Selasa, 17 Maret 2026
- Advertisement -

Harus Agresif Genjot Perlambatan Ekonomi, Itu Permintaan Jokowi

JAKARTA(RIAUPOS.CO) – Melambatnya ekonomi global akibat perang dagang, harga komoditas yang terus turun, serta resesi diprediksi membuat pemerintahan kedua Presiden Joko Widodo (Jokowi) terseok-seok di dua tahun pertama.

Hal ini diungkapkan Direktur Riset Center of Reform on Economis (CORE) Piter Abdullah kepada JawaPos.com, Sabtu (19/10).

Menurut Piter, Indonesia dianggap terlalu banyak menyerap dampak perlambatan ekonomi global. Alhasil lima tahun ke belakang ini pertumbuhan ekonomi stagnan di kisaran angka 5 – 5,2 persen.

“Lima tahun ke belakang kebijakan ekonomi marko sangat lemah, tidak melakukan counter terhadap perlambatan ekonomi global,” ungkap Piter.

Strategi Jokowi pada periode pertama yang bertumpu pada infrastruktur tidak membawa banyak perubahan. Di sisi lain, ketergantungan ekspor maupun impor tetap tinggi.

Baca Juga:  Harga Cabai Meroket hingga Rp100 Ribu, Stok Mulai Langka di Riau

Meski kondisi ekonomi semakin sulit, CORE berharap tim ekonomi di kabinet Jokowi mendatang lebih agresif dalam mengonter perlambatan ekonomi. Salah satunya memaksimalkan instrumen fiskal, moneter dan sektor riil.

“Tentu ke depan kita ingin pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Dari sisi tenaga kerja juga lebih baik,” harap Pieter.

Pengamat ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) Rimawan Pradiptyo menilai, capaian Jokowi di periode pertama yang paling menonjol adalah penanganan illegal fishing di wilayah perairan Indonesia.

Menurut Rimawan, Jokowi harus melanjutkan kebijakan yang dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat. Dari sisi kelembagaan, Jokowi juga melakukan perubahan positif.

“Ke depan adalah perbaikan di aspek kelembagaan, selain infrastruktur. Tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga masuk dalam agenda reformasi yang belum dilakukan,” kata Rimawan.

Baca Juga:  Kimia Farma Mengajar dan Menginspirasi Hadir di SD Babussalam Pekanbaru

Editor : Deslina
Sumber: jawapos.com

JAKARTA(RIAUPOS.CO) – Melambatnya ekonomi global akibat perang dagang, harga komoditas yang terus turun, serta resesi diprediksi membuat pemerintahan kedua Presiden Joko Widodo (Jokowi) terseok-seok di dua tahun pertama.

Hal ini diungkapkan Direktur Riset Center of Reform on Economis (CORE) Piter Abdullah kepada JawaPos.com, Sabtu (19/10).

Menurut Piter, Indonesia dianggap terlalu banyak menyerap dampak perlambatan ekonomi global. Alhasil lima tahun ke belakang ini pertumbuhan ekonomi stagnan di kisaran angka 5 – 5,2 persen.

“Lima tahun ke belakang kebijakan ekonomi marko sangat lemah, tidak melakukan counter terhadap perlambatan ekonomi global,” ungkap Piter.

Strategi Jokowi pada periode pertama yang bertumpu pada infrastruktur tidak membawa banyak perubahan. Di sisi lain, ketergantungan ekspor maupun impor tetap tinggi.

Baca Juga:  Digenjot Mulai Awal 2022, Menko Airlangga Beberkan Program Prioritas PEN

Meski kondisi ekonomi semakin sulit, CORE berharap tim ekonomi di kabinet Jokowi mendatang lebih agresif dalam mengonter perlambatan ekonomi. Salah satunya memaksimalkan instrumen fiskal, moneter dan sektor riil.

- Advertisement -

“Tentu ke depan kita ingin pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Dari sisi tenaga kerja juga lebih baik,” harap Pieter.

Pengamat ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) Rimawan Pradiptyo menilai, capaian Jokowi di periode pertama yang paling menonjol adalah penanganan illegal fishing di wilayah perairan Indonesia.

- Advertisement -

Menurut Rimawan, Jokowi harus melanjutkan kebijakan yang dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat. Dari sisi kelembagaan, Jokowi juga melakukan perubahan positif.

“Ke depan adalah perbaikan di aspek kelembagaan, selain infrastruktur. Tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga masuk dalam agenda reformasi yang belum dilakukan,” kata Rimawan.

Baca Juga:  XL Axiata-Vidio Hadirkan Bonus Video Premium

Editor : Deslina
Sumber: jawapos.com

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA(RIAUPOS.CO) – Melambatnya ekonomi global akibat perang dagang, harga komoditas yang terus turun, serta resesi diprediksi membuat pemerintahan kedua Presiden Joko Widodo (Jokowi) terseok-seok di dua tahun pertama.

Hal ini diungkapkan Direktur Riset Center of Reform on Economis (CORE) Piter Abdullah kepada JawaPos.com, Sabtu (19/10).

Menurut Piter, Indonesia dianggap terlalu banyak menyerap dampak perlambatan ekonomi global. Alhasil lima tahun ke belakang ini pertumbuhan ekonomi stagnan di kisaran angka 5 – 5,2 persen.

“Lima tahun ke belakang kebijakan ekonomi marko sangat lemah, tidak melakukan counter terhadap perlambatan ekonomi global,” ungkap Piter.

Strategi Jokowi pada periode pertama yang bertumpu pada infrastruktur tidak membawa banyak perubahan. Di sisi lain, ketergantungan ekspor maupun impor tetap tinggi.

Baca Juga:  Satu Periode Pengelolaan Blok Bentu: Gas EMP Bentu dari dan untuk Riau

Meski kondisi ekonomi semakin sulit, CORE berharap tim ekonomi di kabinet Jokowi mendatang lebih agresif dalam mengonter perlambatan ekonomi. Salah satunya memaksimalkan instrumen fiskal, moneter dan sektor riil.

“Tentu ke depan kita ingin pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Dari sisi tenaga kerja juga lebih baik,” harap Pieter.

Pengamat ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) Rimawan Pradiptyo menilai, capaian Jokowi di periode pertama yang paling menonjol adalah penanganan illegal fishing di wilayah perairan Indonesia.

Menurut Rimawan, Jokowi harus melanjutkan kebijakan yang dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat. Dari sisi kelembagaan, Jokowi juga melakukan perubahan positif.

“Ke depan adalah perbaikan di aspek kelembagaan, selain infrastruktur. Tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga masuk dalam agenda reformasi yang belum dilakukan,” kata Rimawan.

Baca Juga:  Harga Cabai Meroket hingga Rp100 Ribu, Stok Mulai Langka di Riau

Editor : Deslina
Sumber: jawapos.com

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari