Categories: Nasional

Diktator Zimbabwe Robert Mugabe Berpulang

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Meninggalnya Robert Gabriel Mugabe menarik perhatian publik internasional. Banyak yang mengenang pria 95 tahun tersebut sebagai tokoh kemerdekaan Zimbabwe, bahkan Afrika. Namun, tak sedikit yang mengingat kekejian Mugabe sebagai salah seorang tiran terlama sedunia.

Presiden Zimbabwe Emmerson Mnangagwa memastikan kabar itu kepada media. Menurut dia, seniornya di Partai Zanu-PF tersebut mengembuskan napas terakhir di Singapura, Jumat (6/9) pukul 11.40 waktu setempat (10.40 WIB, red).

"Dia adalah simbol dari kemerdekaan untuk seluruh Afrika. Sosok yang mendorong emansipasi dan pemberdayaan masyarakat," ungkap Mnangagwa, menurut Agence France-Presse.

Padahal, Mugabe terus mengolok-olok Mnangagwa pada Pemilu Zimbabwe 2018. Mugabe tak terima dilengserkan partainya dan militer setahun sebelumnya.

Mendengar kabar itu, Mnangagwa langsung menyudahi kunjungannya di Afrika Selatan dalam rangka World Economic Forum Africa.

Kepala Lembaga Penelitian Southern African Political dan Economic Series Ibbo Mandaza menjelaskan, Mugabe sebenarnya sosok ikonik di Afrika. Dia duduk sejajar dengan Nelson Mandela dari Afrika Selatan, Julius Nyerere dari Tanzania, dan Joshua Nkomo dari Zimbabwe.

"Sayangnya, dia tak mundur teratur seperti Nyerere dan Mandela," ungkapnya.

Pria kelahiran 1924 itu mencuat di dunia politik setelah melakukan perlawanan terhadap pemerintah Rhodesia. Dia menganggap pemerintah tersebut hanyalah antek Kerajaan Inggris. Perlawanan tersebut mengakibatkan guru sekolah Katolik itu dipenjara pada 1964. Dia mendekam di penjara Rhodesia selama sepuluh tahun tanpa proses pengadilan.

Perlawanannya berbuah pada 1979. Satu tahun kemudian dia dipilih sebagai kepala negara. Sayangnya, dia lalu menggila.

Awal menjabat dia sudah memimpin gerakan Gukurahundi yang membunuh sekitar 20 ribu pembangkang. Pada 2000, dia menyita paksa lahan pertanian dari pemilik kulit putih. Pada 2008, dia menggunakan milisi untuk membungkam oposisi.

"Dia benar-benar seekor monster," ujar George Walden kepada BBC. Walden merupakan salah seorang negosiator Inggris dalam Lancaster House Agreement yang membebaskan Zimbabwe dari pemerintah Rhodesia.

Dia akhirnya kehilangan kekuasan pada 2017. Saat itu militer yang biasa menjadi penyokong terbesar akhirnya mengubah haluan. Mereka tak terima terhadap visi Mugabe untuk menjadikan istri keduanya, Grace, sebagai presiden Zimbabwe. Mereka menggulingkan Mugabe dan menempatkan Mnangagwa di kursi presiden.

Sumber : Jawapos.com
Editor : Rinaldi

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

HUT ke-242 Pekanbaru, Wako Agung Luncurkan Logo dan Uji Coba Bus Listrik

Wako Pekanbaru Agung Nugroho meluncurkan logo HUT ke-242 Kota Pekanbaru dan melepas uji coba bus…

16 jam ago

68 Petugas Sensus Ekonomi Siak Resmi Dikukuhkan, Bupati Afni Tekankan Integritas dan Kejujuran

Bupati Siak Afni Z mengukuhkan 368 petugas Sensus Ekonomi 2026 dan menegaskan pentingnya integritas serta…

17 jam ago

Karhutla Kembali Mengganas di Rupat, Dua Helikopter Water Bombing Diterjunkan

Karhutla kembali terjadi di Pulau Rupat, Bengkalis. Petugas gabungan dan dua helikopter water bombing terus…

17 jam ago

Sidang Korupsi Abdul Wahid, Saksi Sebut Dana Rp1 Miliar Dilaporkan Langsung ke Gubernur

Saksi mahkota Dani Nursalam mengaku melaporkan penerimaan dana Rp1 miliar dari Arief Setiawan kepada Abdul…

1 hari ago

Kasus Penyerangan Pekerja PT SBP, Korban Bertambah dan Pelaku Belum Ditangkap

Korban dugaan penyerangan terhadap pekerja PT SBP bertambah menjadi tiga orang yang dirujuk ke Pekanbaru,…

2 hari ago

Kejagung Bongkar Dugaan Korupsi MBG, Eks Kepala BGN dan Dua Wakilnya Ditahan

Kejagung menetapkan tiga mantan pimpinan BGN sebagai tersangka dugaan korupsi Program MBG dan langsung melakukan…

2 hari ago