Selasa, 10 Maret 2026
- Advertisement -

Penentang Kudeta Myanmar Bentuk Pemerintahan Tandingan 

YANGON (RIAUPOS.CO) – Para penentang junta militer Myanmar pada Jumat (16/4/2021) ini mengumumkan pembentukan pemerintah persatuan nasional. 

Pemerintahan baru itu diprakarsai para anggota parlemen yang digulingkan dalam kudeta pada 1 Februari lalu.  Selain itu, pemerintahan tandingan tersebut juga diisi para anggota kelompok etnik dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam gerakan melawan kudeta selama ini. 

Kabar pembentukan pemerintah baru itu terungkap lewat video pernyataan yang disiarkan di Public Voice Television (PVTV). 

Kekerasan di Myanmar terus berlangsung sejak pemerintahan sipil yang dipimpin Aung San Suu Kyi digulingkan oleh militer pada awal Februari lalu. Kekejaman aparat keamanan di negara Asia Tenggara itu bahkan semakin menjadi-jadi. 

Baca Juga:  PT LMU Bantah Tidak Miliki Izin

Laporan BBC berbahasa Burma melaporkan, polisi Myanmar membubarkan demonstrasi para pekerja medis dengan melepaskan tembakan di Kota Mandalay, Kamis (15/4/2021). 

Tidak ada keterangan mengenai petugas medis yang menjadi korban atau ditangkap. Namun, media lokal Khit Thit melaporkan, seorang pria ditembak mati di masjid. 

Seorang warga di sekitar masjid mengatakan, tentara datang lalu menembaki orang di dalam. Satu orang dilarikan ke rumah sakit, namun dia tak mengetahui kondisinya. 

“Tidak ada demonstrasi di sini. Tentara baru saja datang dan sepertinya mencari seseorang,” kata warga yang meminta namanya tidak disebutkan itu.  

Dilaporkan empat orang terluka akibat ditembak pasukan keamanan di lingkungan sekitar masjid itu. 

Baca Juga:  Saksi Ungkap Cara Mursini Beri Rp650 Juta ke “Pegawai” KPK

Kelompok hak sipil Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik mengungkap, 715 warga sipil tewas sejak kudeta 1 Februari. Kantor HAM PBB menyatakan kekhawatiran bahwa tindakan keras militer berisiko menjadi perang sipil seperti terjadi di Suriah.

Ini terjadi karena ada kelompok yang menamakan dirinya Aliansi Antaretnis Myanmar sudah mengangkat senjata. Beberapa polisi yang menjadi sasarannya banyak terluka dalam sebuah serangan beberapa waktu lalu.

Sumber: Asia News/News/BBC
Editor: Hary B Koriun

YANGON (RIAUPOS.CO) – Para penentang junta militer Myanmar pada Jumat (16/4/2021) ini mengumumkan pembentukan pemerintah persatuan nasional. 

Pemerintahan baru itu diprakarsai para anggota parlemen yang digulingkan dalam kudeta pada 1 Februari lalu.  Selain itu, pemerintahan tandingan tersebut juga diisi para anggota kelompok etnik dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam gerakan melawan kudeta selama ini. 

Kabar pembentukan pemerintah baru itu terungkap lewat video pernyataan yang disiarkan di Public Voice Television (PVTV). 

Kekerasan di Myanmar terus berlangsung sejak pemerintahan sipil yang dipimpin Aung San Suu Kyi digulingkan oleh militer pada awal Februari lalu. Kekejaman aparat keamanan di negara Asia Tenggara itu bahkan semakin menjadi-jadi. 

Baca Juga:  Sopir Truk Dipalak di Dumai, Polisi Bertindak, Pelaku Diamankan

Laporan BBC berbahasa Burma melaporkan, polisi Myanmar membubarkan demonstrasi para pekerja medis dengan melepaskan tembakan di Kota Mandalay, Kamis (15/4/2021). 

- Advertisement -

Tidak ada keterangan mengenai petugas medis yang menjadi korban atau ditangkap. Namun, media lokal Khit Thit melaporkan, seorang pria ditembak mati di masjid. 

Seorang warga di sekitar masjid mengatakan, tentara datang lalu menembaki orang di dalam. Satu orang dilarikan ke rumah sakit, namun dia tak mengetahui kondisinya. 

- Advertisement -

“Tidak ada demonstrasi di sini. Tentara baru saja datang dan sepertinya mencari seseorang,” kata warga yang meminta namanya tidak disebutkan itu.  

Dilaporkan empat orang terluka akibat ditembak pasukan keamanan di lingkungan sekitar masjid itu. 

Baca Juga:  PT LMU Bantah Tidak Miliki Izin

Kelompok hak sipil Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik mengungkap, 715 warga sipil tewas sejak kudeta 1 Februari. Kantor HAM PBB menyatakan kekhawatiran bahwa tindakan keras militer berisiko menjadi perang sipil seperti terjadi di Suriah.

Ini terjadi karena ada kelompok yang menamakan dirinya Aliansi Antaretnis Myanmar sudah mengangkat senjata. Beberapa polisi yang menjadi sasarannya banyak terluka dalam sebuah serangan beberapa waktu lalu.

Sumber: Asia News/News/BBC
Editor: Hary B Koriun

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

YANGON (RIAUPOS.CO) – Para penentang junta militer Myanmar pada Jumat (16/4/2021) ini mengumumkan pembentukan pemerintah persatuan nasional. 

Pemerintahan baru itu diprakarsai para anggota parlemen yang digulingkan dalam kudeta pada 1 Februari lalu.  Selain itu, pemerintahan tandingan tersebut juga diisi para anggota kelompok etnik dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam gerakan melawan kudeta selama ini. 

Kabar pembentukan pemerintah baru itu terungkap lewat video pernyataan yang disiarkan di Public Voice Television (PVTV). 

Kekerasan di Myanmar terus berlangsung sejak pemerintahan sipil yang dipimpin Aung San Suu Kyi digulingkan oleh militer pada awal Februari lalu. Kekejaman aparat keamanan di negara Asia Tenggara itu bahkan semakin menjadi-jadi. 

Baca Juga:  Pemkab Gelar Pawai Kemerdekaan 

Laporan BBC berbahasa Burma melaporkan, polisi Myanmar membubarkan demonstrasi para pekerja medis dengan melepaskan tembakan di Kota Mandalay, Kamis (15/4/2021). 

Tidak ada keterangan mengenai petugas medis yang menjadi korban atau ditangkap. Namun, media lokal Khit Thit melaporkan, seorang pria ditembak mati di masjid. 

Seorang warga di sekitar masjid mengatakan, tentara datang lalu menembaki orang di dalam. Satu orang dilarikan ke rumah sakit, namun dia tak mengetahui kondisinya. 

“Tidak ada demonstrasi di sini. Tentara baru saja datang dan sepertinya mencari seseorang,” kata warga yang meminta namanya tidak disebutkan itu.  

Dilaporkan empat orang terluka akibat ditembak pasukan keamanan di lingkungan sekitar masjid itu. 

Baca Juga:  Dugaan Korupsi RSP Unri  Naik ke Penyidikan

Kelompok hak sipil Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik mengungkap, 715 warga sipil tewas sejak kudeta 1 Februari. Kantor HAM PBB menyatakan kekhawatiran bahwa tindakan keras militer berisiko menjadi perang sipil seperti terjadi di Suriah.

Ini terjadi karena ada kelompok yang menamakan dirinya Aliansi Antaretnis Myanmar sudah mengangkat senjata. Beberapa polisi yang menjadi sasarannya banyak terluka dalam sebuah serangan beberapa waktu lalu.

Sumber: Asia News/News/BBC
Editor: Hary B Koriun

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari