Categories: Ekonomi Bisnis

44 Ribu Hektare Sawit PalmCo di Riau Dikelola dengan Skema Organik

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – PTPN IV PalmCo melalui Regional III di Riau menargetkan optimalisasi pemanfaatan bahan organik dan penguatan penyerbukan alami hingga mencakup 44.000 hektare kebun pada 2026. Luasan itu setara lebih dari 60 persen total areal yang dikelola entitas yang sebelumnya dikenal sebagai PTPN V.

Komitmen tersebut menjadi bagian dari strategi efisiensi dan penguatan praktik perkebunan berkelanjutan. Rencana ini dituangkan dalam penandatanganan rencana kerja operasional Regional III tahun 2026 yang digelar manajemen regional di Pekanbaru.

Fokus utama diarahkan pada perluasan aplikasi pupuk organik berbasis produk samping pabrik kelapa sawit (PKS) serta peningkatan populasi serangga penyerbuk alami kelapa sawit.

Data internal perusahaan menunjukkan, aplikasi pupuk organik ditargetkan menjangkau 17.539 hektare pada 2026. Sementara penguatan populasi dan agresivitas serangga penyerbuk alami, elaeidobius kamerunicus, direncanakan mencakup 26.553 hektare.

Region Head PTPN IV Regional III, Bambang Budi Santoso, mengatakan optimalisasi produk samping seperti tandan kosong (tankos), solid, dan abu janjang diarahkan untuk memperbaiki struktur serta kesuburan tanah, sekaligus menekan ketergantungan pada pupuk kimia.

Menurutnya, rencana aplikasi pupuk organik tahun ini mencapai 17.539 hektare, yang mencakup tankos seluas 5.338 hektare, solid 992 hektare, serta abu janjang dan produk samping lainnya yang didistribusikan secara proporsional di kebun inti.

Strategi tersebut tidak hanya menekan biaya input di tengah volatilitas harga pupuk, tetapi juga mendukung program pembangunan kualitas tanah (soil building) 2026. Distribusi bahan organik diperkuat melalui koordinasi kebun dan PKS, optimalisasi armada angkutan internal, serta skema swakelola untuk mengatasi hambatan distribusi.

Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan induk usaha yang mendorong efisiensi berbasis ekonomi sirkular, dengan memanfaatkan limbah padat dan cair sebagai sumber daya produktif.

Di sisi lain, penguatan penyerbukan alami menjadi strategi agronomis yang dinilai penting untuk menjaga stabilitas produktivitas. Pelaksana Tugas Kepala Bagian Tanaman Regional III, Zafri Yasser, menjelaskan perluasan pemanfaatan elaeidobius kamerunicus bertujuan mengoptimalkan proses penyerbukan.

Dengan penyerbukan yang baik, pembentukan buah menjadi lebih sempurna dan berdampak langsung pada produktivitas tandan. Program ini didukung pembangunan sarana penangkaran dengan sistem hatch and carry serta penanaman beneficial plant guna menciptakan habitat yang mendukung siklus hidup serangga penyerbuk.

Redaksi

Recent Posts

Setahun Agung–Markarius, Pekanbaru Berbenah Total dan Lebih Terarah

Setahun Agung–Markarius memimpin, Pekanbaru benahi infrastruktur, lingkungan, pendidikan hingga lunasi utang Rp470 miliar.

2 jam ago

Pemprov Riau Buka Posko THR, Perusahaan Wajib Bayar Paling Lambat 8 Maret

Pemprov Riau buka posko pengaduan THR. Perusahaan wajib bayar paling lambat 8 Maret 2026.

3 jam ago

Hukum Suntik Vaksin Meningitis saat Puasa Ramadan, Apakah Membatalkan?

memohon penjelasan: apakah diperbolehkan menjalani suntik vaksin meningitis pada siang hari dalam keadaan berpuasa?

3 jam ago

Penangkaran Walet Dikeluhkan, Lurah Siak Siap Koordinasi dengan Satpol PP

Warga Kampung Dalam Siak keluhkan suara bising penangkaran walet. Lurah telusuri izin dan siap gandeng…

3 jam ago

Puncak Arus Balik, Antrean Kendaraan Mengular di Dermaga Bengkalis

Arus balik Imlek 2577 di Pelabuhan Ro-Ro Bengkalis padat. Dishub siagakan empat kapal dan satu…

4 jam ago

Masih Buka Saat Ramadan, Sejumlah Kafe di Pelalawan Ditegur Keras

Satpol PP Pelalawan tegur keras sejumlah kafe di Pangkalankerinci yang masih beroperasi saat Ramadan.

6 jam ago