Kamis, 3 April 2025
spot_img

Kerugian Akibat Covid-19 Setara Ekonomi Jerman dan Jepang

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebut, kerugian akibat wabah Covid-19 telah mencapai  9 triliun dolar Amerika Serikat (AS) untuk periode 2020-2021. Pandemi virus corona menyebabkan kontraksi ekonomi dunia dan kehidupan sosial.

"9 triliun dolar AS itu setara dengan ekonomi Jerman dan Jepang. Jadi, artinya betapa dahsyatnya suatu pandemi dalam waktu singkat kurang dari 1 kuartal telah menyapu ekonomi dunia," ujarnya dalam video conference, Kamis (30/4).

Menurutnya, pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini benar-benar menghantam kondisi perekonomian. Perekonomian AS pada kuartal-I tahun ini tercatat mengalami kontraksi 4,8 persen.

Pemerintah juga terus mewaspadai dampak ekonomi negara lainnya seperti Cina yang juga terkontraksi sebesar 6,4 persen. Belum lagi, pemerintah Jerman menyatakan ekonomi di negaranya akan mengalami resesi terparah sepanjang sejarah.

Baca Juga:  Dirut PLN Darmawan Prasodjo Dinobatkan Jadi Executive of The Year Tingkat Asia

"Ini menjadi kewaspadaan ke kita karena dampaknya dalam dan dahsyat," ucapnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengakui, kondisi ekonomi Indonesia pada Maret ini memang menantang. Pasalnya ada kepanikan di pasar keuangan yang disebabkan munculnya Covid-19.

Seperti diketahui, dana asing menguap hingga Rp120 triliun dan memaksa Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi pasar. Di sisi lain, pemerintah hingga saat ini terus memitigasi soal dampak pandemi, karena tidak ada yang tahu kapan wabah berakhir.

"Sekarang fokusnya adalah bagaimana kita bisa mengurangi, memitigasi, dan tentu masih dalam ketidakpastian karena kita tidak pernah tahu akan selesai kapan," pungkasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebut, kerugian akibat wabah Covid-19 telah mencapai  9 triliun dolar Amerika Serikat (AS) untuk periode 2020-2021. Pandemi virus corona menyebabkan kontraksi ekonomi dunia dan kehidupan sosial.

"9 triliun dolar AS itu setara dengan ekonomi Jerman dan Jepang. Jadi, artinya betapa dahsyatnya suatu pandemi dalam waktu singkat kurang dari 1 kuartal telah menyapu ekonomi dunia," ujarnya dalam video conference, Kamis (30/4).

Menurutnya, pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini benar-benar menghantam kondisi perekonomian. Perekonomian AS pada kuartal-I tahun ini tercatat mengalami kontraksi 4,8 persen.

Pemerintah juga terus mewaspadai dampak ekonomi negara lainnya seperti Cina yang juga terkontraksi sebesar 6,4 persen. Belum lagi, pemerintah Jerman menyatakan ekonomi di negaranya akan mengalami resesi terparah sepanjang sejarah.

Baca Juga:  Intip Budaya Lokal dan Pesona Sabana

"Ini menjadi kewaspadaan ke kita karena dampaknya dalam dan dahsyat," ucapnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengakui, kondisi ekonomi Indonesia pada Maret ini memang menantang. Pasalnya ada kepanikan di pasar keuangan yang disebabkan munculnya Covid-19.

Seperti diketahui, dana asing menguap hingga Rp120 triliun dan memaksa Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi pasar. Di sisi lain, pemerintah hingga saat ini terus memitigasi soal dampak pandemi, karena tidak ada yang tahu kapan wabah berakhir.

"Sekarang fokusnya adalah bagaimana kita bisa mengurangi, memitigasi, dan tentu masih dalam ketidakpastian karena kita tidak pernah tahu akan selesai kapan," pungkasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Kerugian Akibat Covid-19 Setara Ekonomi Jerman dan Jepang

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebut, kerugian akibat wabah Covid-19 telah mencapai  9 triliun dolar Amerika Serikat (AS) untuk periode 2020-2021. Pandemi virus corona menyebabkan kontraksi ekonomi dunia dan kehidupan sosial.

"9 triliun dolar AS itu setara dengan ekonomi Jerman dan Jepang. Jadi, artinya betapa dahsyatnya suatu pandemi dalam waktu singkat kurang dari 1 kuartal telah menyapu ekonomi dunia," ujarnya dalam video conference, Kamis (30/4).

Menurutnya, pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini benar-benar menghantam kondisi perekonomian. Perekonomian AS pada kuartal-I tahun ini tercatat mengalami kontraksi 4,8 persen.

Pemerintah juga terus mewaspadai dampak ekonomi negara lainnya seperti Cina yang juga terkontraksi sebesar 6,4 persen. Belum lagi, pemerintah Jerman menyatakan ekonomi di negaranya akan mengalami resesi terparah sepanjang sejarah.

Baca Juga:  Huawei Pastikan Stok Ponselnya Tak Terganggu Virus Corona

"Ini menjadi kewaspadaan ke kita karena dampaknya dalam dan dahsyat," ucapnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengakui, kondisi ekonomi Indonesia pada Maret ini memang menantang. Pasalnya ada kepanikan di pasar keuangan yang disebabkan munculnya Covid-19.

Seperti diketahui, dana asing menguap hingga Rp120 triliun dan memaksa Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi pasar. Di sisi lain, pemerintah hingga saat ini terus memitigasi soal dampak pandemi, karena tidak ada yang tahu kapan wabah berakhir.

"Sekarang fokusnya adalah bagaimana kita bisa mengurangi, memitigasi, dan tentu masih dalam ketidakpastian karena kita tidak pernah tahu akan selesai kapan," pungkasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebut, kerugian akibat wabah Covid-19 telah mencapai  9 triliun dolar Amerika Serikat (AS) untuk periode 2020-2021. Pandemi virus corona menyebabkan kontraksi ekonomi dunia dan kehidupan sosial.

"9 triliun dolar AS itu setara dengan ekonomi Jerman dan Jepang. Jadi, artinya betapa dahsyatnya suatu pandemi dalam waktu singkat kurang dari 1 kuartal telah menyapu ekonomi dunia," ujarnya dalam video conference, Kamis (30/4).

Menurutnya, pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini benar-benar menghantam kondisi perekonomian. Perekonomian AS pada kuartal-I tahun ini tercatat mengalami kontraksi 4,8 persen.

Pemerintah juga terus mewaspadai dampak ekonomi negara lainnya seperti Cina yang juga terkontraksi sebesar 6,4 persen. Belum lagi, pemerintah Jerman menyatakan ekonomi di negaranya akan mengalami resesi terparah sepanjang sejarah.

Baca Juga:  Catat, IPhone 13 Tersedia di Indonesia pada Tanggal ini

"Ini menjadi kewaspadaan ke kita karena dampaknya dalam dan dahsyat," ucapnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengakui, kondisi ekonomi Indonesia pada Maret ini memang menantang. Pasalnya ada kepanikan di pasar keuangan yang disebabkan munculnya Covid-19.

Seperti diketahui, dana asing menguap hingga Rp120 triliun dan memaksa Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi pasar. Di sisi lain, pemerintah hingga saat ini terus memitigasi soal dampak pandemi, karena tidak ada yang tahu kapan wabah berakhir.

"Sekarang fokusnya adalah bagaimana kita bisa mengurangi, memitigasi, dan tentu masih dalam ketidakpastian karena kita tidak pernah tahu akan selesai kapan," pungkasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari