Categories: Pekanbaru

Alat Kontrasepsi Jadi Prioritas Program KB

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Sebagai upaya pengendalian kuantitas penduduk melalui pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB), maka perlu terpenuhii keperluan alat dan obat kontrasepsi (Alokon) yang menjadi kegiatan prioritas di lapangan. Sehingga secara khusus BKKBN Riau menggelar Koordinasi Pengelola Alokon se-Provinsi Riau, Kamis (25/1).

“Kegiatan ini digelar dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan pengelola Alokon tingkat kabupaten/kota se-Provinsi Riau sehingga tercipta SDM berkualitas,” kata Kepala Perwakilan BKKBN Riau Mardalena Wati Yulia.

Dalam upaya penyediaan Alokon, katanya telah dilakukan perencanaan keperluan Alokon secara bersama-sama antara perwakilan BKKBN provinsi dan BKKBN pusat berdasarkan beberapa sumber data yang mencakup data konsumsi, pelayanan, kependudukan (demografi) serta target atau perkiraan permintaan masyarakat (PPM).

“Pengelola baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota selayaknya mampu mengelola ketersediaan Alokon secara baik terlebih dalam pendistribusiannya,” katanya.

Ia mengatakan manajemen rantai pasok merupakan suatu sistem pengelolaan yang dilakukan melalui pengelolaan logistik yang komprehensif dengan pendekatan siklus logistik. “Di antaranya seleksi produk, kuantifikasi, penyediaan/pengadaan, strategi intervensi logistik, distribusi, pergudangan dan pelayanan konsumen serta sistem informasi manajeman logistik,” ucapnya.

Sistem penyediaan/pengadaan Alokon Perwakilan BKKBN Riau selalu meggunakan sistem pengadaan barang dan jasa pemerintah melalui sistem e-Katalog sesuai dengan peraturan-undangan yang berlaku. Tahun 2024 dialokasikan Rp7 miliar lebih.

Dalam rangka, untuk mencakup ketersediaan Alokon hingga fasilitas kesehatan, maka saat ini BKKBN telah mengembangkan digitalisasi yang diberi nama Sirika.

Jika Sirika ini diimplementasikan dengan baik, maka akan dapat mengurangi beban kerja dalam gudang operasional secara keseluruhan (termasuk pencatatan dan pelaporan), sehingga menjadi lebih efisien.

Kemudian, kualitas data dan tingkat pelaporan akan meningkat sehingga mempercepat dan memperkuat akurasi dalam perhitungan kebutuhan Alokon untuk pelayanan masyarakat.

“Harapan kami ke depan, kepada pengelola Alokon di kabupaten/kota agar benar-benar menghitung jumlah permintaan Alokon secara akurat minimal untuk 6 bulan sekali atau setahun sekali dan sesuaikan dengan kemampuan daya tampung gudang alokon dan juga daya tampung tempat penyimpanan di fasilitas kesehatan, sehingga dari Perwakilan BKKBN Riau tidak berulang-ulang dalam mengirimkan Alokon ke Gudang OPDKB kabupaten/kota,” harapnya.

Secara khusus dihadirkan sejumlah sumber daya dalam kegiatan, termasuk dari Balai Besar Pengawasan Obat dan Minuman (BBPOM) Provinsi Riau, agar Alokon tidak kedaluarsa.(eca)

Redaksi

Share
Published by
Redaksi

Recent Posts

Antrean BBM Mengular di Bengkalis, Warga Rela Berjam-jam Demi Pertalite

Antrean panjang BBM terjadi di Bengkalis. Warga harus menunggu berjam-jam akibat stok terbatas dan tingginya…

11 jam ago

Proyek Tol Pekanbaru Dipacu, Wako Usul Nama Pendiri Kota untuk Pintu Tol

Wali Kota Pekanbaru tinjau progres tol dan usulkan nama pendiri kota untuk pintu tol. Proyek…

12 jam ago

RS Unri Terima Penghargaan dari Wali Kota, Siap Perkuat Layanan Darurat 112

RS Unri terima penghargaan dari Pemko Pekanbaru dan siap memperkuat layanan darurat melalui dukungan penuh…

12 jam ago

Tarif Parkir Rp15 Ribu, Jukir di Pekanbaru Langsung Dipecat!

Jukir di Pekanbaru diamankan setelah memungut tarif parkir Rp15 ribu. Dishub langsung memberi sanksi tegas…

12 jam ago

14 Ribu Siswa SMP di Pekanbaru Jalani TKA, Ini yang Perlu Diketahui

Lebih dari 14 ribu siswa SMP di Pekanbaru mulai mengikuti TKA. Ujian ini tidak menentukan…

13 jam ago

Kakek di Rohil Ditangkap, Diduga Cabuli Cucu Kandung

Kakek di Rohil ditangkap polisi, diduga cabuli cucu 14 tahun, kasus gegerkan masyarakat.

13 jam ago