Sabtu, 21 Maret 2026
- Advertisement -

Riau Darurat Karhutla dan Abrasi

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Dalam rangka memeringati Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day), Walhi Riau beserta komunitas seni Selembayung dan Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Kota Pekanbaru, mengadakan bincang di area care free day (CFD) pada, Ahad (2/2). Kegiatan bertema "Pulihkan Gambut Sekarang, Rakyat Selamat".

Hal itu sebagai bentuk langkah peringatan memasuki musim kemarau. Adapun maksud dari tema, karena melihat Provinsi Riau selalu diterpa bencana ekologis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah terjadi sejak 22 tahun.

Pada 2019 lalu, BNPB memprediksi kerugian yang ditimbulkan oleh karhutla mencapai Rp66,3 triliun. Taksiran kerugian itu diperoleh dengan membandingkan jumlah kerugian karhutla pada 2015.

Sementara luasan karhutla menurut catatan BNPB pada 2019 mencapai 350 ribu hektare. Sebagian besar kebakaran di Riau terjadi di atas lahan gambut dan hampir setengahnya berada di kawasan konsesi.

Sebelum diskusi dimulai, diawali dengan penampilan teater lingkungan dari Sanggar Selembayung. Empat orang berjalan melawati kerumunan pengunjung  CFD sambil berkata "Rumah Pak Udin terseret ombak. Itu gejala alami siapa yang peduli. Ayo mainkan ke pantai”. Kalimat tersebut diulang-ulang sambil berjalan sehingga mengundang perhatian warga.

Baca Juga:  Media Konvensional Masih Berpengaruh Kuat

Tibalah sesi diskusi bersama dengan pembicara Deputi Walhi Riau Fandi Rahman, Direktur LBH Pekanbaru Aditia Bagus Santoso dan Sanggar Selembayung, Fedli Aziz.

Fandi Rahman mengawali pembicaraa dengan menjelaskan potensi dari kerusakan lahan basah salah yaitu gambut dan abrasi pulau Bengkalis, Rupat dan Meranti. “Bibir pantai di pesisir Riau sudah berkurang tiap tahunnya. Ini akibat penebangan hutan mangrove dan pembukaan lahan berkebunan," katanya.

Ia meminta agar isu abrasi tiga pulau mulai jadi perhatian pemerintah kabupaten, dan masyarakat agar bisa membuat langkah kongkrit dalam menekan laju abrasi tersebut.

Momen Hari Lahan Basah se-Dunia  mengingatkan kembali akan arti penting lahan basah yang sering terlupakan. Untuk itu harus muncul gerakan kolektif semua unsur dalam memberikan edukasi terhadap masyarakat terutama generasi muda dan terlibat untuk  merawat, mendijaga, dan mengelola lingkungan dengan baik secara terintegrasi supaya kita terhindar dari permasalahan krisis air dan bencana ekologis lainnya.

Baca Juga:  Mutasi ASN ke Pemprov Riau Harus Melalui Proses Asesmen 

Sementara itu Direktur LBH Pekanbaru, Aditia Bagus Santoso menjelaskan penegakan hukum terhadap korporasi yang merusak lahan gambut di Provinsi Riau, karena jauh dari harapan masyarakat. Di mana menurut laporan Polda Riau oknum masyarakat lebih dominan dari pada perusahaan perkebunan dan HTI yang menjadi tersangka, malah ada petani yang menjadi korban.

"Pak Syafrudin hanya petani biasa yang membuka ladang untuk menanam sayuran dan buahan, LBH melihat unsur pidana dalam kasus ini sangat lemah dan seharusnya ia bebas dari dakwaan," ujarnya.(ksm)

Laporan: SOFIAH

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Dalam rangka memeringati Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day), Walhi Riau beserta komunitas seni Selembayung dan Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Kota Pekanbaru, mengadakan bincang di area care free day (CFD) pada, Ahad (2/2). Kegiatan bertema "Pulihkan Gambut Sekarang, Rakyat Selamat".

Hal itu sebagai bentuk langkah peringatan memasuki musim kemarau. Adapun maksud dari tema, karena melihat Provinsi Riau selalu diterpa bencana ekologis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah terjadi sejak 22 tahun.

Pada 2019 lalu, BNPB memprediksi kerugian yang ditimbulkan oleh karhutla mencapai Rp66,3 triliun. Taksiran kerugian itu diperoleh dengan membandingkan jumlah kerugian karhutla pada 2015.

Sementara luasan karhutla menurut catatan BNPB pada 2019 mencapai 350 ribu hektare. Sebagian besar kebakaran di Riau terjadi di atas lahan gambut dan hampir setengahnya berada di kawasan konsesi.

Sebelum diskusi dimulai, diawali dengan penampilan teater lingkungan dari Sanggar Selembayung. Empat orang berjalan melawati kerumunan pengunjung  CFD sambil berkata "Rumah Pak Udin terseret ombak. Itu gejala alami siapa yang peduli. Ayo mainkan ke pantai”. Kalimat tersebut diulang-ulang sambil berjalan sehingga mengundang perhatian warga.

- Advertisement -
Baca Juga:  Mutasi ASN ke Pemprov Riau Harus Melalui Proses Asesmen 

Tibalah sesi diskusi bersama dengan pembicara Deputi Walhi Riau Fandi Rahman, Direktur LBH Pekanbaru Aditia Bagus Santoso dan Sanggar Selembayung, Fedli Aziz.

Fandi Rahman mengawali pembicaraa dengan menjelaskan potensi dari kerusakan lahan basah salah yaitu gambut dan abrasi pulau Bengkalis, Rupat dan Meranti. “Bibir pantai di pesisir Riau sudah berkurang tiap tahunnya. Ini akibat penebangan hutan mangrove dan pembukaan lahan berkebunan," katanya.

- Advertisement -

Ia meminta agar isu abrasi tiga pulau mulai jadi perhatian pemerintah kabupaten, dan masyarakat agar bisa membuat langkah kongkrit dalam menekan laju abrasi tersebut.

Momen Hari Lahan Basah se-Dunia  mengingatkan kembali akan arti penting lahan basah yang sering terlupakan. Untuk itu harus muncul gerakan kolektif semua unsur dalam memberikan edukasi terhadap masyarakat terutama generasi muda dan terlibat untuk  merawat, mendijaga, dan mengelola lingkungan dengan baik secara terintegrasi supaya kita terhindar dari permasalahan krisis air dan bencana ekologis lainnya.

Baca Juga:  Kuansing Dapat 51,66 Kilometer Jalan Tol

Sementara itu Direktur LBH Pekanbaru, Aditia Bagus Santoso menjelaskan penegakan hukum terhadap korporasi yang merusak lahan gambut di Provinsi Riau, karena jauh dari harapan masyarakat. Di mana menurut laporan Polda Riau oknum masyarakat lebih dominan dari pada perusahaan perkebunan dan HTI yang menjadi tersangka, malah ada petani yang menjadi korban.

"Pak Syafrudin hanya petani biasa yang membuka ladang untuk menanam sayuran dan buahan, LBH melihat unsur pidana dalam kasus ini sangat lemah dan seharusnya ia bebas dari dakwaan," ujarnya.(ksm)

Laporan: SOFIAH

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Dalam rangka memeringati Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day), Walhi Riau beserta komunitas seni Selembayung dan Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Kota Pekanbaru, mengadakan bincang di area care free day (CFD) pada, Ahad (2/2). Kegiatan bertema "Pulihkan Gambut Sekarang, Rakyat Selamat".

Hal itu sebagai bentuk langkah peringatan memasuki musim kemarau. Adapun maksud dari tema, karena melihat Provinsi Riau selalu diterpa bencana ekologis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah terjadi sejak 22 tahun.

Pada 2019 lalu, BNPB memprediksi kerugian yang ditimbulkan oleh karhutla mencapai Rp66,3 triliun. Taksiran kerugian itu diperoleh dengan membandingkan jumlah kerugian karhutla pada 2015.

Sementara luasan karhutla menurut catatan BNPB pada 2019 mencapai 350 ribu hektare. Sebagian besar kebakaran di Riau terjadi di atas lahan gambut dan hampir setengahnya berada di kawasan konsesi.

Sebelum diskusi dimulai, diawali dengan penampilan teater lingkungan dari Sanggar Selembayung. Empat orang berjalan melawati kerumunan pengunjung  CFD sambil berkata "Rumah Pak Udin terseret ombak. Itu gejala alami siapa yang peduli. Ayo mainkan ke pantai”. Kalimat tersebut diulang-ulang sambil berjalan sehingga mengundang perhatian warga.

Baca Juga:  Mudik Idulfitri 2024, Tol Bangkinang-XIII Koto Kampar Dioperasikan Gratis

Tibalah sesi diskusi bersama dengan pembicara Deputi Walhi Riau Fandi Rahman, Direktur LBH Pekanbaru Aditia Bagus Santoso dan Sanggar Selembayung, Fedli Aziz.

Fandi Rahman mengawali pembicaraa dengan menjelaskan potensi dari kerusakan lahan basah salah yaitu gambut dan abrasi pulau Bengkalis, Rupat dan Meranti. “Bibir pantai di pesisir Riau sudah berkurang tiap tahunnya. Ini akibat penebangan hutan mangrove dan pembukaan lahan berkebunan," katanya.

Ia meminta agar isu abrasi tiga pulau mulai jadi perhatian pemerintah kabupaten, dan masyarakat agar bisa membuat langkah kongkrit dalam menekan laju abrasi tersebut.

Momen Hari Lahan Basah se-Dunia  mengingatkan kembali akan arti penting lahan basah yang sering terlupakan. Untuk itu harus muncul gerakan kolektif semua unsur dalam memberikan edukasi terhadap masyarakat terutama generasi muda dan terlibat untuk  merawat, mendijaga, dan mengelola lingkungan dengan baik secara terintegrasi supaya kita terhindar dari permasalahan krisis air dan bencana ekologis lainnya.

Baca Juga:  Jemaah Haji asal Pekanbaru Meninggal Dunia di Makkah

Sementara itu Direktur LBH Pekanbaru, Aditia Bagus Santoso menjelaskan penegakan hukum terhadap korporasi yang merusak lahan gambut di Provinsi Riau, karena jauh dari harapan masyarakat. Di mana menurut laporan Polda Riau oknum masyarakat lebih dominan dari pada perusahaan perkebunan dan HTI yang menjadi tersangka, malah ada petani yang menjadi korban.

"Pak Syafrudin hanya petani biasa yang membuka ladang untuk menanam sayuran dan buahan, LBH melihat unsur pidana dalam kasus ini sangat lemah dan seharusnya ia bebas dari dakwaan," ujarnya.(ksm)

Laporan: SOFIAH

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari