Sabtu, 10 Oktober 2026
- Advertisement -

Harga Minyak Bumi Dunia Melejit

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Pembunuhan komandan pasukan elite Iran Qasem Soleimani membawa dampak ekonomi bagi seluruh dunia. Yang langsung terpukul adalah harga minyak bumi. Komoditas penting tersebut adalah yang pertama kacau jika negara di perairan Teluk terus bergejolak.

Kemarin (3/1) harga minyak Brent di bursa London naik 4,5 persen menjadi USD 68,36 (Rp951 ribu) per barel. Sedangkan minyak WTI yang menjadi tolok ukur harga di AS naik 4,1 persen menjadi USD 62,91 (Rp876 ribu) per barel.

Bursa Wall Street jeblok 0,8 persen meski pada akhirnya mencatat kenaikan. Di Asia, beberapa bursa juga menjadi lesu. Misalnya, bursa Hongkong Hang Seng turun 0,3 persen.

Baca Juga:  Pengunjung Sungai Rokan dan Air Terjun Membeludak

"Laporan mengenai ketidakpastian geopolitik baru saja tiba di meja investor," ungkap pakar investasi Jeffrey Halley dari Oanda kepada Associated Press.

Tentu saja investor takut jika Iran melancarkan aksi balasan. Mereka punya banyak cara untuk mengganggu saluran minyak di perairan Teluk. Pertama, mereka bisa memblokade Selat Hormuz dan mencegah kapal tanker lewat. Mereka juga bisa melumpuhkan jaringan pipa minyak Arab Saudi seperti insiden tahun lalu.

Belum lagi, terganggunya pasokan minyak Iraq jika konflik terjadi di sana. Saat ini saja, pemerintah AS sudah memerintah seluruh pekerja migas di Iraq untuk keluar negeri. Padahal, Iraq merupakan salah satu pemasok global minyak bumi.

"Jadi, yang ditakuti konsumen bukanlah penurunan suplai minyak Iran. Namun, risiko bahwa konflik ini bakal menyebar ke Arab Saudi, Iraq, atau bahkan kapal-kapal AS," ungkap Cailin Birch, pakar ekonomi di The Economist Intelligence Unit, sebagaimana dilansir Agence France-Presse.

Baca Juga:  APR Tampilkan Koleksi Memukau di Muffest 2022

Saat ini, Selat Hormuz merupakan aset terpenting bagi industri migas internasional. Setiap hari, 18 juta barel minyak bumi disuplai via perairan tersebut. Jika terganggu, pasokan bakal banyak terpangkas.

Meski begitu, Birch menganggap dampak insiden kali ini tak separah serangan di kilang minyak Saudi Aramco. Saat itu, harga minyak bumi naik hingga 10 persen.

Sumber : Jawapos.com
Editor : Rinaldi

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Pembunuhan komandan pasukan elite Iran Qasem Soleimani membawa dampak ekonomi bagi seluruh dunia. Yang langsung terpukul adalah harga minyak bumi. Komoditas penting tersebut adalah yang pertama kacau jika negara di perairan Teluk terus bergejolak.

Kemarin (3/1) harga minyak Brent di bursa London naik 4,5 persen menjadi USD 68,36 (Rp951 ribu) per barel. Sedangkan minyak WTI yang menjadi tolok ukur harga di AS naik 4,1 persen menjadi USD 62,91 (Rp876 ribu) per barel.

Bursa Wall Street jeblok 0,8 persen meski pada akhirnya mencatat kenaikan. Di Asia, beberapa bursa juga menjadi lesu. Misalnya, bursa Hongkong Hang Seng turun 0,3 persen.

Baca Juga:  Nilai Barang Bukti MeMiles Capai Rp147 Miliar

"Laporan mengenai ketidakpastian geopolitik baru saja tiba di meja investor," ungkap pakar investasi Jeffrey Halley dari Oanda kepada Associated Press.

Tentu saja investor takut jika Iran melancarkan aksi balasan. Mereka punya banyak cara untuk mengganggu saluran minyak di perairan Teluk. Pertama, mereka bisa memblokade Selat Hormuz dan mencegah kapal tanker lewat. Mereka juga bisa melumpuhkan jaringan pipa minyak Arab Saudi seperti insiden tahun lalu.

- Advertisement -

Belum lagi, terganggunya pasokan minyak Iraq jika konflik terjadi di sana. Saat ini saja, pemerintah AS sudah memerintah seluruh pekerja migas di Iraq untuk keluar negeri. Padahal, Iraq merupakan salah satu pemasok global minyak bumi.

"Jadi, yang ditakuti konsumen bukanlah penurunan suplai minyak Iran. Namun, risiko bahwa konflik ini bakal menyebar ke Arab Saudi, Iraq, atau bahkan kapal-kapal AS," ungkap Cailin Birch, pakar ekonomi di The Economist Intelligence Unit, sebagaimana dilansir Agence France-Presse.

- Advertisement -
Baca Juga:  Univrab Miliki Alat Canggih HPLC

Saat ini, Selat Hormuz merupakan aset terpenting bagi industri migas internasional. Setiap hari, 18 juta barel minyak bumi disuplai via perairan tersebut. Jika terganggu, pasokan bakal banyak terpangkas.

Meski begitu, Birch menganggap dampak insiden kali ini tak separah serangan di kilang minyak Saudi Aramco. Saat itu, harga minyak bumi naik hingga 10 persen.

Sumber : Jawapos.com
Editor : Rinaldi

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Pembunuhan komandan pasukan elite Iran Qasem Soleimani membawa dampak ekonomi bagi seluruh dunia. Yang langsung terpukul adalah harga minyak bumi. Komoditas penting tersebut adalah yang pertama kacau jika negara di perairan Teluk terus bergejolak.

Kemarin (3/1) harga minyak Brent di bursa London naik 4,5 persen menjadi USD 68,36 (Rp951 ribu) per barel. Sedangkan minyak WTI yang menjadi tolok ukur harga di AS naik 4,1 persen menjadi USD 62,91 (Rp876 ribu) per barel.

Bursa Wall Street jeblok 0,8 persen meski pada akhirnya mencatat kenaikan. Di Asia, beberapa bursa juga menjadi lesu. Misalnya, bursa Hongkong Hang Seng turun 0,3 persen.

Baca Juga:  Pencatatan Nama Minimal Dua Kata Permudah Urus Berbagai Dokumen

"Laporan mengenai ketidakpastian geopolitik baru saja tiba di meja investor," ungkap pakar investasi Jeffrey Halley dari Oanda kepada Associated Press.

Tentu saja investor takut jika Iran melancarkan aksi balasan. Mereka punya banyak cara untuk mengganggu saluran minyak di perairan Teluk. Pertama, mereka bisa memblokade Selat Hormuz dan mencegah kapal tanker lewat. Mereka juga bisa melumpuhkan jaringan pipa minyak Arab Saudi seperti insiden tahun lalu.

Belum lagi, terganggunya pasokan minyak Iraq jika konflik terjadi di sana. Saat ini saja, pemerintah AS sudah memerintah seluruh pekerja migas di Iraq untuk keluar negeri. Padahal, Iraq merupakan salah satu pemasok global minyak bumi.

"Jadi, yang ditakuti konsumen bukanlah penurunan suplai minyak Iran. Namun, risiko bahwa konflik ini bakal menyebar ke Arab Saudi, Iraq, atau bahkan kapal-kapal AS," ungkap Cailin Birch, pakar ekonomi di The Economist Intelligence Unit, sebagaimana dilansir Agence France-Presse.

Baca Juga:  Pentingnya Payung Hukum Konvergensi Media di Indonesia

Saat ini, Selat Hormuz merupakan aset terpenting bagi industri migas internasional. Setiap hari, 18 juta barel minyak bumi disuplai via perairan tersebut. Jika terganggu, pasokan bakal banyak terpangkas.

Meski begitu, Birch menganggap dampak insiden kali ini tak separah serangan di kilang minyak Saudi Aramco. Saat itu, harga minyak bumi naik hingga 10 persen.

Sumber : Jawapos.com
Editor : Rinaldi

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari