Minggu, 6 April 2025
spot_img

Hipertensi Bisa Picu Gagal Jantung

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Tekanan darah tinggi jika tak terkendali bisa berakibat fatal. Misalnya bisa berujung pada serangan jantung, stroke, bahkan kematian. Sayangnya, tak semua orang menyadari bahwa tekanan darahnya sudah tinggi atau hipertensi.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr BRM Ario Soeryo Kuncoro SpJP(K), dari RS Jantung Harapan Kita menjelaskan, banyak orang tidak mengetahui bahwa dirinya telah menderita tekanan darah tinggi karena seringkali tidak adanya gejala. Oleh karenanya, hipertensi sering disebut sebagai pembunuh senyap atau "silent killer".

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko terhadap kerusakan organ penting seperti otak, jantung, ginjal, mata, pembuluh darah besar (aorta) dan pembuluh darah tepi. Salah satunya yang harus diwaspadai adalah terjadinya gagal jantung yang berujung pada kematian.

Baca Juga:  U-Forty, di Atas 40 yang Tak Biasa

"Gagal jantung merupakan kondisi kronis dan progresif jangka panjang yang cenderung memburuk secara bertahap yang disebabkan oleh hipertensi," katanya kepada wartawan dalam Webinar bersama Bayer Indonesia dan Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH), Kamis (12/11).

Menurut dr Ario, hipertensi menyebabkan pembuluh darah menyempit dan mengakibatkan beban kerja jantung bertambah berat. Penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah yang disebabkan oleh hipertensi tersebut akan menyebabkan dinding ruang pompa jantung menebal (left ventricular hypertrophy) dan dalam jangka panjang akan meningkatkan risiko gagal jantung.

Untuk memompa darah melawan tekanan yang lebih tinggi di pembuluh, jantung harus bekerja lebih keras sehingga terjadi penyempitan arteri sehingga darah lebih sulit mengalir dengan lancar ke seluruh tubuh. Dengan demikian, hipertensi membuat kerja jantung menjadi berlebihan untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen dan nutrisi.

Baca Juga:  Uji Vaksin Covid-19 Harus Dibuka 

"Namun kondisi jantung menjadi lebih sulit bekerja sehingga pada akhirnya jatuh ke kondisi gagal jantung," jelasnya.

Dalam presentasinya, ia juga mengatakan seseorang dikatakan menderita hipertensi apabila memiliki tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. Hipertensi dapat dikelola dengan baik agar mencapai tekanan darah yang sesuai target yaitu dengan mengatur pola hidup dengan membatasi konsumsi garam, perubahan pola makan, penurunan berat badan dan menjaga berat badan ideal, olahraga teratur, berhenti merokok, kepatuhan dalam menjalani pengobatan, pengukuran tekanan darah secara benar dan berkala.

"Maka penting bagi pasien jantung harus mengelola hipertensinya dengan baik agar tidak terjadi gagal jantung dan kematian," tegasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Tekanan darah tinggi jika tak terkendali bisa berakibat fatal. Misalnya bisa berujung pada serangan jantung, stroke, bahkan kematian. Sayangnya, tak semua orang menyadari bahwa tekanan darahnya sudah tinggi atau hipertensi.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr BRM Ario Soeryo Kuncoro SpJP(K), dari RS Jantung Harapan Kita menjelaskan, banyak orang tidak mengetahui bahwa dirinya telah menderita tekanan darah tinggi karena seringkali tidak adanya gejala. Oleh karenanya, hipertensi sering disebut sebagai pembunuh senyap atau "silent killer".

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko terhadap kerusakan organ penting seperti otak, jantung, ginjal, mata, pembuluh darah besar (aorta) dan pembuluh darah tepi. Salah satunya yang harus diwaspadai adalah terjadinya gagal jantung yang berujung pada kematian.

Baca Juga:  U-Forty, di Atas 40 yang Tak Biasa

"Gagal jantung merupakan kondisi kronis dan progresif jangka panjang yang cenderung memburuk secara bertahap yang disebabkan oleh hipertensi," katanya kepada wartawan dalam Webinar bersama Bayer Indonesia dan Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH), Kamis (12/11).

Menurut dr Ario, hipertensi menyebabkan pembuluh darah menyempit dan mengakibatkan beban kerja jantung bertambah berat. Penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah yang disebabkan oleh hipertensi tersebut akan menyebabkan dinding ruang pompa jantung menebal (left ventricular hypertrophy) dan dalam jangka panjang akan meningkatkan risiko gagal jantung.

Untuk memompa darah melawan tekanan yang lebih tinggi di pembuluh, jantung harus bekerja lebih keras sehingga terjadi penyempitan arteri sehingga darah lebih sulit mengalir dengan lancar ke seluruh tubuh. Dengan demikian, hipertensi membuat kerja jantung menjadi berlebihan untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen dan nutrisi.

Baca Juga:  Ikah Berharap Anaknya Dibebaskan Majelis Hakim

"Namun kondisi jantung menjadi lebih sulit bekerja sehingga pada akhirnya jatuh ke kondisi gagal jantung," jelasnya.

Dalam presentasinya, ia juga mengatakan seseorang dikatakan menderita hipertensi apabila memiliki tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. Hipertensi dapat dikelola dengan baik agar mencapai tekanan darah yang sesuai target yaitu dengan mengatur pola hidup dengan membatasi konsumsi garam, perubahan pola makan, penurunan berat badan dan menjaga berat badan ideal, olahraga teratur, berhenti merokok, kepatuhan dalam menjalani pengobatan, pengukuran tekanan darah secara benar dan berkala.

"Maka penting bagi pasien jantung harus mengelola hipertensinya dengan baik agar tidak terjadi gagal jantung dan kematian," tegasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Hipertensi Bisa Picu Gagal Jantung

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Tekanan darah tinggi jika tak terkendali bisa berakibat fatal. Misalnya bisa berujung pada serangan jantung, stroke, bahkan kematian. Sayangnya, tak semua orang menyadari bahwa tekanan darahnya sudah tinggi atau hipertensi.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr BRM Ario Soeryo Kuncoro SpJP(K), dari RS Jantung Harapan Kita menjelaskan, banyak orang tidak mengetahui bahwa dirinya telah menderita tekanan darah tinggi karena seringkali tidak adanya gejala. Oleh karenanya, hipertensi sering disebut sebagai pembunuh senyap atau "silent killer".

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko terhadap kerusakan organ penting seperti otak, jantung, ginjal, mata, pembuluh darah besar (aorta) dan pembuluh darah tepi. Salah satunya yang harus diwaspadai adalah terjadinya gagal jantung yang berujung pada kematian.

Baca Juga:  Ingatkan Penggunaan Naker Lokal

"Gagal jantung merupakan kondisi kronis dan progresif jangka panjang yang cenderung memburuk secara bertahap yang disebabkan oleh hipertensi," katanya kepada wartawan dalam Webinar bersama Bayer Indonesia dan Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH), Kamis (12/11).

Menurut dr Ario, hipertensi menyebabkan pembuluh darah menyempit dan mengakibatkan beban kerja jantung bertambah berat. Penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah yang disebabkan oleh hipertensi tersebut akan menyebabkan dinding ruang pompa jantung menebal (left ventricular hypertrophy) dan dalam jangka panjang akan meningkatkan risiko gagal jantung.

Untuk memompa darah melawan tekanan yang lebih tinggi di pembuluh, jantung harus bekerja lebih keras sehingga terjadi penyempitan arteri sehingga darah lebih sulit mengalir dengan lancar ke seluruh tubuh. Dengan demikian, hipertensi membuat kerja jantung menjadi berlebihan untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen dan nutrisi.

Baca Juga:  HUT PT Bumi Siak Pusako Ke-18 Tahun 2019

"Namun kondisi jantung menjadi lebih sulit bekerja sehingga pada akhirnya jatuh ke kondisi gagal jantung," jelasnya.

Dalam presentasinya, ia juga mengatakan seseorang dikatakan menderita hipertensi apabila memiliki tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. Hipertensi dapat dikelola dengan baik agar mencapai tekanan darah yang sesuai target yaitu dengan mengatur pola hidup dengan membatasi konsumsi garam, perubahan pola makan, penurunan berat badan dan menjaga berat badan ideal, olahraga teratur, berhenti merokok, kepatuhan dalam menjalani pengobatan, pengukuran tekanan darah secara benar dan berkala.

"Maka penting bagi pasien jantung harus mengelola hipertensinya dengan baik agar tidak terjadi gagal jantung dan kematian," tegasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Tekanan darah tinggi jika tak terkendali bisa berakibat fatal. Misalnya bisa berujung pada serangan jantung, stroke, bahkan kematian. Sayangnya, tak semua orang menyadari bahwa tekanan darahnya sudah tinggi atau hipertensi.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr BRM Ario Soeryo Kuncoro SpJP(K), dari RS Jantung Harapan Kita menjelaskan, banyak orang tidak mengetahui bahwa dirinya telah menderita tekanan darah tinggi karena seringkali tidak adanya gejala. Oleh karenanya, hipertensi sering disebut sebagai pembunuh senyap atau "silent killer".

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko terhadap kerusakan organ penting seperti otak, jantung, ginjal, mata, pembuluh darah besar (aorta) dan pembuluh darah tepi. Salah satunya yang harus diwaspadai adalah terjadinya gagal jantung yang berujung pada kematian.

Baca Juga:  Pembaruan Sistem Pengelolaan Kinerja Guru, Kepanitiaan Sekolah Bisa Ganti Jam Mengajar Guru

"Gagal jantung merupakan kondisi kronis dan progresif jangka panjang yang cenderung memburuk secara bertahap yang disebabkan oleh hipertensi," katanya kepada wartawan dalam Webinar bersama Bayer Indonesia dan Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH), Kamis (12/11).

Menurut dr Ario, hipertensi menyebabkan pembuluh darah menyempit dan mengakibatkan beban kerja jantung bertambah berat. Penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah yang disebabkan oleh hipertensi tersebut akan menyebabkan dinding ruang pompa jantung menebal (left ventricular hypertrophy) dan dalam jangka panjang akan meningkatkan risiko gagal jantung.

Untuk memompa darah melawan tekanan yang lebih tinggi di pembuluh, jantung harus bekerja lebih keras sehingga terjadi penyempitan arteri sehingga darah lebih sulit mengalir dengan lancar ke seluruh tubuh. Dengan demikian, hipertensi membuat kerja jantung menjadi berlebihan untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen dan nutrisi.

Baca Juga:  Semangat Bela Negara Harus Ada di Setiap Pertemuan

"Namun kondisi jantung menjadi lebih sulit bekerja sehingga pada akhirnya jatuh ke kondisi gagal jantung," jelasnya.

Dalam presentasinya, ia juga mengatakan seseorang dikatakan menderita hipertensi apabila memiliki tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. Hipertensi dapat dikelola dengan baik agar mencapai tekanan darah yang sesuai target yaitu dengan mengatur pola hidup dengan membatasi konsumsi garam, perubahan pola makan, penurunan berat badan dan menjaga berat badan ideal, olahraga teratur, berhenti merokok, kepatuhan dalam menjalani pengobatan, pengukuran tekanan darah secara benar dan berkala.

"Maka penting bagi pasien jantung harus mengelola hipertensinya dengan baik agar tidak terjadi gagal jantung dan kematian," tegasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari