Jumat, 20 Maret 2026
- Advertisement -

Mahasiswa Mengaku Salah Jurusan, Banyak Sarjana yang Penting Lulus

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Meningkatnya jumlah sarjana yang menganggur tidak terlepas dari sistem pendidikan yang hanya fokus mengejar nilai kognisi. Melupakan pengembangan karakter yang meliputi akhlak, kecakapan, kreativitas, kemandirian, dan sikap bertanggung jawab. Pernyataan itu disampaikan oleh Dekan Psikologi Universitas Mercu Buana Muhammad Iqbal dalam diskusi di kawasan Menteng, Jakarta, kemarin (14/12).

Iqbal menunjukkan data Badan Pusat Statisk (BPS) tentang jumlah penganggur per Februari 2019 yang memang menurun jika dibandingkan dengan dua tahun lalu. Namun, dari sisi pendidikan, jumlah lulusan diploma dan universitas ternyata bertambah. Ujian yang dilakukan dianggap hanya menilai seberapa jauh seorang anak menangkap kurikulum, tapi tidak mampu menilai kecerdasan secara umum.

Baca Juga:  Lima WNI Diculik di Laut Malaysia

Menurut survei Indonesia Career Center Network (ICCN) pada 2017, 87 persen mahasiswa Indonesia mengaku salah jurusan. Mengapa demikian? Iqbal menuturkan, para lulusan SMA tersebut lebih memikirkan gengsi masuk ke perguruan tinggi ternama. ”Jurusannya entah apa aja. Terserah,” imbuhnya.

Karena itu, ketika menjalani perkuliahan, mereka kelimpungan. Merasa tidak sesuai keinginan. Akhirnya, berpikir praktis. Yang penting lulus. Iqbal membenarkan pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim bahwa sarjana belum tentu punya kompetensi.

”Kami sepakat, untuk menjadi orang sukses, tidak cukup dengan kompetensi. Tapi harus dengan akhlak dan sikap (karakter, Red). Itu yang saat ini harus disatukan dan dipadukan,” tegasnya.

 

Sumber: Jawapos.com

Baca Juga:  Kucing Hilang

Editor: E Sulaiman

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Meningkatnya jumlah sarjana yang menganggur tidak terlepas dari sistem pendidikan yang hanya fokus mengejar nilai kognisi. Melupakan pengembangan karakter yang meliputi akhlak, kecakapan, kreativitas, kemandirian, dan sikap bertanggung jawab. Pernyataan itu disampaikan oleh Dekan Psikologi Universitas Mercu Buana Muhammad Iqbal dalam diskusi di kawasan Menteng, Jakarta, kemarin (14/12).

Iqbal menunjukkan data Badan Pusat Statisk (BPS) tentang jumlah penganggur per Februari 2019 yang memang menurun jika dibandingkan dengan dua tahun lalu. Namun, dari sisi pendidikan, jumlah lulusan diploma dan universitas ternyata bertambah. Ujian yang dilakukan dianggap hanya menilai seberapa jauh seorang anak menangkap kurikulum, tapi tidak mampu menilai kecerdasan secara umum.

Baca Juga:  Lima WNI Diculik di Laut Malaysia

Menurut survei Indonesia Career Center Network (ICCN) pada 2017, 87 persen mahasiswa Indonesia mengaku salah jurusan. Mengapa demikian? Iqbal menuturkan, para lulusan SMA tersebut lebih memikirkan gengsi masuk ke perguruan tinggi ternama. ”Jurusannya entah apa aja. Terserah,” imbuhnya.

Karena itu, ketika menjalani perkuliahan, mereka kelimpungan. Merasa tidak sesuai keinginan. Akhirnya, berpikir praktis. Yang penting lulus. Iqbal membenarkan pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim bahwa sarjana belum tentu punya kompetensi.

”Kami sepakat, untuk menjadi orang sukses, tidak cukup dengan kompetensi. Tapi harus dengan akhlak dan sikap (karakter, Red). Itu yang saat ini harus disatukan dan dipadukan,” tegasnya.

- Advertisement -

 

Sumber: Jawapos.com

- Advertisement -
Baca Juga:  52,74 Juta Penduduk Indonesia Telah Menerima Dosis Penguat

Editor: E Sulaiman

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Meningkatnya jumlah sarjana yang menganggur tidak terlepas dari sistem pendidikan yang hanya fokus mengejar nilai kognisi. Melupakan pengembangan karakter yang meliputi akhlak, kecakapan, kreativitas, kemandirian, dan sikap bertanggung jawab. Pernyataan itu disampaikan oleh Dekan Psikologi Universitas Mercu Buana Muhammad Iqbal dalam diskusi di kawasan Menteng, Jakarta, kemarin (14/12).

Iqbal menunjukkan data Badan Pusat Statisk (BPS) tentang jumlah penganggur per Februari 2019 yang memang menurun jika dibandingkan dengan dua tahun lalu. Namun, dari sisi pendidikan, jumlah lulusan diploma dan universitas ternyata bertambah. Ujian yang dilakukan dianggap hanya menilai seberapa jauh seorang anak menangkap kurikulum, tapi tidak mampu menilai kecerdasan secara umum.

Baca Juga:  52,74 Juta Penduduk Indonesia Telah Menerima Dosis Penguat

Menurut survei Indonesia Career Center Network (ICCN) pada 2017, 87 persen mahasiswa Indonesia mengaku salah jurusan. Mengapa demikian? Iqbal menuturkan, para lulusan SMA tersebut lebih memikirkan gengsi masuk ke perguruan tinggi ternama. ”Jurusannya entah apa aja. Terserah,” imbuhnya.

Karena itu, ketika menjalani perkuliahan, mereka kelimpungan. Merasa tidak sesuai keinginan. Akhirnya, berpikir praktis. Yang penting lulus. Iqbal membenarkan pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim bahwa sarjana belum tentu punya kompetensi.

”Kami sepakat, untuk menjadi orang sukses, tidak cukup dengan kompetensi. Tapi harus dengan akhlak dan sikap (karakter, Red). Itu yang saat ini harus disatukan dan dipadukan,” tegasnya.

 

Sumber: Jawapos.com

Baca Juga:  Targetkan Paripurna LKPj Kepala Daerah Pekan Depan

Editor: E Sulaiman

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari