Sabtu, 5 April 2025
spot_img

Harga Naik tapi Buah Trek

RENGAT (RIAUPOS.CO) — Petani kelapa sawit dalam wilayah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) seharusnya dapat berlega hati. Pasalnya, harga tanda buah segar (TBS) mengalami naik dari sebelumnya.

Hanya saja, di balik adanya harga TBS naik, tidak sebanding dengan hasil panen. Sebab sejak beberapa bulan ini, produksi kebun kelapa sawit warga menurun akibat masa trek. "Masa trek ini akan berlangsung tiga hingga empat bulan ke depan," ujar Masyrullah yang juga Wakil Ketua DPRD Kabupaten Inhu, Rabu (15/4).

Akibat masa trek tersebut, warga tidak merasakan adanya harga TBS naik. Karena dari hasil panen saat ini, hampir separuh hilangnya dibanding dalam kondisi normal.

Biasanya untuk lahan satu kapling, hasil panen warga dapat mencapai dua ton, satu kali panen. Namun saat ini, hasil panen warga dari lahan tersebut hanya mencapai satu ton dan ada di antaranya 1,2 ton per satu kali panen. "Rata-rata hampir separuh hasil panen warga berkurang akibat masa trek,” ungkapnya.

Baca Juga:  Alasan Perusahaan Asing Enggan Investasi di Indonesia

Apalagi sebutnya, kenaikan harga TBS pada periode ini hanya berkisar antara Rp10 hingga Rp15 per kilogram. Seperti saat ini, TBS untuk usia tanam tujuh tahun, seharga Rp1.750 per kilogram.

Dengan kondisi yang ada, warga belum bisa berbuat banyak. Apalagi untuk menjaga ketersediaan pupuk yang harus dilakukan secara rutin. "Dalam waktu dekat sudah memasuk bulan puasa Ramadan ditambah lagi di masa pandemi corona, berbagai kebutuhan harian mulai naik," ucapnya.

Untuk itu, imbaunya, selama masa trek ini hendaknya warga terus melakukan panen secara rutin. Karena apabila buah tidak dipanen, juga akan berpengaruh kepada hasil panen berikutnya. "Ada di antara warga mulai enggan memanen, karena hasilnya tidak seimbang," terangnya.(kas)

Baca Juga:  SSK II Pekanbaru Masih Sepi Penumpang

RENGAT (RIAUPOS.CO) — Petani kelapa sawit dalam wilayah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) seharusnya dapat berlega hati. Pasalnya, harga tanda buah segar (TBS) mengalami naik dari sebelumnya.

Hanya saja, di balik adanya harga TBS naik, tidak sebanding dengan hasil panen. Sebab sejak beberapa bulan ini, produksi kebun kelapa sawit warga menurun akibat masa trek. "Masa trek ini akan berlangsung tiga hingga empat bulan ke depan," ujar Masyrullah yang juga Wakil Ketua DPRD Kabupaten Inhu, Rabu (15/4).

Akibat masa trek tersebut, warga tidak merasakan adanya harga TBS naik. Karena dari hasil panen saat ini, hampir separuh hilangnya dibanding dalam kondisi normal.

Biasanya untuk lahan satu kapling, hasil panen warga dapat mencapai dua ton, satu kali panen. Namun saat ini, hasil panen warga dari lahan tersebut hanya mencapai satu ton dan ada di antaranya 1,2 ton per satu kali panen. "Rata-rata hampir separuh hasil panen warga berkurang akibat masa trek,” ungkapnya.

Baca Juga:  Alasan Perusahaan Asing Enggan Investasi di Indonesia

Apalagi sebutnya, kenaikan harga TBS pada periode ini hanya berkisar antara Rp10 hingga Rp15 per kilogram. Seperti saat ini, TBS untuk usia tanam tujuh tahun, seharga Rp1.750 per kilogram.

Dengan kondisi yang ada, warga belum bisa berbuat banyak. Apalagi untuk menjaga ketersediaan pupuk yang harus dilakukan secara rutin. "Dalam waktu dekat sudah memasuk bulan puasa Ramadan ditambah lagi di masa pandemi corona, berbagai kebutuhan harian mulai naik," ucapnya.

Untuk itu, imbaunya, selama masa trek ini hendaknya warga terus melakukan panen secara rutin. Karena apabila buah tidak dipanen, juga akan berpengaruh kepada hasil panen berikutnya. "Ada di antara warga mulai enggan memanen, karena hasilnya tidak seimbang," terangnya.(kas)

Baca Juga:  PGN Dorong Sentra-Sentra Ekonomi Baru
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Harga Naik tapi Buah Trek

RENGAT (RIAUPOS.CO) — Petani kelapa sawit dalam wilayah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) seharusnya dapat berlega hati. Pasalnya, harga tanda buah segar (TBS) mengalami naik dari sebelumnya.

Hanya saja, di balik adanya harga TBS naik, tidak sebanding dengan hasil panen. Sebab sejak beberapa bulan ini, produksi kebun kelapa sawit warga menurun akibat masa trek. "Masa trek ini akan berlangsung tiga hingga empat bulan ke depan," ujar Masyrullah yang juga Wakil Ketua DPRD Kabupaten Inhu, Rabu (15/4).

Akibat masa trek tersebut, warga tidak merasakan adanya harga TBS naik. Karena dari hasil panen saat ini, hampir separuh hilangnya dibanding dalam kondisi normal.

Biasanya untuk lahan satu kapling, hasil panen warga dapat mencapai dua ton, satu kali panen. Namun saat ini, hasil panen warga dari lahan tersebut hanya mencapai satu ton dan ada di antaranya 1,2 ton per satu kali panen. "Rata-rata hampir separuh hasil panen warga berkurang akibat masa trek,” ungkapnya.

Baca Juga:  12 BUMN Siapkan Buyback Rp 8 Triliun

Apalagi sebutnya, kenaikan harga TBS pada periode ini hanya berkisar antara Rp10 hingga Rp15 per kilogram. Seperti saat ini, TBS untuk usia tanam tujuh tahun, seharga Rp1.750 per kilogram.

Dengan kondisi yang ada, warga belum bisa berbuat banyak. Apalagi untuk menjaga ketersediaan pupuk yang harus dilakukan secara rutin. "Dalam waktu dekat sudah memasuk bulan puasa Ramadan ditambah lagi di masa pandemi corona, berbagai kebutuhan harian mulai naik," ucapnya.

Untuk itu, imbaunya, selama masa trek ini hendaknya warga terus melakukan panen secara rutin. Karena apabila buah tidak dipanen, juga akan berpengaruh kepada hasil panen berikutnya. "Ada di antara warga mulai enggan memanen, karena hasilnya tidak seimbang," terangnya.(kas)

Baca Juga:  Swiss-Belinn ska Pekanbaru Tawarkan 2021 New Deals

RENGAT (RIAUPOS.CO) — Petani kelapa sawit dalam wilayah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) seharusnya dapat berlega hati. Pasalnya, harga tanda buah segar (TBS) mengalami naik dari sebelumnya.

Hanya saja, di balik adanya harga TBS naik, tidak sebanding dengan hasil panen. Sebab sejak beberapa bulan ini, produksi kebun kelapa sawit warga menurun akibat masa trek. "Masa trek ini akan berlangsung tiga hingga empat bulan ke depan," ujar Masyrullah yang juga Wakil Ketua DPRD Kabupaten Inhu, Rabu (15/4).

Akibat masa trek tersebut, warga tidak merasakan adanya harga TBS naik. Karena dari hasil panen saat ini, hampir separuh hilangnya dibanding dalam kondisi normal.

Biasanya untuk lahan satu kapling, hasil panen warga dapat mencapai dua ton, satu kali panen. Namun saat ini, hasil panen warga dari lahan tersebut hanya mencapai satu ton dan ada di antaranya 1,2 ton per satu kali panen. "Rata-rata hampir separuh hasil panen warga berkurang akibat masa trek,” ungkapnya.

Baca Juga:  12 BUMN Siapkan Buyback Rp 8 Triliun

Apalagi sebutnya, kenaikan harga TBS pada periode ini hanya berkisar antara Rp10 hingga Rp15 per kilogram. Seperti saat ini, TBS untuk usia tanam tujuh tahun, seharga Rp1.750 per kilogram.

Dengan kondisi yang ada, warga belum bisa berbuat banyak. Apalagi untuk menjaga ketersediaan pupuk yang harus dilakukan secara rutin. "Dalam waktu dekat sudah memasuk bulan puasa Ramadan ditambah lagi di masa pandemi corona, berbagai kebutuhan harian mulai naik," ucapnya.

Untuk itu, imbaunya, selama masa trek ini hendaknya warga terus melakukan panen secara rutin. Karena apabila buah tidak dipanen, juga akan berpengaruh kepada hasil panen berikutnya. "Ada di antara warga mulai enggan memanen, karena hasilnya tidak seimbang," terangnya.(kas)

Baca Juga:  Gubernur Riau Lepas Ekspor Akhir Tahun 2021 dari PT Surya Inti Primakarya
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari