Rabu, 1 April 2026
- Advertisement -

Berharap Tidak Ada Lonjakan Kasus Positif

Kita sedang dilanda kekhawatiran. Bukan hanya pemerintah, tapi seluruh rakyat Indonesia begitu waswas akan terjadi ledakan kasus positif Covid-19. Terlebih selepas libur perayaan hari kemenangan setelah satu bulan penuh ''berperang'' melawan hawa napsu, yaitu Idulfitri 1442 Hijriah. 

Pemerintah telah melakukan segala upaya untuk menekan penambahan kasus positif. Mulai larangan mudik, penutupan tempat-tempat wisata. Bahkan kawasan yang masuk zona merah Covid-19, warganya dilarang menggelar Salat Idulfitri di masjid maupun di lapangan terbuka. Warga patuh, meski ada juga yang nekat.

Ada yang memprediksi dalam dua pekan ke depan akan kelihatan kenaikan kasus Covid-19. Ini efek dari mobilitas orang saat libur Idulfitri. Langkah antisipasi pun dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Mulai menyediakan ruang isolasi hingga ICU.

Masih berdasarkan prediksi, peningkatan kasus positif Covid-19 pascamudik bakal terlihat setelah dua pekan. Artinya, angkanya baru mulai naik pada pekan terakhir Mei 2021. Kenaikannya bervariasi setiap provinsi. 

Kenaikan kasusnya memang tidak akan separah di India. Mutasi virus SARS-CoV-2 yang masuk ke Indonesia pun tidak akan terlalu berpengaruh pada kecepatan penularan. Asalkan, isolasi dan karantina masyarakat yang terpapar betul-betul dijaga.

Sejak awal kebijakan pelarangan mudik memang sudah diprediksi tidak akan efektif. Itu terlihat dari 2 juta orang yang lolos meski sudah ada penjagaan di mana-mana saat masa pelarangan mudik pada 6–17 Mei. Padahal, sebelum periode itu dipastikan banyak warga yang curi start mudik.

Pemerintah bukan telat mengambil sikap untuk penanganan pandemi Covid-19. Hanya, tidak jelas arah kebijakannya. Itu terlihat dari intervensi standar tracing dan isolasi/karantina yang malah tidak dilakukan maksimal.

Antisipasi yang dilakukan pemerintah tidak cukup. Harus dibarengi dengan partisipasi masyarakat. Terutama yang baru saja kembali dari mudik. Masyarakat wajib melaksanakan protokol kesehatan 3M. Alangkan baiknya warga yang mudik bisa menahan diri berdiam di rumah dulu sampai 14 hari. Atau bisa juga melakukan tes secara mandiri, sehingga bisa tertangani lebih cepat kalau ada yang positif.

Pemerintah memang telah menyiapkan rumah sakit, sumber daya manusia dan obat untuk mengantisipasi lonjakan kasus. Ketersediaan tempat tidur di ruang isolasi maupun ICU juga sudah perhintungkan. Secara nasional, Indonesia memiliki 70.000 tempat tidur untuk isolasi. Yang terisi sekitar 20.000.

Semoga kekhawatiran yang menghantui pikiran kita belakang ini tidak terjadi. Sama-sama kita berdoa agar tidak terjadi lonjakan kasus Covid-19.*** 
 

Kita sedang dilanda kekhawatiran. Bukan hanya pemerintah, tapi seluruh rakyat Indonesia begitu waswas akan terjadi ledakan kasus positif Covid-19. Terlebih selepas libur perayaan hari kemenangan setelah satu bulan penuh ''berperang'' melawan hawa napsu, yaitu Idulfitri 1442 Hijriah. 

Pemerintah telah melakukan segala upaya untuk menekan penambahan kasus positif. Mulai larangan mudik, penutupan tempat-tempat wisata. Bahkan kawasan yang masuk zona merah Covid-19, warganya dilarang menggelar Salat Idulfitri di masjid maupun di lapangan terbuka. Warga patuh, meski ada juga yang nekat.

Ada yang memprediksi dalam dua pekan ke depan akan kelihatan kenaikan kasus Covid-19. Ini efek dari mobilitas orang saat libur Idulfitri. Langkah antisipasi pun dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Mulai menyediakan ruang isolasi hingga ICU.

Masih berdasarkan prediksi, peningkatan kasus positif Covid-19 pascamudik bakal terlihat setelah dua pekan. Artinya, angkanya baru mulai naik pada pekan terakhir Mei 2021. Kenaikannya bervariasi setiap provinsi. 

Kenaikan kasusnya memang tidak akan separah di India. Mutasi virus SARS-CoV-2 yang masuk ke Indonesia pun tidak akan terlalu berpengaruh pada kecepatan penularan. Asalkan, isolasi dan karantina masyarakat yang terpapar betul-betul dijaga.

- Advertisement -

Sejak awal kebijakan pelarangan mudik memang sudah diprediksi tidak akan efektif. Itu terlihat dari 2 juta orang yang lolos meski sudah ada penjagaan di mana-mana saat masa pelarangan mudik pada 6–17 Mei. Padahal, sebelum periode itu dipastikan banyak warga yang curi start mudik.

Pemerintah bukan telat mengambil sikap untuk penanganan pandemi Covid-19. Hanya, tidak jelas arah kebijakannya. Itu terlihat dari intervensi standar tracing dan isolasi/karantina yang malah tidak dilakukan maksimal.

- Advertisement -

Antisipasi yang dilakukan pemerintah tidak cukup. Harus dibarengi dengan partisipasi masyarakat. Terutama yang baru saja kembali dari mudik. Masyarakat wajib melaksanakan protokol kesehatan 3M. Alangkan baiknya warga yang mudik bisa menahan diri berdiam di rumah dulu sampai 14 hari. Atau bisa juga melakukan tes secara mandiri, sehingga bisa tertangani lebih cepat kalau ada yang positif.

Pemerintah memang telah menyiapkan rumah sakit, sumber daya manusia dan obat untuk mengantisipasi lonjakan kasus. Ketersediaan tempat tidur di ruang isolasi maupun ICU juga sudah perhintungkan. Secara nasional, Indonesia memiliki 70.000 tempat tidur untuk isolasi. Yang terisi sekitar 20.000.

Semoga kekhawatiran yang menghantui pikiran kita belakang ini tidak terjadi. Sama-sama kita berdoa agar tidak terjadi lonjakan kasus Covid-19.*** 
 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

Kita sedang dilanda kekhawatiran. Bukan hanya pemerintah, tapi seluruh rakyat Indonesia begitu waswas akan terjadi ledakan kasus positif Covid-19. Terlebih selepas libur perayaan hari kemenangan setelah satu bulan penuh ''berperang'' melawan hawa napsu, yaitu Idulfitri 1442 Hijriah. 

Pemerintah telah melakukan segala upaya untuk menekan penambahan kasus positif. Mulai larangan mudik, penutupan tempat-tempat wisata. Bahkan kawasan yang masuk zona merah Covid-19, warganya dilarang menggelar Salat Idulfitri di masjid maupun di lapangan terbuka. Warga patuh, meski ada juga yang nekat.

Ada yang memprediksi dalam dua pekan ke depan akan kelihatan kenaikan kasus Covid-19. Ini efek dari mobilitas orang saat libur Idulfitri. Langkah antisipasi pun dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Mulai menyediakan ruang isolasi hingga ICU.

Masih berdasarkan prediksi, peningkatan kasus positif Covid-19 pascamudik bakal terlihat setelah dua pekan. Artinya, angkanya baru mulai naik pada pekan terakhir Mei 2021. Kenaikannya bervariasi setiap provinsi. 

Kenaikan kasusnya memang tidak akan separah di India. Mutasi virus SARS-CoV-2 yang masuk ke Indonesia pun tidak akan terlalu berpengaruh pada kecepatan penularan. Asalkan, isolasi dan karantina masyarakat yang terpapar betul-betul dijaga.

Sejak awal kebijakan pelarangan mudik memang sudah diprediksi tidak akan efektif. Itu terlihat dari 2 juta orang yang lolos meski sudah ada penjagaan di mana-mana saat masa pelarangan mudik pada 6–17 Mei. Padahal, sebelum periode itu dipastikan banyak warga yang curi start mudik.

Pemerintah bukan telat mengambil sikap untuk penanganan pandemi Covid-19. Hanya, tidak jelas arah kebijakannya. Itu terlihat dari intervensi standar tracing dan isolasi/karantina yang malah tidak dilakukan maksimal.

Antisipasi yang dilakukan pemerintah tidak cukup. Harus dibarengi dengan partisipasi masyarakat. Terutama yang baru saja kembali dari mudik. Masyarakat wajib melaksanakan protokol kesehatan 3M. Alangkan baiknya warga yang mudik bisa menahan diri berdiam di rumah dulu sampai 14 hari. Atau bisa juga melakukan tes secara mandiri, sehingga bisa tertangani lebih cepat kalau ada yang positif.

Pemerintah memang telah menyiapkan rumah sakit, sumber daya manusia dan obat untuk mengantisipasi lonjakan kasus. Ketersediaan tempat tidur di ruang isolasi maupun ICU juga sudah perhintungkan. Secara nasional, Indonesia memiliki 70.000 tempat tidur untuk isolasi. Yang terisi sekitar 20.000.

Semoga kekhawatiran yang menghantui pikiran kita belakang ini tidak terjadi. Sama-sama kita berdoa agar tidak terjadi lonjakan kasus Covid-19.*** 
 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari