Categories: Nasional

Covid-19, Musibah atau Ujian

RAMADAN 1441 H kali ini berbeda dengan Ramadan sebelum-sebelumnya. Tahun ini, umat Islam berpuasa dalam situasi pandemi wabah Covid-19 yang melanda seluruh dunia. Banyak hal yang bisa diambil i’tibar dalam menghadapi musibah ini.Apakah wabah ini sebagai musibah (siksa) atau ujian bagi umat.

Merujuk Q.S. al-Baqarah: 83 terlihat jelas bahwa perintah puasa hanya untuk mereka yang beriman (ruh), tapi dilaksanakan secara syariat oleh fisik biologis (tubuh). Bila demikian, puasa yang benar adalah gabungan dimensi puasa tubuh dan ruh.

Bila yang melaksanakan puasa adalah gabungan antara tubuh dan ruh, maka ia akan bisa merasakan nikmatnya puasa bagi kesehatan tubuh dan memberi nutrisi pada ruh untuk membangun watak muttaqien yang sebenarnya. Puasa dimensi ini akan bisa melihat bahwa Covid-19 ini merupakan musibah yang mengandung nilai ujian. Sebab, baginya kedua nilai tersebut merupakan keniscayaan bagi semua makhluk. Hal ini merujuk pada Q.S al-Mulk : 2 bahwa: "(Allah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."

Keimanan vertikal akan membuahkan kesalehan horizontal (sosial). Kesalehan ini berbentuk amal konkret dalam kehidupan. Bila tak mampu beramal secara material (membantu keperluan sesama yang terpapar wabah), maka umat harus mampu beramal dengan cara membantu mengikuti upaya agar musibah bisa diselesaikan. Sadarlah, bahwa ini adalah kesempatan menikmati “hidangan kasih sayang Allah”. Mumpung kesempatan masih diberikan. Umur bagai es batu. Digunakan atau tidak digunakan, ianya pasti mencair dan habis.

Namun, ada pula yang memahami keliru, bahwa wabah yang ada tak akan dan tak perlu mengganggu aktivitas peribadatan mengisi Ramadan dan bisa dilaksanakan secara berjamaah. Umat tak perlu menjauhi masjid, tapi perlu mengimarahkannya. Sebab, persoalan ajal adalah rahasia Allah. Sikap ini lahir akibat motivasi agama yang tinggi, namun tak didasari oleh ilmu syariat yang mumpuni. Di sinilah perlunya ilmu yang benar bagi membangun kekokohan iman yang benar pula.

Tapi bagi yang berpuasa hanya batang tubuh, maka Covid-19 terasa sebagai musibah (siksa). Kebijakan social and physical distancing berakibat global bagi kehidupan. Puasa secara substansi adalah “menahan” dari sesuatu yang membatalkan, maka ketika musibah saat ini, puasa perlu dipahami secara luas sebagai menahan semua aktivitas guna memutus rantai Covid-19. Bila puasa dilakukan oleh batang tubuh, maka akan muncul pemberontakan akibat pembatasan ini. Sebab, batang tubuh sulit untuk dibatasi. Hanya tubuh yang dikawal oleh ruh, maka tubuh akan mampu dikawal secara bijak.

Dalam menghadapi pandemi saat ini, Covid-19 bisa menjadi musibah sekaligus ujian. Eksistensinya menjadi musibah bila dilihat dampak yang dimunculkan. Bila musibah, berarti akibat kejahilan manusia yang menanam kejahatan dan kezaliman di muka bumi. Ke depan, manusia perlu melakukan perubaan sikap pada kebajikan. Tapi bisa dilihat sebagai ujian agar manusia mengoreksi diri atas apa yang dilakukan atau mengukur kualitas keimanan selama ini. Sekaligus menjadi acuan bagaimana bersikap pada masa akan datang bagi menanam ladang kebaikan bagi generasi yang akan datang.

Sungguh Ramadan 1441 H di tengah pandemi Covid-19 menjadi timbangan diri. Bila setelah Ramadan 1441 H berlalu bersamaan sirnanya Covid-19 di muka bumi perubahan prilaku manusia tak mengalami perbaikan, maka sungguh diri nan zalim yang akan memancing laknat Allah lainnya. Namun, berbahagialah bila Ramadan tahun ini membuka mata zahir dan batin untuk memperbaiki diri guna mendatangkan nikmat Allah di muka bumi.

Semua pilihan ada. Hanya manusia yang bisa memilih secara bijak, tapi hanya hewan yang melakukan kejahatan yang sama apalagi tak punya rasa malu dalam dirinya. Wa allahua’lam bi al-Shawwab.***

Rindra

Share
Published by
Rindra

Recent Posts

Kasus Suap Jabatan Kuansing Naik ke Penuntutan, Dua Tersangka Segera Disidang

KPK menyerahkan Zulkarnain dan Ardiles ke jaksa dalam kasus suap jabatan Kuansing. Penyidikan masih dikembangkan…

22 jam ago

Dihadiri 5.133 Mahasiswa Baru, PBAK UIN Suska Riau Tekankan Kepemimpinan Muda

Sebanyak 5.133 mahasiswa baru UIN Suska Riau mengikuti PBAK 2026 dengan pembekalan kepemimpinan, karakter, integritas…

22 jam ago

Bakar Ranting Pakai Mancis, Warga Kampar Jadi Tersangka Karhutla 15 Hektare

Polsek Tambang menetapkan NU sebagai tersangka karhutla 15 hektare di Rimbo Panjang setelah penyidik menemukan…

22 jam ago

Pengendara Wajib Tahu! Akses Masuk Tol Pekanbaru-Dumai Resmi Berubah

Akses masuk Tol Pekanbaru-Dumai dialihkan ke Pintu Tol Bypass Pekanbaru mulai 28 Agustus 2026 karena…

22 jam ago

Bukan Sekadar Lomba, Pacu Sampan 17 Agustus di Sungai Apit Punya Cerita Sendiri

Pacu sampan Sungai Apit menjadi tradisi kemerdekaan yang menyatukan warga, menggerakkan UMKM, dan terus dijaga…

2 hari ago

Pemerintah Buka Peluang PPPK Guru Jadi ASN, Rohil Masih Tunggu Regulasi

Peluang PPPK guru menjadi ASN mendapat respons BKPSDM Rohil. Pemkab masih menunggu regulasi resmi sebelum…

2 hari ago