Jumat, 20 Maret 2026
- Advertisement -

Harga Naik tapi Buah Trek

RENGAT (RIAUPOS.CO) — Petani kelapa sawit dalam wilayah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) seharusnya dapat berlega hati. Pasalnya, harga tanda buah segar (TBS) mengalami naik dari sebelumnya.

Hanya saja, di balik adanya harga TBS naik, tidak sebanding dengan hasil panen. Sebab sejak beberapa bulan ini, produksi kebun kelapa sawit warga menurun akibat masa trek. "Masa trek ini akan berlangsung tiga hingga empat bulan ke depan," ujar Masyrullah yang juga Wakil Ketua DPRD Kabupaten Inhu, Rabu (15/4).

Akibat masa trek tersebut, warga tidak merasakan adanya harga TBS naik. Karena dari hasil panen saat ini, hampir separuh hilangnya dibanding dalam kondisi normal.

Biasanya untuk lahan satu kapling, hasil panen warga dapat mencapai dua ton, satu kali panen. Namun saat ini, hasil panen warga dari lahan tersebut hanya mencapai satu ton dan ada di antaranya 1,2 ton per satu kali panen. "Rata-rata hampir separuh hasil panen warga berkurang akibat masa trek,” ungkapnya.

Baca Juga:  Grab Bagikan Ratusan Paket Makanan untuk Nakes

Apalagi sebutnya, kenaikan harga TBS pada periode ini hanya berkisar antara Rp10 hingga Rp15 per kilogram. Seperti saat ini, TBS untuk usia tanam tujuh tahun, seharga Rp1.750 per kilogram.

Dengan kondisi yang ada, warga belum bisa berbuat banyak. Apalagi untuk menjaga ketersediaan pupuk yang harus dilakukan secara rutin. "Dalam waktu dekat sudah memasuk bulan puasa Ramadan ditambah lagi di masa pandemi corona, berbagai kebutuhan harian mulai naik," ucapnya.

Untuk itu, imbaunya, selama masa trek ini hendaknya warga terus melakukan panen secara rutin. Karena apabila buah tidak dipanen, juga akan berpengaruh kepada hasil panen berikutnya. "Ada di antara warga mulai enggan memanen, karena hasilnya tidak seimbang," terangnya.(kas)

Baca Juga:  Ketua Kadin Bengkalis Berharap Koperasi PWI Bisa Eksis Kembali

RENGAT (RIAUPOS.CO) — Petani kelapa sawit dalam wilayah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) seharusnya dapat berlega hati. Pasalnya, harga tanda buah segar (TBS) mengalami naik dari sebelumnya.

Hanya saja, di balik adanya harga TBS naik, tidak sebanding dengan hasil panen. Sebab sejak beberapa bulan ini, produksi kebun kelapa sawit warga menurun akibat masa trek. "Masa trek ini akan berlangsung tiga hingga empat bulan ke depan," ujar Masyrullah yang juga Wakil Ketua DPRD Kabupaten Inhu, Rabu (15/4).

Akibat masa trek tersebut, warga tidak merasakan adanya harga TBS naik. Karena dari hasil panen saat ini, hampir separuh hilangnya dibanding dalam kondisi normal.

Biasanya untuk lahan satu kapling, hasil panen warga dapat mencapai dua ton, satu kali panen. Namun saat ini, hasil panen warga dari lahan tersebut hanya mencapai satu ton dan ada di antaranya 1,2 ton per satu kali panen. "Rata-rata hampir separuh hasil panen warga berkurang akibat masa trek,” ungkapnya.

Baca Juga:  Jelang Idulfitri, BSI Sediakan Uang Tunai Rp11,09 Triliun

Apalagi sebutnya, kenaikan harga TBS pada periode ini hanya berkisar antara Rp10 hingga Rp15 per kilogram. Seperti saat ini, TBS untuk usia tanam tujuh tahun, seharga Rp1.750 per kilogram.

- Advertisement -

Dengan kondisi yang ada, warga belum bisa berbuat banyak. Apalagi untuk menjaga ketersediaan pupuk yang harus dilakukan secara rutin. "Dalam waktu dekat sudah memasuk bulan puasa Ramadan ditambah lagi di masa pandemi corona, berbagai kebutuhan harian mulai naik," ucapnya.

Untuk itu, imbaunya, selama masa trek ini hendaknya warga terus melakukan panen secara rutin. Karena apabila buah tidak dipanen, juga akan berpengaruh kepada hasil panen berikutnya. "Ada di antara warga mulai enggan memanen, karena hasilnya tidak seimbang," terangnya.(kas)

Baca Juga:  All New Terios Hadir di GIIAS 2021
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

RENGAT (RIAUPOS.CO) — Petani kelapa sawit dalam wilayah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) seharusnya dapat berlega hati. Pasalnya, harga tanda buah segar (TBS) mengalami naik dari sebelumnya.

Hanya saja, di balik adanya harga TBS naik, tidak sebanding dengan hasil panen. Sebab sejak beberapa bulan ini, produksi kebun kelapa sawit warga menurun akibat masa trek. "Masa trek ini akan berlangsung tiga hingga empat bulan ke depan," ujar Masyrullah yang juga Wakil Ketua DPRD Kabupaten Inhu, Rabu (15/4).

Akibat masa trek tersebut, warga tidak merasakan adanya harga TBS naik. Karena dari hasil panen saat ini, hampir separuh hilangnya dibanding dalam kondisi normal.

Biasanya untuk lahan satu kapling, hasil panen warga dapat mencapai dua ton, satu kali panen. Namun saat ini, hasil panen warga dari lahan tersebut hanya mencapai satu ton dan ada di antaranya 1,2 ton per satu kali panen. "Rata-rata hampir separuh hasil panen warga berkurang akibat masa trek,” ungkapnya.

Baca Juga:  Mitsubishi Motors Pameran di Mal Living World Pekanbaru

Apalagi sebutnya, kenaikan harga TBS pada periode ini hanya berkisar antara Rp10 hingga Rp15 per kilogram. Seperti saat ini, TBS untuk usia tanam tujuh tahun, seharga Rp1.750 per kilogram.

Dengan kondisi yang ada, warga belum bisa berbuat banyak. Apalagi untuk menjaga ketersediaan pupuk yang harus dilakukan secara rutin. "Dalam waktu dekat sudah memasuk bulan puasa Ramadan ditambah lagi di masa pandemi corona, berbagai kebutuhan harian mulai naik," ucapnya.

Untuk itu, imbaunya, selama masa trek ini hendaknya warga terus melakukan panen secara rutin. Karena apabila buah tidak dipanen, juga akan berpengaruh kepada hasil panen berikutnya. "Ada di antara warga mulai enggan memanen, karena hasilnya tidak seimbang," terangnya.(kas)

Baca Juga:  Indonesia Berpotensi Memproduksi Lokal Suzuki Jimny

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari