di kawasan perumahan, tapi juga di jalan-jalan besar. Azab. Pengendara yang melintas sangat sengsara. Macet dan basah, khususnya bagi pengendara roda dua. Sampai kapan banjir di Pekanbaru berakhir? Entahlah. 

Banjir di berbagai titik di Pekanbaru sudah menjadi pemandangan yang biasa di kala hujan melanda. Mulai dari jalan protokol hingga pemukiman warga. Banjir yang mungkin sepuluh tahun yang lalu menjadi barang langka (mungkin terjadi hanya di pinggiran Sungai Siak), bermetamorfosa menjadi barang wajib. Perkembangan pemukiman yang tidak terkontrol, drainase yang tidak memadahi, daerah resapan yang minim menjadi penyebab utama mengapa banjir ini sekarang mulai melanda pekanbaru.  

Untuk menyelesaikan persoalan banjir dan kemacetan yang ada di Pekanbaru tentunya diperlukan komitmen Pemko dan Pemprov. Harus ada upaya konkrit yang direalisasikan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. 

Ada beberapa solusi yang dirasa tepat dalam membenahi macet dan banjir. Perihal kemacetan, solusinya adalah penambahan flyover/underpass, penambahan jalan baru maupun pelebaran jalan yang sudah ada.***
 

kalau melintas di Jalan Arjuna, coba perhatikan jalan ini. Baru saja diaspal. Tentu oleh Pemerintah Kota Pekanbaru. Jalan yang terletak di Kelurahan Labuhbaru Timur, Kecamatan Payung Sekaki ini, sudah lama rusak. Parah. Berlubang besar. Sisa-sisa semen dari aspal sebelumnya ini, juga tajam-tajam. 

Banjir besar terjadi di kawasan ini jika hujan deras mengguyur. Tidak perlu musim, hujan saja sehari atau semalam penuh, pasti banjir. Bukan hanya di Jalan Arjuna ini saja, tapi juga jalan-jalan di sekitarnya. Seperti Jalan Tiung Ujung, Jalan Balam dan Jalan Amal Mulia. Tinggi air saat banjir bisa di atas lutut orang dewasa. 

Jalan Arjuna dan Jalan Tiung Ujung ini merupakan jalan alternatif dari Sukajadi menuju Jalan Tuanku Tambusai arah simpang SKA via Payung Sekaki. Jalan ini hampir tidak pernah sepi. Sayangnya, terlalu sering banjir. 

Hal utama yang membuat banjir terjadi yakni tidak adanya parit atau drainase di sepanjang tepian jalan. Baik sisi kanan atau sisi kiri. Lihatlah Jalan Arjuna jika melintas di sana.  Jalan yang baru diaspal mulus ini, tidak ada drainasenya. Tak heran jika banjir air tumpah rumah ke badan jalan. Apalagi kawasan ini merupakan dataran rendah. Dalam hitungan bulan, jalan ini sudah akan rusak lagi. 

Kondisi di Jalan Arjuna yang nyata hanya salah satu contoh mengapa Kota Pekanbaru saat hujan sebentar sudah dikepung banjir. Tentu ada sebab lain selain tidak adanya drainase ini, yakni sampah. Sampah sangat berpengaruh besar akan terjadinya banjir. Apalagi sampah-sampah di dalam selokan yang menyimbar aliran air. Sudahlah drainase tidak ada, sampah pula menyumbat di mana-mana. 

- Advertisement -

Hujan yang mengguyur Kota Pekanbaru Rabu malam, membuat banyak kawasan di Pekanbaru terpendam banjir. Tidak hanya di kawasan perumahan, tapi juga di jalan-jalan besar. Azab. Pengendara yang melintas sangat sengsara. Macet dan basah, khususnya bagi pengendara roda dua. Sampai kapan banjir di Pekanbaru berakhir? Entahlah. 

Banjir di berbagai titik di Pekanbaru sudah menjadi pemandangan yang biasa di kala hujan melanda. Mulai dari jalan protokol hingga pemukiman warga. Banjir yang mungkin sepuluh tahun yang lalu menjadi barang langka (mungkin terjadi hanya di pinggiran Sungai Siak), bermetamorfosa menjadi barang wajib. Perkembangan pemukiman yang tidak terkontrol, drainase yang tidak memadahi, daerah resapan yang minim menjadi penyebab utama mengapa banjir ini sekarang mulai melanda pekanbaru.  

- Advertisement -

Untuk menyelesaikan persoalan banjir dan kemacetan yang ada di Pekanbaru tentunya diperlukan komitmen Pemko dan Pemprov. Harus ada upaya konkrit yang direalisasikan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. 

Ada beberapa solusi yang dirasa tepat dalam membenahi macet dan banjir. Perihal kemacetan, solusinya adalah penambahan flyover/underpass, penambahan jalan baru maupun pelebaran jalan yang sudah ada.***
 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

kalau melintas di Jalan Arjuna, coba perhatikan jalan ini. Baru saja diaspal. Tentu oleh Pemerintah Kota Pekanbaru. Jalan yang terletak di Kelurahan Labuhbaru Timur, Kecamatan Payung Sekaki ini, sudah lama rusak. Parah. Berlubang besar. Sisa-sisa semen dari aspal sebelumnya ini, juga tajam-tajam. 

Banjir besar terjadi di kawasan ini jika hujan deras mengguyur. Tidak perlu musim, hujan saja sehari atau semalam penuh, pasti banjir. Bukan hanya di Jalan Arjuna ini saja, tapi juga jalan-jalan di sekitarnya. Seperti Jalan Tiung Ujung, Jalan Balam dan Jalan Amal Mulia. Tinggi air saat banjir bisa di atas lutut orang dewasa. 

Jalan Arjuna dan Jalan Tiung Ujung ini merupakan jalan alternatif dari Sukajadi menuju Jalan Tuanku Tambusai arah simpang SKA via Payung Sekaki. Jalan ini hampir tidak pernah sepi. Sayangnya, terlalu sering banjir. 

Hal utama yang membuat banjir terjadi yakni tidak adanya parit atau drainase di sepanjang tepian jalan. Baik sisi kanan atau sisi kiri. Lihatlah Jalan Arjuna jika melintas di sana.  Jalan yang baru diaspal mulus ini, tidak ada drainasenya. Tak heran jika banjir air tumpah rumah ke badan jalan. Apalagi kawasan ini merupakan dataran rendah. Dalam hitungan bulan, jalan ini sudah akan rusak lagi. 

Kondisi di Jalan Arjuna yang nyata hanya salah satu contoh mengapa Kota Pekanbaru saat hujan sebentar sudah dikepung banjir. Tentu ada sebab lain selain tidak adanya drainase ini, yakni sampah. Sampah sangat berpengaruh besar akan terjadinya banjir. Apalagi sampah-sampah di dalam selokan yang menyimbar aliran air. Sudahlah drainase tidak ada, sampah pula menyumbat di mana-mana. 

Hujan yang mengguyur Kota Pekanbaru Rabu malam, membuat banyak kawasan di Pekanbaru terpendam banjir. Tidak hanya di kawasan perumahan, tapi juga di jalan-jalan besar. Azab. Pengendara yang melintas sangat sengsara. Macet dan basah, khususnya bagi pengendara roda dua. Sampai kapan banjir di Pekanbaru berakhir? Entahlah. 

Banjir di berbagai titik di Pekanbaru sudah menjadi pemandangan yang biasa di kala hujan melanda. Mulai dari jalan protokol hingga pemukiman warga. Banjir yang mungkin sepuluh tahun yang lalu menjadi barang langka (mungkin terjadi hanya di pinggiran Sungai Siak), bermetamorfosa menjadi barang wajib. Perkembangan pemukiman yang tidak terkontrol, drainase yang tidak memadahi, daerah resapan yang minim menjadi penyebab utama mengapa banjir ini sekarang mulai melanda pekanbaru.  

Untuk menyelesaikan persoalan banjir dan kemacetan yang ada di Pekanbaru tentunya diperlukan komitmen Pemko dan Pemprov. Harus ada upaya konkrit yang direalisasikan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. 

Ada beberapa solusi yang dirasa tepat dalam membenahi macet dan banjir. Perihal kemacetan, solusinya adalah penambahan flyover/underpass, penambahan jalan baru maupun pelebaran jalan yang sudah ada.***
 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari