Jumat, 11 April 2025

Myanmar Penjarakan Wartawan yang Salah Menulis Berita tentang Corona

YANGOON (RIAUPOS.CO) – Tangan besi penguasa Myanmar kembali memakan korban. Hanya karena salah dalam pemberitaan, seorang wartawan di negara tersebut harus masuk penjara.

Seorang pemimpin redaksi situs berita daring di Myanmar divonis penjara selama dua tahun pada Jumat (22/5/2020). Dia dianggap bersalah karena menerbitkan berita keliru terkait angka kematian kasus virus corona (Covid-19).

Pemimpin redaksi situs Dae Pyaw, Zaw Ye Htet, ditangkap pada 13 Mei. Saat itu redaksi menerbitkan sebuah artikel keliru yang menginformasikan soal kasus kematian akibat Covid-19 di kawasan timur Negara Bagian Karen.

Dilansir AFP, Sabtu (23/5), pada 20 Mei atau hanya berselang sepekan kemudian, Zaw menghadapi persidangan.

"Dia dijatuhi hukuman berdasarkan Pasal 505 (b) selama dua tahun penjara," kata kuasa hukum Zaw, Myint Thuzar Maw, di pengadilan di Negara Bagian Karen.

Baca Juga:  Balacuik Malapeh Bujang dan Malam Bainai Tayang di TV Besok

Istri Zaw Ye Htet, Phyu Phyu Win, mengatakan kepada AFP bahwa pihaknya akan mengajukan banding atas keputusan yang dinilai tidak adil tersebut.

Myanmar sampai saat ini mencatat memiliki 199 kasus positif virus corona dan 6 kematian. Namun, para ahli khawatir jika angka sebenarnya jauh lebih tinggi.

Negara bagian Karen berbatasan dengan Thailand. Lebih dari 16.000 warga setempat kembali pada awal April, setelah pandemi Covid-19 menyebabkan orang kehilangan pekerjaan di Thailand.Perbatasan kedua negara pun mulai ditutup.

Sejauh ini, Myanmar hanya melaporkan dua penambahan kasus virus corona baru dan jumlah korban meninggal tidak bertambah.

Pemerintah Myanmar memperingatkan masyarakat akan dituntut jika menyebarkan informasi yang salah tentang pandemi, tetapi pemenjaraan ini adalah kasus pertama yang diketahui.

Baca Juga:  45 Anggota DPRD Kota Pekanbaru Periode 2019 -2024 Dilantik

Negara itu juga sedang menyusun undang-undang baru tentang pengendalian penyakit menular, yang akan lebih mudah untuk menjerat wartawan yang dianggap memicu kepanikan masyarakat.

Wakil Direktur Human Rights Watch Asia, Phil Robertson, menyebut tindakan itu sebagai "resep untuk bencana" dan memperingatkan agar penduduk tidak menyangkal informasi yang mereka butuhkan.

"Di bawah hukum internasional, pembatasan kebebasan berbicara harus dijabarkan dengan cermat," tambah Robertson. 

Sumber: AFP/CNN/Antara/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

YANGOON (RIAUPOS.CO) – Tangan besi penguasa Myanmar kembali memakan korban. Hanya karena salah dalam pemberitaan, seorang wartawan di negara tersebut harus masuk penjara.

Seorang pemimpin redaksi situs berita daring di Myanmar divonis penjara selama dua tahun pada Jumat (22/5/2020). Dia dianggap bersalah karena menerbitkan berita keliru terkait angka kematian kasus virus corona (Covid-19).

Pemimpin redaksi situs Dae Pyaw, Zaw Ye Htet, ditangkap pada 13 Mei. Saat itu redaksi menerbitkan sebuah artikel keliru yang menginformasikan soal kasus kematian akibat Covid-19 di kawasan timur Negara Bagian Karen.

Dilansir AFP, Sabtu (23/5), pada 20 Mei atau hanya berselang sepekan kemudian, Zaw menghadapi persidangan.

"Dia dijatuhi hukuman berdasarkan Pasal 505 (b) selama dua tahun penjara," kata kuasa hukum Zaw, Myint Thuzar Maw, di pengadilan di Negara Bagian Karen.

Baca Juga:  Balacuik Malapeh Bujang dan Malam Bainai Tayang di TV Besok

Istri Zaw Ye Htet, Phyu Phyu Win, mengatakan kepada AFP bahwa pihaknya akan mengajukan banding atas keputusan yang dinilai tidak adil tersebut.

Myanmar sampai saat ini mencatat memiliki 199 kasus positif virus corona dan 6 kematian. Namun, para ahli khawatir jika angka sebenarnya jauh lebih tinggi.

Negara bagian Karen berbatasan dengan Thailand. Lebih dari 16.000 warga setempat kembali pada awal April, setelah pandemi Covid-19 menyebabkan orang kehilangan pekerjaan di Thailand.Perbatasan kedua negara pun mulai ditutup.

Sejauh ini, Myanmar hanya melaporkan dua penambahan kasus virus corona baru dan jumlah korban meninggal tidak bertambah.

Pemerintah Myanmar memperingatkan masyarakat akan dituntut jika menyebarkan informasi yang salah tentang pandemi, tetapi pemenjaraan ini adalah kasus pertama yang diketahui.

Baca Juga:  Benarkah Virus Corona Bisa Tertular Lewat Mata?

Negara itu juga sedang menyusun undang-undang baru tentang pengendalian penyakit menular, yang akan lebih mudah untuk menjerat wartawan yang dianggap memicu kepanikan masyarakat.

Wakil Direktur Human Rights Watch Asia, Phil Robertson, menyebut tindakan itu sebagai "resep untuk bencana" dan memperingatkan agar penduduk tidak menyangkal informasi yang mereka butuhkan.

"Di bawah hukum internasional, pembatasan kebebasan berbicara harus dijabarkan dengan cermat," tambah Robertson. 

Sumber: AFP/CNN/Antara/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Myanmar Penjarakan Wartawan yang Salah Menulis Berita tentang Corona

YANGOON (RIAUPOS.CO) – Tangan besi penguasa Myanmar kembali memakan korban. Hanya karena salah dalam pemberitaan, seorang wartawan di negara tersebut harus masuk penjara.

Seorang pemimpin redaksi situs berita daring di Myanmar divonis penjara selama dua tahun pada Jumat (22/5/2020). Dia dianggap bersalah karena menerbitkan berita keliru terkait angka kematian kasus virus corona (Covid-19).

Pemimpin redaksi situs Dae Pyaw, Zaw Ye Htet, ditangkap pada 13 Mei. Saat itu redaksi menerbitkan sebuah artikel keliru yang menginformasikan soal kasus kematian akibat Covid-19 di kawasan timur Negara Bagian Karen.

Dilansir AFP, Sabtu (23/5), pada 20 Mei atau hanya berselang sepekan kemudian, Zaw menghadapi persidangan.

"Dia dijatuhi hukuman berdasarkan Pasal 505 (b) selama dua tahun penjara," kata kuasa hukum Zaw, Myint Thuzar Maw, di pengadilan di Negara Bagian Karen.

Baca Juga:  KPU Punya Cara Patahkan Dalil-dalil Gugatan BPN Prabowo - Sandiaga

Istri Zaw Ye Htet, Phyu Phyu Win, mengatakan kepada AFP bahwa pihaknya akan mengajukan banding atas keputusan yang dinilai tidak adil tersebut.

Myanmar sampai saat ini mencatat memiliki 199 kasus positif virus corona dan 6 kematian. Namun, para ahli khawatir jika angka sebenarnya jauh lebih tinggi.

Negara bagian Karen berbatasan dengan Thailand. Lebih dari 16.000 warga setempat kembali pada awal April, setelah pandemi Covid-19 menyebabkan orang kehilangan pekerjaan di Thailand.Perbatasan kedua negara pun mulai ditutup.

Sejauh ini, Myanmar hanya melaporkan dua penambahan kasus virus corona baru dan jumlah korban meninggal tidak bertambah.

Pemerintah Myanmar memperingatkan masyarakat akan dituntut jika menyebarkan informasi yang salah tentang pandemi, tetapi pemenjaraan ini adalah kasus pertama yang diketahui.

Baca Juga:  Marching Band SMAN 1 Telukkuantan Meriahkan Pembukaan Pacu Jalur

Negara itu juga sedang menyusun undang-undang baru tentang pengendalian penyakit menular, yang akan lebih mudah untuk menjerat wartawan yang dianggap memicu kepanikan masyarakat.

Wakil Direktur Human Rights Watch Asia, Phil Robertson, menyebut tindakan itu sebagai "resep untuk bencana" dan memperingatkan agar penduduk tidak menyangkal informasi yang mereka butuhkan.

"Di bawah hukum internasional, pembatasan kebebasan berbicara harus dijabarkan dengan cermat," tambah Robertson. 

Sumber: AFP/CNN/Antara/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

YANGOON (RIAUPOS.CO) – Tangan besi penguasa Myanmar kembali memakan korban. Hanya karena salah dalam pemberitaan, seorang wartawan di negara tersebut harus masuk penjara.

Seorang pemimpin redaksi situs berita daring di Myanmar divonis penjara selama dua tahun pada Jumat (22/5/2020). Dia dianggap bersalah karena menerbitkan berita keliru terkait angka kematian kasus virus corona (Covid-19).

Pemimpin redaksi situs Dae Pyaw, Zaw Ye Htet, ditangkap pada 13 Mei. Saat itu redaksi menerbitkan sebuah artikel keliru yang menginformasikan soal kasus kematian akibat Covid-19 di kawasan timur Negara Bagian Karen.

Dilansir AFP, Sabtu (23/5), pada 20 Mei atau hanya berselang sepekan kemudian, Zaw menghadapi persidangan.

"Dia dijatuhi hukuman berdasarkan Pasal 505 (b) selama dua tahun penjara," kata kuasa hukum Zaw, Myint Thuzar Maw, di pengadilan di Negara Bagian Karen.

Baca Juga:  Bupati Lantik Pj Penghulu Kampung Tengah

Istri Zaw Ye Htet, Phyu Phyu Win, mengatakan kepada AFP bahwa pihaknya akan mengajukan banding atas keputusan yang dinilai tidak adil tersebut.

Myanmar sampai saat ini mencatat memiliki 199 kasus positif virus corona dan 6 kematian. Namun, para ahli khawatir jika angka sebenarnya jauh lebih tinggi.

Negara bagian Karen berbatasan dengan Thailand. Lebih dari 16.000 warga setempat kembali pada awal April, setelah pandemi Covid-19 menyebabkan orang kehilangan pekerjaan di Thailand.Perbatasan kedua negara pun mulai ditutup.

Sejauh ini, Myanmar hanya melaporkan dua penambahan kasus virus corona baru dan jumlah korban meninggal tidak bertambah.

Pemerintah Myanmar memperingatkan masyarakat akan dituntut jika menyebarkan informasi yang salah tentang pandemi, tetapi pemenjaraan ini adalah kasus pertama yang diketahui.

Baca Juga:  Publik Ragukan Pimpinan KPK Terpilih, Alexander Marwata Beri Reaksi Begini

Negara itu juga sedang menyusun undang-undang baru tentang pengendalian penyakit menular, yang akan lebih mudah untuk menjerat wartawan yang dianggap memicu kepanikan masyarakat.

Wakil Direktur Human Rights Watch Asia, Phil Robertson, menyebut tindakan itu sebagai "resep untuk bencana" dan memperingatkan agar penduduk tidak menyangkal informasi yang mereka butuhkan.

"Di bawah hukum internasional, pembatasan kebebasan berbicara harus dijabarkan dengan cermat," tambah Robertson. 

Sumber: AFP/CNN/Antara/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari