Minggu, 11 Januari 2026
- Advertisement -
spot_img

Pemerintah Pilih Social Distancing Ketimbang Lockdown, Ini Alasannya

JAKARTA(RIAUPOS.CO)-Perdebatan wacana lockdown atau isolasi wilayah karena wabah virus corona baru (Covid-19) masih saja bergulir hingga hari ini. Namun belakangan, pemerintah menegaskan diri untuk tidak melakukan upaya preventif tersebut.

Alih-alih justru Presiden Joko Widodo memilih untuk menerapkan social distancing atau pembatasan kegiatan sosial, sebagaimana yang paling awal dijalankan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Namun demikian, dipilihnya social distancing untuk meminamilisir angka terjangkitnya corona, dikarenakan alasan ekonomis. Tim Pakar Gugus Tugas Percepatanan Penanganan virus corona baru (Covid-19), Prof. Wiku Adisasmito menjelaskan alasan tersebut dalam keterangan pers di Gedung Graha BNPB, Jalan Pramuka No. 38, Matraman, Jakarta Timur, Rabu (18/3).

 "Lockdown itu belum diambil oleh pemerintah karena lockdown itu artinya membatasi satu wilayah atau daerah. Itu memiliki implikasi ekonomi implikasi sosial dan implikasi keamanan," kata Guru Besar Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia ini.

Baca Juga:  LAMR Sayangkan Upaya Oknum DPRD Riau

Adapun alasan ekonomis dari diambilnya kebijakan social distancing, disebutkan Wiku Adisasmito, dengan cara mempertimbangkan faktor ekonomi masyarakat kelas menengah ke bawah. Di mana menurutnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang pekerjaannya didapatkan dari upah harian. "Social distancing adalah yang paling efektif. Saudara-saudara sekalian sudah memahami bahwa di Indonesia banyak sekali orang yang bekerja dengan mengandalkan upah harian, dan itu juga salah satu yang menjadi kepedulian pemerintah supaya aktivitas ekonominya tetap bisa berjalan," kata Wiku Adisasmito.

 "Karena dengan lockdown orang berada dirumah semua, maka aktivitas ekonominya akan sulit untuk berjalan, dan itu secara ekonomi berbahaya. Maka dari itu, kita belum masuk ke dalam situasi dan kebijakan seperti itu (lockdown)," pungkasnya

Baca Juga:  Cina Larang Karakter Winnie the Pooh

Sumber: rmol.id
Editor: Deslina

JAKARTA(RIAUPOS.CO)-Perdebatan wacana lockdown atau isolasi wilayah karena wabah virus corona baru (Covid-19) masih saja bergulir hingga hari ini. Namun belakangan, pemerintah menegaskan diri untuk tidak melakukan upaya preventif tersebut.

Alih-alih justru Presiden Joko Widodo memilih untuk menerapkan social distancing atau pembatasan kegiatan sosial, sebagaimana yang paling awal dijalankan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Namun demikian, dipilihnya social distancing untuk meminamilisir angka terjangkitnya corona, dikarenakan alasan ekonomis. Tim Pakar Gugus Tugas Percepatanan Penanganan virus corona baru (Covid-19), Prof. Wiku Adisasmito menjelaskan alasan tersebut dalam keterangan pers di Gedung Graha BNPB, Jalan Pramuka No. 38, Matraman, Jakarta Timur, Rabu (18/3).

 "Lockdown itu belum diambil oleh pemerintah karena lockdown itu artinya membatasi satu wilayah atau daerah. Itu memiliki implikasi ekonomi implikasi sosial dan implikasi keamanan," kata Guru Besar Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia ini.

Baca Juga:  Kesiapan Rohil sebagai Tuan Rumah MTQ Dibahas

Adapun alasan ekonomis dari diambilnya kebijakan social distancing, disebutkan Wiku Adisasmito, dengan cara mempertimbangkan faktor ekonomi masyarakat kelas menengah ke bawah. Di mana menurutnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang pekerjaannya didapatkan dari upah harian. "Social distancing adalah yang paling efektif. Saudara-saudara sekalian sudah memahami bahwa di Indonesia banyak sekali orang yang bekerja dengan mengandalkan upah harian, dan itu juga salah satu yang menjadi kepedulian pemerintah supaya aktivitas ekonominya tetap bisa berjalan," kata Wiku Adisasmito.

 "Karena dengan lockdown orang berada dirumah semua, maka aktivitas ekonominya akan sulit untuk berjalan, dan itu secara ekonomi berbahaya. Maka dari itu, kita belum masuk ke dalam situasi dan kebijakan seperti itu (lockdown)," pungkasnya

- Advertisement -
Baca Juga:  Komitmen Guru dalam Mencerdaskan Bangsa di Masa Pandemi

Sumber: rmol.id
Editor: Deslina

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA(RIAUPOS.CO)-Perdebatan wacana lockdown atau isolasi wilayah karena wabah virus corona baru (Covid-19) masih saja bergulir hingga hari ini. Namun belakangan, pemerintah menegaskan diri untuk tidak melakukan upaya preventif tersebut.

Alih-alih justru Presiden Joko Widodo memilih untuk menerapkan social distancing atau pembatasan kegiatan sosial, sebagaimana yang paling awal dijalankan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Namun demikian, dipilihnya social distancing untuk meminamilisir angka terjangkitnya corona, dikarenakan alasan ekonomis. Tim Pakar Gugus Tugas Percepatanan Penanganan virus corona baru (Covid-19), Prof. Wiku Adisasmito menjelaskan alasan tersebut dalam keterangan pers di Gedung Graha BNPB, Jalan Pramuka No. 38, Matraman, Jakarta Timur, Rabu (18/3).

 "Lockdown itu belum diambil oleh pemerintah karena lockdown itu artinya membatasi satu wilayah atau daerah. Itu memiliki implikasi ekonomi implikasi sosial dan implikasi keamanan," kata Guru Besar Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia ini.

Baca Juga:  Cina Larang Karakter Winnie the Pooh

Adapun alasan ekonomis dari diambilnya kebijakan social distancing, disebutkan Wiku Adisasmito, dengan cara mempertimbangkan faktor ekonomi masyarakat kelas menengah ke bawah. Di mana menurutnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang pekerjaannya didapatkan dari upah harian. "Social distancing adalah yang paling efektif. Saudara-saudara sekalian sudah memahami bahwa di Indonesia banyak sekali orang yang bekerja dengan mengandalkan upah harian, dan itu juga salah satu yang menjadi kepedulian pemerintah supaya aktivitas ekonominya tetap bisa berjalan," kata Wiku Adisasmito.

 "Karena dengan lockdown orang berada dirumah semua, maka aktivitas ekonominya akan sulit untuk berjalan, dan itu secara ekonomi berbahaya. Maka dari itu, kita belum masuk ke dalam situasi dan kebijakan seperti itu (lockdown)," pungkasnya

Baca Juga:  Apresiasi Capaian Pajak Daerah, Wako Beri Lima Hadiah Umroh

Sumber: rmol.id
Editor: Deslina

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari