Berita duka berseliweran datang dari Bumi Papua. Bukan bencana alam, tapi bencana kemanusiaan. Belum lepas rasanya duka kematian puluhan orang dalam kerusuhan awal Oktober 2019 lalu, yang sebagian besarnya merupakan warga asal Sumatera Barat, kini kabar duka itu kembali datang. Kali ini, anggota Brimob Polda Riau, Brigadir Hendra Saut Sibarani gugur dalam tugas di Yahukimo Papua, Rabu (18/12). Dua prajurit Kopassus juga gugur di Papua tak berselang lama sebelumnya. Begitu “murah” dan mudah nyawa melayang di sana.
Brigadir Hendra gugur dalam tugas di Yahukimo, Papua, akibat persoalan yang bisa dikatakan sepele. Terjadi perselisihan antarmasyarakat di sana. Persoalan itu dibawa ke Mapolres Yahukimo untuk dilakukan mediasi. Namun di tengah mediasi berlangsung, salah seorang warga membuang air kecil di samping pos penjagaan Mapolres Yahukimo. Melihat kondisi itu, anggota yang sedang berjaga menegur. Akan tetapi yang bersangkutan tidak terima dan melaporkan kepada rekan-rekannya yang berada di Mapolres Yahukimo. Lalu terjadi pemukulan terhadap petugas jaga.
Persoalan pun meluas, dari perselisihan antarwarga menjadi antara warga dan aparat. Masyarakat pun berlarian keluar dari Mapolres dan memberitahu kepada masyarakat lain yang tengah berada di pasar serta kompleks ruko. Seketika, situasi semakin tak terkendali dan masyarakat melakukan perusakan serta pembakaran kendaraan roda dua.
Ketika itulah, sekitar pukul 12.30 WIT, anggota Brimob Polda Riau, Brigadir Hendra Saut Sibarani melewati Jalan permukiman menuju ke pos penjagaan Mapolres. Brimob Polda Riau memang diperbantukan ke Papua. Malangnya, dia melewati jalan yang salah, ketika massa tengah beringas. Dia pun dianiaya sekelompok masyarakat hingga akhirnya ditemukan meninggal. Hanya karena hal-hal sepele, nyawa pun dengan mudah melayang. Sumbu pendek pun layak disematkan pada orang-orang yang begitu mudah tersulut amarah. Atau sengaja disulut untuk terprovokasi. Prajurit-prajurit terbaik pun gugur
Selain prajurit elit polisi yakni Brimob, prajurit elit tentara juga gugur di Papua. Dua prajurit TNI gugur saat kontak senjata dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua. Kedua prajurit tersebut yakni Lettu Inf Erizal Zuhri Sidabutar dan Serda Rizky. Keduanya dari kesatuan elit TNI AD, yakni Kopassus. Kendati kedua peristiwa ini tidak terlalu berdekatan dan mungkin tidak ada kaitan langsung, tapi benang merahnya pasti ada.
Keduanya terjadi nyaris bersamaan. Keduanya menyebabkan gugurnya para prajurit terbaik di TNI dan Polri. Keduanya terjadi di Bumi Papua. Para korban merupakan prajurit-prajurit yang didatangkan dari luar Papua untuk menjaga kondusivitas di daerah tersebut. Masyarakat pun terkenang pada tragedi kemanusiaan awal Oktober 2019 yang menyebabkan sekitar 40 orang tewas. Rumah-rumah dibakar, ribuan warga mengungsi. Belum jelas penyelesaian kasus hukum di sana.
Pendekatan negosiasi lebih diutamakan pemerintah, bukan pendekatan hukum. Sempat juga ada informasi yang beredar bahwa para pelaku kerusuhan di Papua dibebaskan tanpa proses hukum dan peradilan. Kabarnya ada sandera lain yang harus ditukar untuk pembebasan pelaku kerusuhan.
Papua memang punya otonomi khusus. Tapi, daerah itu bukan negara lain. Papua masih NKRI. Penegakan hukum harus dilakukan agar wibawa negara ini masih ada. Pendekatan negosiasi hanya menyebabkan korban-korban baru akan berjatuhan dan tidak memberikan efek jera. Mereka merasa “merdeka†melakukan apa saja di Negeri ini.***


