Categories: Lingkungan

Mangrove Desa Bokor Mendunia, 13 Spesies Jadi Magnet Wisatawan

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) – Komitmen masyarakat Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, dalam menjaga kelestarian hutan mangrove terus membuahkan hasil. Melalui Kelompok Safar Wisata, berbagai upaya konservasi dilakukan untuk mempertahankan ekosistem pesisir sekaligus mengembangkan kawasan tersebut sebagai destinasi ekowisata berkelanjutan.

Langkah pelestarian yang dijalankan tidak hanya berfokus pada perlindungan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui sektor pariwisata. Kini, kawasan mangrove Desa Bokor mulai dikenal dan menarik perhatian wisatawan lokal hingga mancanegara.

Keindahan hutan mangrove yang membentang di sepanjang Sungai Bokor menjadi daya tarik utama. Pengunjung dapat menikmati suasana alami yang masih terjaga dengan menyusuri kawasan tersebut menggunakan sampan tradisional, sambil merasakan kesejukan udara dan ketenangan yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

Penggiat lingkungan yang juga anggota DPRD Kepulauan Meranti, Sopandi, mengatakan keberhasilan menjaga kawasan mangrove tidak terlepas dari kesadaran masyarakat yang sejak lama mempertahankan fungsi ekologis wilayah tersebut.

Menurutnya, hutan mangrove Desa Bokor merupakan aset lingkungan yang sangat berharga karena memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

“Kelompok Sadar Wisata bersama masyarakat terus berupaya menjaga kawasan mangrove agar tetap lestari. Kami ingin kawasan ini tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga manfaat ekonomi melalui pengembangan ekowisata yang bertanggung jawab,” ujar Sopandi, Sabtu (30/5).

Berdasarkan hasil identifikasi yang pernah dilakukan tim peneliti Fakultas Perikanan Universitas Riau, kawasan mangrove Desa Bokor memiliki sedikitnya 13 spesies mangrove yang tumbuh secara alami di sepanjang aliran sungai.

Spesies tersebut meliputi Rhizophora apiculata atau bakau putih, Rhizophora mucronata atau bakau hitam, Avicennia alba atau api-api, Xylocarpus granatum atau nyireh, Sonneratia alba atau pidada, Heritiera littoralis atau dungun, Scyphiphora hydrophyllacea atau cingam, Sonneratia ovata atau kedabu, Lumnitzera littorea atau sesop, Excoecaria agallocha atau bebetak, Bruguiera cylindrica atau ngadai, Acrostichum aureum atau piai, serta Nypa fruticans atau nipah.

“Jenis-jenis mangrove yang ada di Desa Bokor ini telah diidentifikasi langsung oleh tim peneliti dari Universitas Riau beberapa tahun lalu. Ini menjadi bukti bahwa kawasan kami memiliki kekayaan biodiversitas yang cukup tinggi,” katanya.

Sopandi menjelaskan, keberadaan mangrove memberikan banyak manfaat bagi lingkungan. Selain menjadi habitat berbagai jenis satwa, kawasan tersebut juga berfungsi sebagai tempat berkembang biak ikan dan udang, melindungi pantai dari abrasi, serta menyerap karbon yang membantu mengurangi dampak perubahan iklim.

Menurutnya, terjaganya kawasan mangrove selama ini turut menjaga kualitas lingkungan sekaligus menopang kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir.

“Dengan terjaganya hutan mangrove di Desa Bokor, ekosistem sungai dan pesisir juga tetap terpelihara. Banyak jenis ikan, udang, dan biota lainnya yang masih dapat berkembang dengan baik karena habitatnya tetap terjaga,” ungkapnya.

Ia menambahkan, salah satu fokus utama Kelompok Safar Wisata saat ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga hutan mangrove dari berbagai ancaman, seperti penebangan liar dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali.

Selain mempromosikan potensi wisata, kelompok tersebut juga aktif mengajak masyarakat menjaga kebersihan kawasan sungai serta mempertahankan vegetasi mangrove yang ada.

Menurut Sopandi, pendekatan konservasi berbasis masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan pelestarian mangrove di Desa Bokor. Dengan keterlibatan langsung warga, manfaat ekonomi dari sektor wisata dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan.

“Kami ingin masyarakat merasakan manfaat dari keberadaan mangrove sehingga tumbuh kesadaran bersama untuk menjaga dan melindunginya. Jika lingkungan terjaga, maka manfaatnya juga akan kembali kepada masyarakat,” ujarnya.

Potensi tersebut dinilai menjadi modal besar bagi Desa Bokor untuk terus berkembang sebagai kawasan ekowisata unggulan di Kepulauan Meranti. Letaknya yang berada di kawasan pesisir Selat Malaka menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan hutan mangrove yang masih alami.

Dengan kekayaan 13 spesies mangrove serta komitmen masyarakat dalam menjaga kelestariannya, Desa Bokor tidak hanya menawarkan wisata alam yang menarik, tetapi juga menjadi contoh nyata bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.(nda)

Redaksi

Recent Posts

Rumah Bulat dan Dua Kontrakan di Marpoyan Damai Ludes Terbakar, Motor Ikut Hangus

Kebakaran di Marpoyan Damai Pekanbaru menghanguskan rumah bulat, dua kontrakan, dan sepeda motor. Delapan unit…

13 menit ago

Razia Gabungan di Sudirman, 117 Kendaraan Langsung Ditindak

Sebanyak 117 kendaraan ditindak dalam razia gabungan di Jalan Sudirman Pekanbaru, termasuk truk ODOL dan…

2 hari ago

UHTP Sembelih 4 Sapi Kurban, Daging Dibagikan untuk Warga dan Karyawan

Universitas Hang Tuah Pekanbaru menyembelih empat sapi kurban pada Iduladha 1447 H dan membagikannya kepada…

2 hari ago

Puluhan Tahun Rusak, Jalan Pesisir di Rumbai Segera Mulai Dibangun

Jalan Pesisir di Rumbai yang puluhan tahun rusak segera diperbaiki. Anggaran pembangunan mencapai Rp11,8 miliar.

2 hari ago

Lonjakan Penumpang Roro Bengkalis Terjadi Jelang Libur Akhir Pekan dan Iduladha

Arus penyeberangan Roro Bengkalis meningkat jelang Iduladha. Pengendara motor bahkan harus antre hingga empat jam.

3 hari ago

Libur Iduladha, Masuk Wisata Danau Raja Rengat Gratis hingga 1 Juni

Pemkab Inhu menggratiskan tiket masuk, parkir, dan tempat jualan di Wisata Danau Raja Rengat selama…

3 hari ago