Categories: Nasional

Vaksin Covid-19 Nanopartikel Dikembangkan

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Para ilmuwan terus me­ngembangkan kandidat vaksin Covid-19 dengan tingkat efektivitas dan keamanan yang terbaik. Sejumlah peneliti di Amerika Serikat mengatakan mereka telah mengembangkan kandidat vaksin Covid-19 nanopartikel. Dikatakan jauh lebih kuat daripada yang sedang diselidiki saat ini.

Dalam uji coba yang dilakukan pada tikus, tim dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington mengatakan vaksin nanopartikel ini memicu respons kekebalan 10 kali lebih kuat terhadap infeksi. Terlebih lagi, ini juga memicu respons sel memori yang kuat, di mana tubuh mengingat virus yang menyerang untuk menghasilkan antibodi yang lebih cepat jika terinfeksi.

Tim tersebut mengatakan vaksinnya tidak memerlukan penyimpanan freezer seperti yang dibuat oleh perusahaan lain. Sehingga membuat vaksin lebih mudah untuk diproduksi dan dikirim ke seluruh dunia. "Kami berharap platform dengan nanopartikel yang kami gunakan dapat membantu memerangi pandemi," kata Asisten profesor biokimia di Fakultas Kedokteran UW Dr Neil King, seperti dilansir dari Daily Mail, Selasa (3/11).

Partikel nano, baik alami maupun sintetis, meniru fitur struktural virus, yang seringkali berukuran nano. Hal ini mempermudah nanopartikel untuk membentuk ukuran dan bentuk reseptor virus.

Kandidat vaksin UW Me­dicine menampilkan 60 sa­linan domain pengikat reseptor virus corona, yang memungkinkan virus untuk merapat ke reseptor tubuh untuk masuk ke dalam sel. Tubuh kemudian akan dilatih untuk mengenali reseptor ini dan membangun antibodi untuk melawannya untuk mencegah infeksi di masa depan berakar.

Untuk penelitian yang dipublikasikan di jurnal Cell, tim menguji vaksin nanopartikel barunya pada tikus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vaksin menghasilkan antibodi penetral 10 kali lebih banyak. Antibodi berkembang secara alami untuk melawan infeksi. Bahkan ketika vaksin diberikan dengan dosis lima kali lipat lebih rendah, hasilnya tetap efektif.

Imunisasi juga menghasilkan respons sel B yang kuat, yang mengunci permukaan patogen yang menyerang untuk dihancurkan oleh sel kekebalan lainnya. Para peneliti mengatakan hasilnya dapat membantu melindungi orang dari infeksi oleh strain virus yang bermutasi. (das)

Laporan: JPG (Jakarta)

Rindra

Share
Published by
Rindra

Recent Posts

Ketua DPRD Kuansing Diperiksa KPK Selama 12 Jam, Kuasa Hukum Beberkan Materi Pemeriksaan

Ketua DPRD Kuansing Juprizal diperiksa KPK selama 12 jam terkait pelepasan kawasan hutan. Kuasa hukum…

16 jam ago

Jaksa KPK Tuntut Abdul Wahid 8,5 Tahun Penjara, Uraikan Dugaan Aliran Uang Rp2,4 Miliar

Jaksa KPK menuntut Abdul Wahid 8 tahun 6 bulan penjara dan mengungkap lima dasar tuntutan…

16 jam ago

Bupati Meranti Ingatkan Pilkades 2026 Jangan Sampai Picu Perpecahan

Bupati Kepulauan Meranti mengajak masyarakat menjaga persatuan saat Pilkades 2026 dan menyiapkan hadiah umrah bagi…

16 jam ago

Nelayan Korban Serangan Buaya di Rokan Hilir Meninggal Setelah Dirawat Intensif

Nelayan korban serangan buaya di Sungai Rokan meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat intensif. Korban…

16 jam ago

Tiga PKS di Rohul Masih Beli TBS Sawit di Bawah Harga Provinsi, Petani Diminta Lebih Selektif

Tiga PKS di Rohul masih membeli TBS sawit Rp2.850 per kg atau di bawah harga…

2 hari ago

Pelabuhan Penumpang Dumai Resmi Jadi Kawasan Non Tunai, Pembayaran ke Malaysia Kini Bisa Pakai QRIS

Pelabuhan Penumpang Dumai resmi menjadi Kawasan Non Tunai. Pembayaran gate pass hingga tiket ferry internasional…

2 hari ago