Sabtu, 14 Maret 2026
- Advertisement -

2 Menit 49 Detik Bebaskan Sandera

PEKANBARU, (RIAUPOS.CO) — BERKAT kemampuan tem­pur prajurit Komando Pasu­kan Khusus (Kopassus) dalam Operasi Pembebasan Sandera di pesawat maskapai Garuda Indonesia DC-9 atau Woyla, puluhan sandera pembajakan tersebut bisa selamat dan bernafas lega.

Prajurit Kopassus yang saat itu bernama Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasshandha) hanya memerlukan waktu 2 menit 49 detik untuk membebaskan seluruh penumpang yang disandera. Ini merupakan Peristiwa menegangkan itu terjadi pada 1981 silam, sebuah pembajakan pesawat Garuda Indonesia DC-9 Woyla oleh para terorisme. Pembajakan tersebut merupakan kasus terorisme pertama dalam sejarah maskapai penerbangan Indonesia.

Letkol Inf (Purn) Untung Suroso (83) sebagai pelaku sejarah pembebasan sandera Garuda DC-9 Woyla sekaligus pemimpin subtim perintis 1 dalam menangani pembajakan bercerita kisahnya dalam tayangan Youtube Puspen TNI pada, Sabtu (5/9) kemarin.

Baca Juga:  Dirut Perusahaan Ini Didakwa Rugikan Negara Rp63 Miliar di Kasus Korupsi Bakamla

Pembajakan tersebut dikenal pula sebagai peristiwa Woyla di Bangkok Thailand dengan sebutan Operasi Senyap Komando Pasukan Sandi Yudha. Riau Pos pun mengikuti perjalanan kisah yang diungkapkan eks komandan penyerbu tersebut dari awal hingga akhir.

"Waktu penyergapan saya dengan aba-aba satu, dua serbu nah itu mulai saya hitung pakai stopwatch, bukan jam tangan. Stopwatch-nya spesial perlengkapan dari Amerika. Saya melihat sampai saya laporan itu 2 menit 49 detik," katanya mengenang.

Ketika melihat stopwatch yang ada, dia pun kaget lantaran waktunya yang begitu singkat. Letkol Untung ketika itu senang karena merasa telah memecahkan rekor dunia. "Ini benar? Kalau begitu saya juara dunia," ujarnya dengan wajah sumringah.

Baca Juga:  Jadi Tersangka, Brigjen Prasetijo Langsung Ditahan

Saat operasi pembebasan, dirinya bertugas sebagai Komandan tim dan hanya membawa enam prajurit yang dibagi dalam tiga bagian yakni depan, tengah, dan belakang. Di mana masing-masing bagian terdiri dari dua prajurit.

PEKANBARU, (RIAUPOS.CO) — BERKAT kemampuan tem­pur prajurit Komando Pasu­kan Khusus (Kopassus) dalam Operasi Pembebasan Sandera di pesawat maskapai Garuda Indonesia DC-9 atau Woyla, puluhan sandera pembajakan tersebut bisa selamat dan bernafas lega.

Prajurit Kopassus yang saat itu bernama Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasshandha) hanya memerlukan waktu 2 menit 49 detik untuk membebaskan seluruh penumpang yang disandera. Ini merupakan Peristiwa menegangkan itu terjadi pada 1981 silam, sebuah pembajakan pesawat Garuda Indonesia DC-9 Woyla oleh para terorisme. Pembajakan tersebut merupakan kasus terorisme pertama dalam sejarah maskapai penerbangan Indonesia.

Letkol Inf (Purn) Untung Suroso (83) sebagai pelaku sejarah pembebasan sandera Garuda DC-9 Woyla sekaligus pemimpin subtim perintis 1 dalam menangani pembajakan bercerita kisahnya dalam tayangan Youtube Puspen TNI pada, Sabtu (5/9) kemarin.

Baca Juga:  Komando Penanganan Terorisme dan Radikalisme Dipegang Wapres

Pembajakan tersebut dikenal pula sebagai peristiwa Woyla di Bangkok Thailand dengan sebutan Operasi Senyap Komando Pasukan Sandi Yudha. Riau Pos pun mengikuti perjalanan kisah yang diungkapkan eks komandan penyerbu tersebut dari awal hingga akhir.

"Waktu penyergapan saya dengan aba-aba satu, dua serbu nah itu mulai saya hitung pakai stopwatch, bukan jam tangan. Stopwatch-nya spesial perlengkapan dari Amerika. Saya melihat sampai saya laporan itu 2 menit 49 detik," katanya mengenang.

- Advertisement -

Ketika melihat stopwatch yang ada, dia pun kaget lantaran waktunya yang begitu singkat. Letkol Untung ketika itu senang karena merasa telah memecahkan rekor dunia. "Ini benar? Kalau begitu saya juara dunia," ujarnya dengan wajah sumringah.

Baca Juga:  D’Masiv Berantem di Atas Panggung

Saat operasi pembebasan, dirinya bertugas sebagai Komandan tim dan hanya membawa enam prajurit yang dibagi dalam tiga bagian yakni depan, tengah, dan belakang. Di mana masing-masing bagian terdiri dari dua prajurit.

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU, (RIAUPOS.CO) — BERKAT kemampuan tem­pur prajurit Komando Pasu­kan Khusus (Kopassus) dalam Operasi Pembebasan Sandera di pesawat maskapai Garuda Indonesia DC-9 atau Woyla, puluhan sandera pembajakan tersebut bisa selamat dan bernafas lega.

Prajurit Kopassus yang saat itu bernama Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasshandha) hanya memerlukan waktu 2 menit 49 detik untuk membebaskan seluruh penumpang yang disandera. Ini merupakan Peristiwa menegangkan itu terjadi pada 1981 silam, sebuah pembajakan pesawat Garuda Indonesia DC-9 Woyla oleh para terorisme. Pembajakan tersebut merupakan kasus terorisme pertama dalam sejarah maskapai penerbangan Indonesia.

Letkol Inf (Purn) Untung Suroso (83) sebagai pelaku sejarah pembebasan sandera Garuda DC-9 Woyla sekaligus pemimpin subtim perintis 1 dalam menangani pembajakan bercerita kisahnya dalam tayangan Youtube Puspen TNI pada, Sabtu (5/9) kemarin.

Baca Juga:  D’Masiv Berantem di Atas Panggung

Pembajakan tersebut dikenal pula sebagai peristiwa Woyla di Bangkok Thailand dengan sebutan Operasi Senyap Komando Pasukan Sandi Yudha. Riau Pos pun mengikuti perjalanan kisah yang diungkapkan eks komandan penyerbu tersebut dari awal hingga akhir.

"Waktu penyergapan saya dengan aba-aba satu, dua serbu nah itu mulai saya hitung pakai stopwatch, bukan jam tangan. Stopwatch-nya spesial perlengkapan dari Amerika. Saya melihat sampai saya laporan itu 2 menit 49 detik," katanya mengenang.

Ketika melihat stopwatch yang ada, dia pun kaget lantaran waktunya yang begitu singkat. Letkol Untung ketika itu senang karena merasa telah memecahkan rekor dunia. "Ini benar? Kalau begitu saya juara dunia," ujarnya dengan wajah sumringah.

Baca Juga:  Pikap Modifikasi Ekstrem Curi Perhatian di Jalanan

Saat operasi pembebasan, dirinya bertugas sebagai Komandan tim dan hanya membawa enam prajurit yang dibagi dalam tiga bagian yakni depan, tengah, dan belakang. Di mana masing-masing bagian terdiri dari dua prajurit.

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari