Jumat, 21 Agustus 2026
- Advertisement -

Tak Dibatasi, Ekspor Tekstil Indonesia Mulai Menggeliat

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menganggap proteksi terhadap industri domestik menjadi hal yang penting. Khususnya, sektor-sektor kompetitif. Namun, industri yang tidak kompetitif yang mengakibatkan biaya tinggi secara ekonomi, pemberian proteksi perlu dikaji.

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga mengatakan bahwa justru persaingan akan menjadikan industri lebih terpacu untuk menjadi lebih baik, terutama untuk produk-produk lokal. ”Kadang kita harus agak memaksa industri lokal untuk bersaing mulai dari tingkat lokal, nasional, regional, dan global,” ujarnya di Jakarta, Selasa (21/5).

Menurut Jerry, proteksi yang terlalu berlebihan terhadap industri domestik yang tidak kompetitif juga bisa membuat proses negosiasi perjanjian dagang di tingkat internasional menjadi lebih sulit. Dengan adanya keterbukaan, tambah Jerry, harapannya industri akan terdorong menjadi kompetitif karena saat ini dunia tak memiliki batasan. ‘’Interaksi antarnegara sekarang sudah tidak dibatasi, cepat, dan dinamis. Mau tidak mau industri kita akan semakin dipaksa menjadi lebih kompetitif,’’ ujarnya.

Baca Juga:  Kolaborasi BLI dan PSKL Bangkitkan Persuteraan Alam

Salah satu industri yang kompetitif adalah tekstil dan produk tekstil (TPT). Setelah mengalami tekanan beberapa tahun terakhir, kinerjanya berpotensi bangkit pada awal 2024. ”Pada kuartal I 2024, mulai menunjukkan perbaikan kinerja yang signifikan, di mana mengalami pertumbuhan sebesar 2,64 persen secara year on year,” kata Plt Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier.

Kinerja positif industri TPT juga tercemin pada capaian nilai ekspornya pada kuartal I 2024 yang mengalami peningkatan sebesar 0,19 persen atau senilai 2,95 miliar dolar AS. “Padahal situasi di pasar ekspor masih dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global karena beberapa konflik antarnegara yang terjadi.,” beber Taufiek.

Baca Juga:  Serikat BTN Syariah Serahkan Bantuan Sembako ke Warga

PT Mahugi Jaya Sejahtera menjadi salah satu perusahaan tekstil yang baru saja melakukan ekspor dengan menyasar Dubai dan sebagian negara Timur Tengah sebagai sasaran. Sebanyak kain sepanjang 300.000 meter dalam tiga kontainer senilai 350 ribu dolar AS dilepas, Selasa (21/5).(agf/dio/jpg)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menganggap proteksi terhadap industri domestik menjadi hal yang penting. Khususnya, sektor-sektor kompetitif. Namun, industri yang tidak kompetitif yang mengakibatkan biaya tinggi secara ekonomi, pemberian proteksi perlu dikaji.

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga mengatakan bahwa justru persaingan akan menjadikan industri lebih terpacu untuk menjadi lebih baik, terutama untuk produk-produk lokal. ”Kadang kita harus agak memaksa industri lokal untuk bersaing mulai dari tingkat lokal, nasional, regional, dan global,” ujarnya di Jakarta, Selasa (21/5).

Menurut Jerry, proteksi yang terlalu berlebihan terhadap industri domestik yang tidak kompetitif juga bisa membuat proses negosiasi perjanjian dagang di tingkat internasional menjadi lebih sulit. Dengan adanya keterbukaan, tambah Jerry, harapannya industri akan terdorong menjadi kompetitif karena saat ini dunia tak memiliki batasan. ‘’Interaksi antarnegara sekarang sudah tidak dibatasi, cepat, dan dinamis. Mau tidak mau industri kita akan semakin dipaksa menjadi lebih kompetitif,’’ ujarnya.

Baca Juga:  Realisasi Investasi Migas Masih Jauh dari Target

Salah satu industri yang kompetitif adalah tekstil dan produk tekstil (TPT). Setelah mengalami tekanan beberapa tahun terakhir, kinerjanya berpotensi bangkit pada awal 2024. ”Pada kuartal I 2024, mulai menunjukkan perbaikan kinerja yang signifikan, di mana mengalami pertumbuhan sebesar 2,64 persen secara year on year,” kata Plt Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier.

Kinerja positif industri TPT juga tercemin pada capaian nilai ekspornya pada kuartal I 2024 yang mengalami peningkatan sebesar 0,19 persen atau senilai 2,95 miliar dolar AS. “Padahal situasi di pasar ekspor masih dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global karena beberapa konflik antarnegara yang terjadi.,” beber Taufiek.

- Advertisement -
Baca Juga:  Sinergitas PLN UIP Sumbagteng dengan Kantor Imigrasi Pekanbaru

PT Mahugi Jaya Sejahtera menjadi salah satu perusahaan tekstil yang baru saja melakukan ekspor dengan menyasar Dubai dan sebagian negara Timur Tengah sebagai sasaran. Sebanyak kain sepanjang 300.000 meter dalam tiga kontainer senilai 350 ribu dolar AS dilepas, Selasa (21/5).(agf/dio/jpg)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menganggap proteksi terhadap industri domestik menjadi hal yang penting. Khususnya, sektor-sektor kompetitif. Namun, industri yang tidak kompetitif yang mengakibatkan biaya tinggi secara ekonomi, pemberian proteksi perlu dikaji.

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga mengatakan bahwa justru persaingan akan menjadikan industri lebih terpacu untuk menjadi lebih baik, terutama untuk produk-produk lokal. ”Kadang kita harus agak memaksa industri lokal untuk bersaing mulai dari tingkat lokal, nasional, regional, dan global,” ujarnya di Jakarta, Selasa (21/5).

Menurut Jerry, proteksi yang terlalu berlebihan terhadap industri domestik yang tidak kompetitif juga bisa membuat proses negosiasi perjanjian dagang di tingkat internasional menjadi lebih sulit. Dengan adanya keterbukaan, tambah Jerry, harapannya industri akan terdorong menjadi kompetitif karena saat ini dunia tak memiliki batasan. ‘’Interaksi antarnegara sekarang sudah tidak dibatasi, cepat, dan dinamis. Mau tidak mau industri kita akan semakin dipaksa menjadi lebih kompetitif,’’ ujarnya.

Baca Juga:  Kementrian BUMN Dukung BP2MI Dalam Perlindungan Pekerja Migran Indonesia

Salah satu industri yang kompetitif adalah tekstil dan produk tekstil (TPT). Setelah mengalami tekanan beberapa tahun terakhir, kinerjanya berpotensi bangkit pada awal 2024. ”Pada kuartal I 2024, mulai menunjukkan perbaikan kinerja yang signifikan, di mana mengalami pertumbuhan sebesar 2,64 persen secara year on year,” kata Plt Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier.

Kinerja positif industri TPT juga tercemin pada capaian nilai ekspornya pada kuartal I 2024 yang mengalami peningkatan sebesar 0,19 persen atau senilai 2,95 miliar dolar AS. “Padahal situasi di pasar ekspor masih dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global karena beberapa konflik antarnegara yang terjadi.,” beber Taufiek.

Baca Juga:  Dorong Hidup Sehat, Pemerintah Didesak Naikkan Cukai Rokok Mulai 2026

PT Mahugi Jaya Sejahtera menjadi salah satu perusahaan tekstil yang baru saja melakukan ekspor dengan menyasar Dubai dan sebagian negara Timur Tengah sebagai sasaran. Sebanyak kain sepanjang 300.000 meter dalam tiga kontainer senilai 350 ribu dolar AS dilepas, Selasa (21/5).(agf/dio/jpg)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari