Jumat, 4 April 2025
spot_img

Ini Sebabnya Mengapa Tak Semua Orang Diuji Covid-19 dengan PCR?

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Untuk memutus mata rantai penularan virus corona, salah satu cara paling efektif adalah dengan menguji kasus sebanyak-banyaknya. Dengan menemukan semakin banyak yang positif kemudian diisolasi, maka penularan di luar semakin bisa ditekan. Saat ini ada 2 metode penelusuran kontak, yakni dengan Rapid Tes dan PCR (polymerase chain reaction).

Bedanya, uji Rapid Tes menggunakan antibodi, sedangkan PCR menggunakan antigen. Sehingga hasil pemeriksaan spesimen dengan PCR sudah dipastikan akurat. Sementara jika diperiksa dengan Rapid Tes, belum tentu pasti hasilnya.

Lantas kapan seseorang diuji menggunakan PCR?

Dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Rabu (8/4), Yurianto menjelaskan penelusuran kontak dilakukan dari kasus positif yang sedang dirawat. Sehingga harus mewaspadai betul kelompok potensial yang menjadi sumber penularan. Resiko pada tenaga kesehatan yang merawat. Dan pada masyarakat di daerah.

Baca Juga:  Hukuman Mantan Sekda Dumai Bertambah Berat

"Maka dilakukan kebijakan skrining lakukan pemeriksaan penapisan lewat rapid tes. Rapid tes sudah didistribusikan lebih dari 450 ribu kit ke seluruh Indonesia. Tujuannya lakukan penyaringan penelusuran kontak sebagai strategi awal," jelasnya.

Maka setelah dilakukan pemeriksaan rapid tes baik hasilnya positif ataupun negatif tetap harus melakukan isolasi mandiri. Isolasi bisa dilakukan secara mandiri di rumah.

Jika selama diisolasi mandiri mengalami keluhan dan gejala, pemeriksaan PCR akan dilakukan untuk mengkonfirmasi. PCR baru akan dilakukan jika sudah ada gejala klinis.

"Kami sudah lakukan pemeriksaan PCR lebih dari 15 ribu spesimen. Ketersediaan reagent untuk PCR juga sudah ada 200 ribu kit," katanya.

Itulah sebabnya tak semua orang akan diperiksa dengan PCR jika belum ada gejala. Tes PCR ditegakkan dengan diagnosa dari mekanisme skrining yang terarah.

Baca Juga:  Lapas Baru Dibangun di Ujung Tanjung

"Skrining dilakukan dengan rapid tes. Tapi PCR kita tak lajukan dengan metode acak, harus terpilih dan terstruktur dimulai dari awal," paparnya.

Sumber: JawaPos.com
Editor: Erizal

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Untuk memutus mata rantai penularan virus corona, salah satu cara paling efektif adalah dengan menguji kasus sebanyak-banyaknya. Dengan menemukan semakin banyak yang positif kemudian diisolasi, maka penularan di luar semakin bisa ditekan. Saat ini ada 2 metode penelusuran kontak, yakni dengan Rapid Tes dan PCR (polymerase chain reaction).

Bedanya, uji Rapid Tes menggunakan antibodi, sedangkan PCR menggunakan antigen. Sehingga hasil pemeriksaan spesimen dengan PCR sudah dipastikan akurat. Sementara jika diperiksa dengan Rapid Tes, belum tentu pasti hasilnya.

Lantas kapan seseorang diuji menggunakan PCR?

Dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Rabu (8/4), Yurianto menjelaskan penelusuran kontak dilakukan dari kasus positif yang sedang dirawat. Sehingga harus mewaspadai betul kelompok potensial yang menjadi sumber penularan. Resiko pada tenaga kesehatan yang merawat. Dan pada masyarakat di daerah.

Baca Juga:  Jelang Matinya UU KPK Lama, Satu Menteri dan 2 Bupati Tak Berkutik

"Maka dilakukan kebijakan skrining lakukan pemeriksaan penapisan lewat rapid tes. Rapid tes sudah didistribusikan lebih dari 450 ribu kit ke seluruh Indonesia. Tujuannya lakukan penyaringan penelusuran kontak sebagai strategi awal," jelasnya.

Maka setelah dilakukan pemeriksaan rapid tes baik hasilnya positif ataupun negatif tetap harus melakukan isolasi mandiri. Isolasi bisa dilakukan secara mandiri di rumah.

Jika selama diisolasi mandiri mengalami keluhan dan gejala, pemeriksaan PCR akan dilakukan untuk mengkonfirmasi. PCR baru akan dilakukan jika sudah ada gejala klinis.

"Kami sudah lakukan pemeriksaan PCR lebih dari 15 ribu spesimen. Ketersediaan reagent untuk PCR juga sudah ada 200 ribu kit," katanya.

Itulah sebabnya tak semua orang akan diperiksa dengan PCR jika belum ada gejala. Tes PCR ditegakkan dengan diagnosa dari mekanisme skrining yang terarah.

Baca Juga:  Mitsubishi Tingkatkan Kualitas Pelayanan

"Skrining dilakukan dengan rapid tes. Tapi PCR kita tak lajukan dengan metode acak, harus terpilih dan terstruktur dimulai dari awal," paparnya.

Sumber: JawaPos.com
Editor: Erizal

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Ini Sebabnya Mengapa Tak Semua Orang Diuji Covid-19 dengan PCR?

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Untuk memutus mata rantai penularan virus corona, salah satu cara paling efektif adalah dengan menguji kasus sebanyak-banyaknya. Dengan menemukan semakin banyak yang positif kemudian diisolasi, maka penularan di luar semakin bisa ditekan. Saat ini ada 2 metode penelusuran kontak, yakni dengan Rapid Tes dan PCR (polymerase chain reaction).

Bedanya, uji Rapid Tes menggunakan antibodi, sedangkan PCR menggunakan antigen. Sehingga hasil pemeriksaan spesimen dengan PCR sudah dipastikan akurat. Sementara jika diperiksa dengan Rapid Tes, belum tentu pasti hasilnya.

Lantas kapan seseorang diuji menggunakan PCR?

Dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Rabu (8/4), Yurianto menjelaskan penelusuran kontak dilakukan dari kasus positif yang sedang dirawat. Sehingga harus mewaspadai betul kelompok potensial yang menjadi sumber penularan. Resiko pada tenaga kesehatan yang merawat. Dan pada masyarakat di daerah.

Baca Juga:  Perempuan Muda Pembuang Janin di Kloset Mal Kelapa Gading Ditangkap

"Maka dilakukan kebijakan skrining lakukan pemeriksaan penapisan lewat rapid tes. Rapid tes sudah didistribusikan lebih dari 450 ribu kit ke seluruh Indonesia. Tujuannya lakukan penyaringan penelusuran kontak sebagai strategi awal," jelasnya.

Maka setelah dilakukan pemeriksaan rapid tes baik hasilnya positif ataupun negatif tetap harus melakukan isolasi mandiri. Isolasi bisa dilakukan secara mandiri di rumah.

Jika selama diisolasi mandiri mengalami keluhan dan gejala, pemeriksaan PCR akan dilakukan untuk mengkonfirmasi. PCR baru akan dilakukan jika sudah ada gejala klinis.

"Kami sudah lakukan pemeriksaan PCR lebih dari 15 ribu spesimen. Ketersediaan reagent untuk PCR juga sudah ada 200 ribu kit," katanya.

Itulah sebabnya tak semua orang akan diperiksa dengan PCR jika belum ada gejala. Tes PCR ditegakkan dengan diagnosa dari mekanisme skrining yang terarah.

Baca Juga:  Polda Masih Kejar Pelaku Lain

"Skrining dilakukan dengan rapid tes. Tapi PCR kita tak lajukan dengan metode acak, harus terpilih dan terstruktur dimulai dari awal," paparnya.

Sumber: JawaPos.com
Editor: Erizal

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Untuk memutus mata rantai penularan virus corona, salah satu cara paling efektif adalah dengan menguji kasus sebanyak-banyaknya. Dengan menemukan semakin banyak yang positif kemudian diisolasi, maka penularan di luar semakin bisa ditekan. Saat ini ada 2 metode penelusuran kontak, yakni dengan Rapid Tes dan PCR (polymerase chain reaction).

Bedanya, uji Rapid Tes menggunakan antibodi, sedangkan PCR menggunakan antigen. Sehingga hasil pemeriksaan spesimen dengan PCR sudah dipastikan akurat. Sementara jika diperiksa dengan Rapid Tes, belum tentu pasti hasilnya.

Lantas kapan seseorang diuji menggunakan PCR?

Dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Rabu (8/4), Yurianto menjelaskan penelusuran kontak dilakukan dari kasus positif yang sedang dirawat. Sehingga harus mewaspadai betul kelompok potensial yang menjadi sumber penularan. Resiko pada tenaga kesehatan yang merawat. Dan pada masyarakat di daerah.

Baca Juga:  Aplikasi Dashboard Lancang Kuning Menusantara

"Maka dilakukan kebijakan skrining lakukan pemeriksaan penapisan lewat rapid tes. Rapid tes sudah didistribusikan lebih dari 450 ribu kit ke seluruh Indonesia. Tujuannya lakukan penyaringan penelusuran kontak sebagai strategi awal," jelasnya.

Maka setelah dilakukan pemeriksaan rapid tes baik hasilnya positif ataupun negatif tetap harus melakukan isolasi mandiri. Isolasi bisa dilakukan secara mandiri di rumah.

Jika selama diisolasi mandiri mengalami keluhan dan gejala, pemeriksaan PCR akan dilakukan untuk mengkonfirmasi. PCR baru akan dilakukan jika sudah ada gejala klinis.

"Kami sudah lakukan pemeriksaan PCR lebih dari 15 ribu spesimen. Ketersediaan reagent untuk PCR juga sudah ada 200 ribu kit," katanya.

Itulah sebabnya tak semua orang akan diperiksa dengan PCR jika belum ada gejala. Tes PCR ditegakkan dengan diagnosa dari mekanisme skrining yang terarah.

Baca Juga:  50 Ribu Honorer K2 Lulus PPPK Belum Kantongi NIP

"Skrining dilakukan dengan rapid tes. Tapi PCR kita tak lajukan dengan metode acak, harus terpilih dan terstruktur dimulai dari awal," paparnya.

Sumber: JawaPos.com
Editor: Erizal

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari