Minggu, 6 April 2025
spot_img

Malaysia Lockdown, Harga CPO Melesat

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Harga komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) melonjak pada Rabu (18/3) menyusul kebijakan lockdown yang diberlakukan pemerintah Malaysia untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19) semakin meluas. Demikian rilis cnbc.com.

Aktivitas di perkebunan dan industri kelapa sawit Malaysia terpaksa harus ditutup dalam dua minggu ke depan. Reuters melaporkan Asosiasi Industri Minyak Sawit Malaysia (MPOA) sebelumnya meminta pengecualian untuk tetap beroperasi. Namun tak mendapatkan balasan dari pemerintah. Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua MPOA Nageeb Wahab.

Lockdown jelas memiliki dampak negatif bagi industri unggulan negeri jiran itu. Dengan adanya penghentian aktivitas operasi selama dua minggu, maka tandan buah segar akan jadi busuk dan petani sawit menjadi terancam.

Baca Juga:  Dimotivasi Ridwan Kamil, Bank BJB Siap Optimalkan Potensi Ekonomi Jabar

Pasokan dan stok sawit Malaysia menjadi turun drastis. Inilah yang membuat harga CPO kontrak pengiriman tiga bulan di Bursa Malaysia Derivatif (BMD) melesat pada perdagangan hari ini.

Pada Rabu (18/3) pukul 12.00 WIB , harga CPO kontrak naik 50 ringgit atau bertambah 1,78% dibanding posisi penutupan kemarin. CPO per tonnya kini diperdagangkan dengan harga RM 2.290.

"Stok (minyak sawit) sudah rendah, jika para petani tidak dibiarkan untuk beraktivitas setelah memenuhi permintaan ekspor, maka total persediaan akan menjadi sangat sedikit. Stok akan terkuras dan berada di level terendah yang pernah ada," kata Ivy Ng, Kepala Riset Bidang Agrikultur CIMB Investment Bank.

Ivy memperkirakan potensi penurunan pasokan CPO akibat lockdown sebesar 708.500 ton. Ini berpotensi menurunkan persediaan sampai akhir Maret sebesar 1 juta ton dari total persediaan Februari di level 1,68 juta ton.

Baca Juga:  Samsung Rilis A22 5G, Ponsel 5G Harga Rp7 Jutaan

Data dari Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) menunjukkan, stok pada bulan Februari sebanyak 1,68 juta ton itu merupakan tingkat persediaan terendah sejak Juni 2017. Menurut Nageed selaku ketua asosiasi, butuh waktu 2-3 bulan untuk semua kembali normal setelah adanya lockdown.(int/zed)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Harga komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) melonjak pada Rabu (18/3) menyusul kebijakan lockdown yang diberlakukan pemerintah Malaysia untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19) semakin meluas. Demikian rilis cnbc.com.

Aktivitas di perkebunan dan industri kelapa sawit Malaysia terpaksa harus ditutup dalam dua minggu ke depan. Reuters melaporkan Asosiasi Industri Minyak Sawit Malaysia (MPOA) sebelumnya meminta pengecualian untuk tetap beroperasi. Namun tak mendapatkan balasan dari pemerintah. Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua MPOA Nageeb Wahab.

Lockdown jelas memiliki dampak negatif bagi industri unggulan negeri jiran itu. Dengan adanya penghentian aktivitas operasi selama dua minggu, maka tandan buah segar akan jadi busuk dan petani sawit menjadi terancam.

Baca Juga:  Modifikasi Otomotif Indonesia 80 Persen Diminati Pasar Amerika

Pasokan dan stok sawit Malaysia menjadi turun drastis. Inilah yang membuat harga CPO kontrak pengiriman tiga bulan di Bursa Malaysia Derivatif (BMD) melesat pada perdagangan hari ini.

Pada Rabu (18/3) pukul 12.00 WIB , harga CPO kontrak naik 50 ringgit atau bertambah 1,78% dibanding posisi penutupan kemarin. CPO per tonnya kini diperdagangkan dengan harga RM 2.290.

"Stok (minyak sawit) sudah rendah, jika para petani tidak dibiarkan untuk beraktivitas setelah memenuhi permintaan ekspor, maka total persediaan akan menjadi sangat sedikit. Stok akan terkuras dan berada di level terendah yang pernah ada," kata Ivy Ng, Kepala Riset Bidang Agrikultur CIMB Investment Bank.

Ivy memperkirakan potensi penurunan pasokan CPO akibat lockdown sebesar 708.500 ton. Ini berpotensi menurunkan persediaan sampai akhir Maret sebesar 1 juta ton dari total persediaan Februari di level 1,68 juta ton.

Baca Juga:  Kuartal I BBCA Raup Laba Bersih Rp8,1 T

Data dari Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) menunjukkan, stok pada bulan Februari sebanyak 1,68 juta ton itu merupakan tingkat persediaan terendah sejak Juni 2017. Menurut Nageed selaku ketua asosiasi, butuh waktu 2-3 bulan untuk semua kembali normal setelah adanya lockdown.(int/zed)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Malaysia Lockdown, Harga CPO Melesat

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Harga komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) melonjak pada Rabu (18/3) menyusul kebijakan lockdown yang diberlakukan pemerintah Malaysia untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19) semakin meluas. Demikian rilis cnbc.com.

Aktivitas di perkebunan dan industri kelapa sawit Malaysia terpaksa harus ditutup dalam dua minggu ke depan. Reuters melaporkan Asosiasi Industri Minyak Sawit Malaysia (MPOA) sebelumnya meminta pengecualian untuk tetap beroperasi. Namun tak mendapatkan balasan dari pemerintah. Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua MPOA Nageeb Wahab.

Lockdown jelas memiliki dampak negatif bagi industri unggulan negeri jiran itu. Dengan adanya penghentian aktivitas operasi selama dua minggu, maka tandan buah segar akan jadi busuk dan petani sawit menjadi terancam.

Baca Juga:  Samsung Rilis A22 5G, Ponsel 5G Harga Rp7 Jutaan

Pasokan dan stok sawit Malaysia menjadi turun drastis. Inilah yang membuat harga CPO kontrak pengiriman tiga bulan di Bursa Malaysia Derivatif (BMD) melesat pada perdagangan hari ini.

Pada Rabu (18/3) pukul 12.00 WIB , harga CPO kontrak naik 50 ringgit atau bertambah 1,78% dibanding posisi penutupan kemarin. CPO per tonnya kini diperdagangkan dengan harga RM 2.290.

"Stok (minyak sawit) sudah rendah, jika para petani tidak dibiarkan untuk beraktivitas setelah memenuhi permintaan ekspor, maka total persediaan akan menjadi sangat sedikit. Stok akan terkuras dan berada di level terendah yang pernah ada," kata Ivy Ng, Kepala Riset Bidang Agrikultur CIMB Investment Bank.

Ivy memperkirakan potensi penurunan pasokan CPO akibat lockdown sebesar 708.500 ton. Ini berpotensi menurunkan persediaan sampai akhir Maret sebesar 1 juta ton dari total persediaan Februari di level 1,68 juta ton.

Baca Juga:  Sehari Mampu Membuat 115 Kilogram

Data dari Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) menunjukkan, stok pada bulan Februari sebanyak 1,68 juta ton itu merupakan tingkat persediaan terendah sejak Juni 2017. Menurut Nageed selaku ketua asosiasi, butuh waktu 2-3 bulan untuk semua kembali normal setelah adanya lockdown.(int/zed)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Harga komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) melonjak pada Rabu (18/3) menyusul kebijakan lockdown yang diberlakukan pemerintah Malaysia untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19) semakin meluas. Demikian rilis cnbc.com.

Aktivitas di perkebunan dan industri kelapa sawit Malaysia terpaksa harus ditutup dalam dua minggu ke depan. Reuters melaporkan Asosiasi Industri Minyak Sawit Malaysia (MPOA) sebelumnya meminta pengecualian untuk tetap beroperasi. Namun tak mendapatkan balasan dari pemerintah. Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua MPOA Nageeb Wahab.

Lockdown jelas memiliki dampak negatif bagi industri unggulan negeri jiran itu. Dengan adanya penghentian aktivitas operasi selama dua minggu, maka tandan buah segar akan jadi busuk dan petani sawit menjadi terancam.

Baca Juga:  Kuartal I BBCA Raup Laba Bersih Rp8,1 T

Pasokan dan stok sawit Malaysia menjadi turun drastis. Inilah yang membuat harga CPO kontrak pengiriman tiga bulan di Bursa Malaysia Derivatif (BMD) melesat pada perdagangan hari ini.

Pada Rabu (18/3) pukul 12.00 WIB , harga CPO kontrak naik 50 ringgit atau bertambah 1,78% dibanding posisi penutupan kemarin. CPO per tonnya kini diperdagangkan dengan harga RM 2.290.

"Stok (minyak sawit) sudah rendah, jika para petani tidak dibiarkan untuk beraktivitas setelah memenuhi permintaan ekspor, maka total persediaan akan menjadi sangat sedikit. Stok akan terkuras dan berada di level terendah yang pernah ada," kata Ivy Ng, Kepala Riset Bidang Agrikultur CIMB Investment Bank.

Ivy memperkirakan potensi penurunan pasokan CPO akibat lockdown sebesar 708.500 ton. Ini berpotensi menurunkan persediaan sampai akhir Maret sebesar 1 juta ton dari total persediaan Februari di level 1,68 juta ton.

Baca Juga:  Dimotivasi Ridwan Kamil, Bank BJB Siap Optimalkan Potensi Ekonomi Jabar

Data dari Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) menunjukkan, stok pada bulan Februari sebanyak 1,68 juta ton itu merupakan tingkat persediaan terendah sejak Juni 2017. Menurut Nageed selaku ketua asosiasi, butuh waktu 2-3 bulan untuk semua kembali normal setelah adanya lockdown.(int/zed)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari