Categories: Nasional

Dari Aroma Durian sampai ‘‘Makan Besar’’ Parkir

Selalu ada cerita dari setiap kegiatan. Event Gerhana Matahari Cincin (GMC) yang ada di Bunsur, Kecamatan Sungai Apit, Siak, meninggalkan kisah tentang perjuangan warga untuk bisa sampai ke lokasi GMC. Juga bagaimana warga melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kendaraan yang parkir sebanyak-banyaknya.

Laporan MONANG  LUBIS, Siak

AROMA semerbak buah durian mengusik hidung saat melintasi Kampung Lalang dan Bunsur. Terutama ketika kaca pintu mobil diturunkan. Momen GMC benar-benar dimanfaatkan warga. Harga buah durian menjadi lebih bagus. Satu buah bisa mencapai Rp70 ribu sampai Rp80 ribu. Hal itu diungkapkan salah seorang pengunjung dari Pekanbaru.

“Tidak berani beli, tak terjangkau,” ungkapnya.

Ditanya kepada Rima, pedagang durian, dia menyebutkan berani jual mahal karena kualitasnya memang bagus dan tidak akan menyesal membeli durian dagangannya.

“Kami berani jual dengan harga tinggi karena rasanya memang enak,” ungkap Rima.

Di sisi lain, di tengah teriknya mentari, memasuki Kampung Bunsur, sejumlah pemuda sudah menawarkan parkir kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Padahal jarak ke lokasi GMC masih sekitar 1,5 kilometer.

“Parkir sini saja,  nanti diantar naik ojek,” ungkap Lukman, salah seorang pemuda pengurus parkir.

Ongkos ojek hanya Rp10 ribu. Sejumlah pengunjung percaya dan memilih parkir di tempat itu naik ojek. Sementara sebagian lainnya memilih berjalan kaki, karena dikatakan hanya 1 kilometer. Namun, saat ditelusuri, ternyata sekitar 1,5 km lokasi GMC. Tentu melelahkan bagi yang tidak biasa berjalan kaki. Terlebih berjalan kaki di tengah terik matahari.

Wanto dan keluarganya merasa tertipu, namun karena banyak yang berjalan kaki, mereka tetap bersemangat meski keringat membasahi tubuh mereka, sehingga membuat sangat tidak nyaman. Padahal di samping mereka, mobil dan sepeda motor banyak berseliweran dan pemuda yang menjadi juru parkir sangat banyak di kiri kanan jalan menawarkan jasa.

Belasan ribu kendaraan berada di kampung itu. Artinya warga yang hendak melihat GMC lebih banyak dari itu. Dan ternyata benar, belasan ribu orang tumpah ruah di lapangan Kampung Bunsur. Ada dua panggung dan di antaranya karpet hijau dengan luas sekitar 20 kali 20 meter yang digunakan untuk Salat Gerhana. Di sebelahnya ada tenda tempat duduk para pejabat dan tamu undangan.

Kacamata raksasa untuk melihat GMC, menjadi tontonan warga dan digunakan untuk berswafoto. GMC dimulai pukul 12.15 WIB dan paling sempurna pada 12.17 WIB, dan berakhir pada 12.19 WIB. Semua mata memandang ke langit menggunakan kacamata matahari. Suasana riuh berubah dengan lantunan doa dan salawat.***

 

Eka Gusmadi Putra

Share
Published by
Eka Gusmadi Putra

Recent Posts

Kasus Suap Jabatan Kuansing Naik ke Penuntutan, Dua Tersangka Segera Disidang

KPK menyerahkan Zulkarnain dan Ardiles ke jaksa dalam kasus suap jabatan Kuansing. Penyidikan masih dikembangkan…

12 jam ago

Dihadiri 5.133 Mahasiswa Baru, PBAK UIN Suska Riau Tekankan Kepemimpinan Muda

Sebanyak 5.133 mahasiswa baru UIN Suska Riau mengikuti PBAK 2026 dengan pembekalan kepemimpinan, karakter, integritas…

12 jam ago

Bakar Ranting Pakai Mancis, Warga Kampar Jadi Tersangka Karhutla 15 Hektare

Polsek Tambang menetapkan NU sebagai tersangka karhutla 15 hektare di Rimbo Panjang setelah penyidik menemukan…

12 jam ago

Pengendara Wajib Tahu! Akses Masuk Tol Pekanbaru-Dumai Resmi Berubah

Akses masuk Tol Pekanbaru-Dumai dialihkan ke Pintu Tol Bypass Pekanbaru mulai 28 Agustus 2026 karena…

12 jam ago

Bukan Sekadar Lomba, Pacu Sampan 17 Agustus di Sungai Apit Punya Cerita Sendiri

Pacu sampan Sungai Apit menjadi tradisi kemerdekaan yang menyatukan warga, menggerakkan UMKM, dan terus dijaga…

1 hari ago

Pemerintah Buka Peluang PPPK Guru Jadi ASN, Rohil Masih Tunggu Regulasi

Peluang PPPK guru menjadi ASN mendapat respons BKPSDM Rohil. Pemkab masih menunggu regulasi resmi sebelum…

1 hari ago