Categories: Ekonomi Bisnis

Wabah Corona Ganggu Impor Pangan

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Berdasarkan survei pemantauan harga (SPH), Bank Indonesia (BI) memprediksi inflasi pada bulan Februari mencapai 0,31 persen. Komoditas pangan menjadi penyumbang utama inflasi tersebut.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, angka inflasi tersebut lebih rendah dari bulan Januari. Yakni, 0.39 persen. Sementara itu, inflasi tahunan (year on year) diproyeksi mencapai 3,02 persen. Kenaikan harga bahan pangan menjadi penyumbang inflasi.

"Seperti bawang putih 0,1 persen, cabai merah 0,07 persen, dan beras menyumbang 0,02 persen," kata Perry di komplek BI usai salat Jumat (28/2).

Meski demikian, lanjut dia, ada komponen yang menyumbang deflasi. Antara lain, angkutan udara dan bawang merah. Masing-masing memberi andil 0,01 persen.

Dengan kondisi tersebut, pria 60 tahun itu yakin, inflasi tahun 2020 masih akan terjaga. Sesuai sasaran yang telah ditetapkan. "Ya tiga plus minus satu persen," ucap Perry.

Sementara itu, ekonom Josua Pardede menilai, situasi tersebut sudah siklus tahunan. Menjelang masa panen raya pada Maret hingga April, stok barang pangan mulai berkurang di pasaran. Suplai akan meningkat kembali ketika memasuki masa panen nanti. Artinya, harga komoditas pangan mulai turun bertahap.

Meski begitu, situasi cuaca belakangan ini tidak mudah. Hujan dengan intensitas tinggi turun. Bisa jadi akan menimbulkan banjir di beberapa daerah penghasil pangan. Jika memang demikian, akan mengganggu produksi.

"Makanya peran pemerintah untuk menyetabilkan harga. Bulog harus pro aktif. Melakukan investigasi di pasar. Agar tidak terjadi lonjakan harga dulu," kata Josua saat di Trans Luxury Hotel Bandung, kemarin. Biasanya, lanjut dia, jika harga beras turun, maka harga pangan lainnya mengikuti.

Meski begitu, memang ada beberapa produk yang produksinya masih kurang meski dalam masa panen. Termasuk bawang putih dan cabai merah. Mau tidak mau, harus tetap impor. Biasanya dari Cina. “Dengan adanya wabah Covid-19 tentu akan mengganggu kuantitas impor dari Cina," ujar pria yang juga menjabat Chief Economist Permata Bank itu.

Hal senada juga disampaikan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Angina Yudhistira. Dia mengatakan, meski angka inflasi rendah, tetap perlu waspada. Terganggunya impor bahan pangan dari Cina lantaran wabah virus corona. Khususnya bawang putih.

“Kenaikan harga bawang putih naik cukup signifikan di pasaran. Bahkan di DKI Jakarta hampir menembus 70 ribu per kg,” ungkap Bhima.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

Pemko Pekanbaru Pastikan Program Berobat Gratis UHC Tetap Berlanjut

Pemko Pekanbaru memastikan program berobat gratis UHC terus berlanjut dengan anggaran Rp111 miliar setelah tunggakan…

2 hari ago

Defisit APBN Bisa Nol, Menkeu Ingatkan Dampak ke Ekonomi

Menkeu Purbaya menyebut APBN bisa tanpa defisit, namun berisiko besar bagi ekonomi. Defisit 2025 dijaga…

3 hari ago

DPRD Pekanbaru Minta Satgas Tertibkan Kabel FO Meski Perda Belum Rampung

DPRD Pekanbaru mendukung Satgas Penertiban Kabel FO tetap bekerja meski perda belum disahkan demi keselamatan…

3 hari ago

ASN Terlibat Narkoba, Sekda Inhu Tegaskan Sanksi Tanpa Toleransi

Sekda Inhu menegaskan tidak ada toleransi bagi ASN yang terlibat narkoba dan mendukung penuh proses…

3 hari ago

Rekor Unggul, Jojo Siap Tempur Hadapi Kodai di Perempat Final Malaysia Open 2026

Jonatan Christie menjadi satu-satunya wakil Indonesia di perempat final Malaysia Open 2026 dan siap menghadapi…

3 hari ago

Kabar Baik, Gaji ASN dan PPPK Meranti Mulai Dibayar

Pemkab Kepulauan Meranti mulai mencairkan gaji ASN dan PPPK Januari 2026 serta tunda bayar 2024…

3 hari ago