Categories: Nasional

“Bantu Kami Pak, Kapan Suami Kami Keluar…”

Hingga kini, lima orang warga Kenegerian Siberakun Kecamatan Benai, Kabupaten Kuantan Singingi, masih mendekam di tahanan Polres Kuansing. Asa keluarga pun menyeruak, berharap kepala keluarga mereka dibebaskan pascakonflik lahan masyarakat dengan perusahaan yang tak berkesudahan di wilayah Sungai Kuantan tersebut.

Laporan: Desriandi Chandra (Telukkuantan)

Mereka adalah, KA (45) Kades Siberakun, HA tokoh masyarakat, YH, ZA dan DA tokoh pemuda setempat. Mereka dituding menjadi provokator pecahnya keributan, 5 Mei 2020 lalu dengan sebuah perusahaan sawit yang beroperasi di Kukok, Benai. Sehingga satu unit excavator di bakar dan perusahaan rusak berat.

Kejadian itu, telah meninggalkan luka yang mendalam bagi pihak keluarga terutama istri-istri kelima warga yang di tahan ini. 

Jerit tangis mereka pun pecah dan tertahan, ketika mereka bertemu dengan tokoh masyarakat Kuantan Singingi Ir Mardianto Manan MT, didampingi Joni S Mundung mantan aktivis Walhi serta sejumlah tokoh muda Kuantan Singingi.

"Tolong bantu kami pak. Kapan suami bisa keluar Pak?" kata para istri-istri warga yang di tahan berkeluh kesah di Masjid Al Jihad Siberakun Benai, Kamis (2/7/2020) malam.

Rasanya pilu mendengar keluh kesah dan tangisan mereka, kata Mardianto Manan, Jumat (3/7/2020).

"Hingga subuh,kami mendengarkan keluh kesah mereka dan masyarakat Siberakun," ujarnya.

Di masjid itu, hadir ratusan warga lainnya. Bagi dirinya, ini sebuah yang memilukan. Suami mereka, adalah tulang punggung mereka, menafkahi anak-anak mereka. Tapi sekarang tidak ada lagi.

"Bayangkan kalau itu terjadi pada istri kita. Dan mereka terus menangis pada kami. Hati kami sangat iba. Tidaklah persoalan ini bisa dicari solusinya," ujarnya.

Bagi saya, nasib masyarakat seperti inilah yang harus di perjuangkan. Persoalan ini terjadi karena tidak tuntasnya konflik tanah Ulayat dengan perusahaan.

Dulu, sebut Mardianto Manan, masyarakat punya kawasan tanah ulayat dan hutan yang merupakan sumber mata pencaharian sehari-hari untuk hidup mereka bukan untuk kaya, hanya untuk penyambung hidup.

Persoalan ini mendapatkan tanggapan dari dua orang anggota DPRD Riau asal Kuantan Singingi, yakni H Marwan Yohanis dan Komperensi. Keduanya, pada saat sidang paripurna DPRD Riau, Kamis (2/7/2020), membentangkan spanduk aspirasi masyarakat Kenegerian Siberakun Kecamatan Benai.

"Ini adalah perjuangan kita, bukan perjuangan kami. Semoga Allah Swt  meridhoi ya," kata Marwan Yohanis. 

Editor: Eka G Putra

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

Kasus Suap Jabatan Kuansing Naik ke Penuntutan, Dua Tersangka Segera Disidang

KPK menyerahkan Zulkarnain dan Ardiles ke jaksa dalam kasus suap jabatan Kuansing. Penyidikan masih dikembangkan…

16 jam ago

Dihadiri 5.133 Mahasiswa Baru, PBAK UIN Suska Riau Tekankan Kepemimpinan Muda

Sebanyak 5.133 mahasiswa baru UIN Suska Riau mengikuti PBAK 2026 dengan pembekalan kepemimpinan, karakter, integritas…

16 jam ago

Bakar Ranting Pakai Mancis, Warga Kampar Jadi Tersangka Karhutla 15 Hektare

Polsek Tambang menetapkan NU sebagai tersangka karhutla 15 hektare di Rimbo Panjang setelah penyidik menemukan…

16 jam ago

Pengendara Wajib Tahu! Akses Masuk Tol Pekanbaru-Dumai Resmi Berubah

Akses masuk Tol Pekanbaru-Dumai dialihkan ke Pintu Tol Bypass Pekanbaru mulai 28 Agustus 2026 karena…

17 jam ago

Bukan Sekadar Lomba, Pacu Sampan 17 Agustus di Sungai Apit Punya Cerita Sendiri

Pacu sampan Sungai Apit menjadi tradisi kemerdekaan yang menyatukan warga, menggerakkan UMKM, dan terus dijaga…

1 hari ago

Pemerintah Buka Peluang PPPK Guru Jadi ASN, Rohil Masih Tunggu Regulasi

Peluang PPPK guru menjadi ASN mendapat respons BKPSDM Rohil. Pemkab masih menunggu regulasi resmi sebelum…

1 hari ago