Categories: Ekonomi Bisnis

Asosiasi Maskapai Minta Relaksasi Biaya Airport

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) memberikan efek yang luas. Salah satunya, ikut menyerempet komoditas pertambangan hingga industri penerbangan. Pengusaha berharap pemerintah memperhatikan dampak jangka panjang karena biaya operasional industri berpotensi naik jika pelemahan mata uang Garuda berlanjut.

Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia atau INACA, misalnya, berharap pemerintah memberikan relaksasi. Contohnya, biaya airport. Sebab, komponen harga avtur sudah pasti akan naik dalam kondisi saat ini. Sebagai respons tingginya harga nilai tukar uang rupiah, ini bisa membantu industri airline tetap bisa survive,’’ ujar Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja, Selasa (2/7).

Menurut dia, selama ini maskapai telah berbicara dengan PT Pertamina (Persero) terkait harga avtur. Langkah itu dilakukan sebagai upaya untuk mencari jalan tengah atau mitigasi menghadapi anjloknya nilai rupiah. ‘’Kami juga mesti berdiskusi dengan kementerian terkait kira-kira relaksasi apa yang bisa diberikan. Karena ada perpajakan, ada insentif, kemudian harga avtur. Ini nanti bergantung kepada pemerintah,’’ katanya.

Di sisi lain, fluktuasi rupiah juga disorot pengusaha di sektor pertambangan. Plh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bauksit dan Bijih Besi Indonesia (APB3I) Ronald Sulistyanto menyatakan, pasar utama industri bauksit adalah dalam negeri. ‘’Sementara, sebagian besar komponen produksi dalam hitungan USD. Sehingga perusahaan-perusahaan ini yang akan menanggung (kenaikan biaya produksi dalam dolar AS, red),’’ tegas Ronald.

Apalagi, sambung Ronald, saat ini kondisi suplai dan demand bauksit disebut tidak berimbang. Akibatnya, saat ada kenaikan biaya operasional, pengusaha akan sangat berkeberatan. Kalau dalam waktu lama perusahaan tidak akan kuat menahan penguatan dolar AS. Melakukan efisiensi itu pasti, tapi itu kan proses. ‘’Kami berharap pemerintah melihat hal ini agar kebijakan-kebijakan yang ada sekarang bisa diperlunak,’’ tutur Ronald.

Sementara itu, pengusaha di sektor batu bara menilai bahwa dampak jangka panjang dari fluktuasi rupiah harus dapat diterjemahkan dengan baik oleh industri untuk meningkatkan TKDN (tingkat kandungan dalam negeri).

Direktur PT Bayan Resources Tbk Alexander Ery Wibowo menegaskan, pelemahan mata uang RI belum sampai mengganggu kontrak penjualan batu bara. ‘’Permintaan relatif stabil, kontrak ekspor juga tidak terganggu karena memang acuan practice-nya sudah disepakati lama atau long-term contract,’’ jelas pria yang akrab disapa Alex tersebut. (agf/dio/jpg)

Rindra

Share
Published by
Rindra

Recent Posts

Pengelolaan Aset Dinilai Produktif, UIN Suska Riau Sabet Penghargaan KPKNL

UIN Suska Riau meraih penghargaan Terbaik III Produktivitas BMN 2025 dari KPKNL Pekanbaru atas komitmen…

27 menit ago

Kasus Penembakan Gajah di Pelalawan Jadi Atensi Khusus Kapolda Riau

Polda Riau memburu pelaku penembakan gajah Sumatera di Ukui. Polisi menemukan proyektil peluru dan memeriksa…

3 jam ago

Didukung Alat Canggih, RSUD Arifin Achmad Sukses Lakukan Clipping Aneurisma

RSUD Arifin Achmad Riau berhasil melakukan tindakan clipping aneurisma pada pasien stroke usia 19 tahun…

4 jam ago

Pemko Pekanbaru Tegaskan Program Rp100 Juta per RW Tetap Dilaksanakan

Pemko Pekanbaru memastikan program Rp100 juta per RW tetap berjalan tahun ini dengan pola pengusulan…

4 jam ago

Kapolda Riau Tinjau TKP Gajah Sumatera Dibunuh, Tegaskan Negara Tak Boleh Kalah

Kapolda Riau meninjau TKP dugaan pembunuhan gajah sumatera di Pelalawan dan memastikan penyelidikan dilakukan serius…

21 jam ago

Tradisi Mandi Balimau 2026, Muara Lembu Disiapkan Jadi Lokasi Utama

Pemkab Kuansing merencanakan tradisi mandi balimau jelang Ramadan dipusatkan di Kelurahan Muara Lembu, namun masih…

21 jam ago